Staycation With Boss

Staycation With Boss
Videocall ke London



Selang dua hari kemudian ketika tubuh Adista sudah lebih membaik, Raka terpikir bahwa dia memiliki janji dengan adiknya yaitu Rayyan. Dulu, Rayyan pernah berkata ingin diberikan kabar ketika kakaknya sudah memiliki bayi. Oleh karena itu, sekarang Raka berbicara terlebih dahulu kepada Adista bahwa dia ingin menghubungi Rayyan.


"Yang, aku mau videocall ke London boleh?"


"Hm, mau videocall siapa Mas?" tanya Adista.


"Kamu lupa bahwa kita punya janji. Kalau baby kita sudah lahir, kita akan melakukan videocall kepada Rayyan. Saat itu Rayyan berkata bahwa dia tidak akan bisa pulang ke Jakarta saat kamu bersalin nanti, tapi dia mengharapkan bahwa kita akan memberitahu dia," kata Raka.


Sekarang barulah Adista ingat dengan permintaan Rayyan dulu. Oleh karena itu, Adista kemudian menganggukkan kepalanya. Tidak masalah untuk menghubungi Rayyan yang berada di London.


Setelah Adista setuju, mulailah Raka mengambil handphonenya dan kemudian dia mulai menekan ikon video yang berarti adalah melakukan panggilan video. Panggilan video itu tersambungkan, hanya tinggal menunggu Rayyan untuk menerimanya. Beberapa detik kemudian, Rayyan barulah menerimanya.


"Halo, Ray," sapa Raka kepada adik bungsunya itu.


"Halo, Kak Raka. Tumben menghubungi aku?" tanya Rayyan dari London sana.


"Iya, kamu baru sibuk enggak? Gimana sehat?" tanya Raka.


Tampak Rayyan menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Enggak sibuk, Kak. Biasa aja. Aku sehat. Gimana kabarnya Kakak dan Kakak Ipar?"


Panggilan Rayyan untuk Adista juga sudah berubah. Sekarang, Rayyan memanggil Adista dengan sebutan kakak ipar. Raka juga tidak marah, justru ini lebih baik daripada Rayyan memanggil Adista dengan panggilan Tata.


"Kami juga sehat, Ray. Kamu sendirian atau bersama dengan Raline?" tanya Raka lagi.


"Harus sama Kak Raline enggak? Kalau harus dengan Kak Raline, aku turun dulu ke unitnya," balas Rayyan.


Memang Rayyan dan Raline tinggal di satu apartemen, hanya berbeda nomor unit saja. Rayyan tinggal di lantai sembilan, sementara Raline tinggal di lantai tujuh. Memang saran dari Papa Zaid demikian, supaya kedua anaknya yang tinggal di London bisa menjaga satu sama lain.


"Kalau tidak keberatan sama Raline sekalian boleh."


Rayyan menganggukkan kepalanya, dia akhirnya keluar dari unitnya. Sembari berjalan, dia masih membiarkan kamera handphonenya menyala setelah itu Rayyan menuruni anak tangga dan menuju ke lantai tujuh, tempat di mana unit Raline berada. Pemuda itu segera mengetuk pintu unit Raline sembari memanggilnya.


"Kak Raline, ini Rayyan, Kak ...."


Selang beberapa saat kemudian, yang membukakan pintu justru adalah Eiffel, sahabat kakaknya itu. Gadis cantik itu tampak menatap Rayyan sekilas. Sebab, tak biasanya Rayyan datang dengan membawa serta handphonenya.


"Kak Eif," sapa Rayyan sedikit lirih.


"Ya, Ray. Ada apa?"


"Kak Raline ada?"


"Ada, masuk aja."


Raka menunggu, tapi dari ucapan Rayyan yang terdengar melalui panggilan video agaknya bukan Raline sendiri yang membukakan pintu. Rupanya Raline sedang membuat Mie instans. Aromanya sangat sedap, Rayyan pun menuju ke dapur di unit kakaknya itu.


"Kak, aku mau juga dong," pinta Rayyan.


"Ini buat aku dan Eiffel. Kalau mau bikin sendiri. Tuh, banyak ada aneka rasa," balas Raline.


Rayyan cemberut jadinya. Dia padahal pengen minta mie yang sudah siap saji milik kakaknya. Sayangnya, Raline justru menyuruh Rayyan untuk membuat sendiri.


Akibat mie instans, Rayyan sampai lupa dengan videocall kakaknya. Kemudian Rayyan menyorotkan kamera, sehingga di layar sekarang terpampang wajahnya dan Raline.


"Kenapa sih, Ray?" tanya Raline dengan bingung.


"Ini loh, Kak ... dicari Kak Raka," balas Rayyan.


"Kakak, tumben sih videocall. Biasanya enggak pernah loh," kata Raline.


"Kalian baru bikin mie instans?" tanya Raka.


"Iya, Kak. Apalagi London mulai musim dingin. Mie kuah yang hangat enak banget, Kak. Cocok dimakan pas cuaca dingin," balas Raline.


Setelah itu, Raka kemudian berbicara lagi. "Jangan terlalu sering makan mie instans. Perut kalian bisa sakit."


"Ih, Kak Raka mirip Papa banget sih. Pesannya sama," balas Raline.


Setelah itu, Raka mengarahkan kamera kepada Adista yang sedang meminang Baby Qiana. Seketika Raline dan Rayyan menjadi heboh.


"Loh, keponakan sudah lahir?" tanya Raline dan Rayyan bersamaan.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, keponakan kalian sudah lahir. Sementara tidak ada Tante dan Om-nya di Jakarta."


"Wah, kami bahagia banget, Kak. Kak Dista selamat yah," kata Raline sekarang.


"Selamat Kakak Ipar," kata Rayyan.


"Makasih, makasih banyak yah," balas Adista.


Ketika mengatakan itu Raline diam-diam menepuk bahu Rayyan. Ini memang kabar baik dan bahagia, tapi Raline juga tahu kisah kasih tak sampai antara Rayyan dan Adista. Sebatas memberikan dukungan moral untuk Rayyan.


"I'm fine," balas Rayyan dengan menggerakkan bibirnya saja tanpa bersuara.


Raline kemudian mengangkat satu ibu jari tangannya. Tentu tindakan Raline dan Rayyan sengaja tak terekam kamera handphone. Tidak enak ketika Raka melakukan videocall.


"Keponakanku cantik atau cakep nih?"


"Tebakan kalian apa?" tanya Raka.


"Cowok," jawab Raline.


"Cowok," jawab Rayyan.


Raka kemudian menggelengkan kepalanya. Sebab, jawaban kedua adik adalah salah. Setelah itu, barulah Raka memberitahu jenis kelamin bayinya.


"Kalian salah. Baby kami perempuan," balas Raka.


Adista dan Raka kemudian tertawa. Senang saja memberikan kejutan untuk kedua adiknya. Selain itu juga membina silaturahmi juga tentunya.


"Lihat babynya, Kak," kata Rayyan.


Akhirnya sorot kamera sepenuhnya diarahkan kepada Baby Qiana. Raline dan Rayyan sangat senang jadinya. Bayi kecil kakaknya itu sangat cantik dan imut.


"Namanya siapa, Kak?" tanya Rayyan.


"Namanya Qiana, Om Ray."


"Wah, namanya secantik babynya. Hai, Qiana. Ini Om Rayyan, kamu cantik banget sih," balas Rayyan.


Sekarang Raline dan Rayyan senang bukan main melihat bayi kecil kakaknya. Rasanya nanti kalau pulang ke Indonesia ingin menggendong dan mencium Baby Qiana yang benar-benar cantik itu. Selain itu, Raline dalam hati memuji Rayyan yang bisa menjaga hatinya. Menurut Raline tandanya Rayyan sudah memulihkan hatinya. Tanda yang baik untuk Raka dan Rayyan, karena keduanya sudah kembali akrab satu sama lain. Tidak ada lagi rasa sungkan dan garis batas yang semula memang terjadi di antara kakak dan adiknya itu.