
Tak buru-buru untuk menyudahi perasaan yang indah ini, Raka masih nyaman memeluk Adista di sampingnya. Pun dengan Adista yang masih memeluk suaminya. Wanita itu masih memejamkan mata dengan wajah yang berada dekat dengan di dada bidang suaminya. Selain itu, ada tangan Adista yang masih melingkari pinggang sang suami.
"Maaf yah, Mas ... tadi aku nakal," kata Adista tanpa berani menatap wajah sang suami.
Sekarang, barulah Adista mengakui betapa nakalnya dia tadi. Bahkan Adista tak ragu melakukan apa yang selama ini tak pernah dia lakukan. Kilasan bayangan kejadian barusan membuat Adista malu dan sekarang meminta maaf kepada suaminya.
"Tidak usah minta maaf. Surprise banget buat aku. Sering-sering saja, Sayang. Aku tidak menolak kok. Justru aku senang banget melihat kamu seperti itu. Lain kali misalnya kamu pengen langsung serang aku aja," kata Raka.
Adista menggelengkan kepalanya. Sekarang barulah dia merasa malu. Tadi, Adista hanya mengikuti perasaannya saja. Perasaan yang benar-benar mencintai suaminya. Terlebih ketika Raka mengatakan langsung serang, Adista merasa malu rasanya.
"Terbawa perasaan aku tadi, Mas," balas Adista.
"Gak apa-apa. Aku tahu kalau kamu benar-benar cinta sama aku. Aku gak keberatan kok. Asalkan kamu menunjukkan semuanya hanya kepadaku saja," balas Raka.
Adista mengangguk perlahan. Wanita itu masih menikmati pelukan hangat suaminya. Entah, sekarang bersama Raka seperti ini rasanya hangat dan sangat nyaman.
"Kamu tidak memasang kontrasepsi atau sejenisnya kan?" tanya Raka kepada Adista.
"Tidak. Enggak pernah pasang begituan kok," jawab Adista.
"Ya sudah, bagus berarti. Aku pengen menjadi Papa, Sayang. Kamu masih muda, seumuran Rayyan. Kamu siap tidak hamil anakku?" tanya Raka tiba-tiba.
Menurut Raka memang istrinya itu masih muda, seumuran adiknya. Biasanya wanita muda akan memilih mengejar karirnya terlebih dahulu. Raka juga masih mengingat keinginan Adista untuk bekerja dan membantu keluarganya terlebih dahulu.
"Enggak keberatan kok. Kan bagaimana pun ketika kamu menggumuliku, harus siap dengan risiko untuk hamil. Cuma, aku resign dari kerjaan aja nanti, Mas," kata Adista.
"Resign gak apa-apa. Nanti aku aja yang ngasih untuk Bapak dan Ibu. Kamu jangan memikirkan hal-hal kayak gitu yang membebani diri kamu sendiri," kata Raka.
"Aku hanya tak mau, nanti kalau Mas Raka marah atau gimana, terus cek-cok dan menudingku memberi untuk orang tuaku dari uangnya, Mas," balas Dista.
"Enggak ah, gak bakalan kayak gitu," balas Raka.
"Manusia kan tempatnya salah, Mas. Kadang hari ini baik, belum tentu lain waktu baik juga. Suami ke istri juga begitu dan sebaliknya," balas Adista.
Mendengar apa yang Adista katakan, Raka menggelengkan kepalanya. Dia akan mengingat-ingat betul bahwa tidak akan cek-cok perihal finansial.
"Gak akan cek-cok masalah finansial kok. Kalau mungkin cek-cok karena mau nambah, Yang," kata Raka.
"Nambah apa?"
"Nambah jatahnya. Yang enak-enak," kata Raka dengan absurd.
Adista memukul dada suaminya itu. Geleng kepala sendiri dengan suaminya. Seakan-akan Raka sangat bersemangat tiap kali berhubungan seperti ini. Bahkan Raka juga kelihatan tidak ada capeknya.
"Kalau kamu mau menjadi Papa nanti gak boleh menyentuhku lama loh, Mas? Dipikirkan dulu, kamu siap enggak?"
"Siap kok," balas Raka cepat.
Raka akhirnya kembali tertawa. Akan tetapi, apa yang dikatakan Adista benar adanya. Kalau sampai empat puluh hari, bisa-bisa Raka mandi air dingin setiap malam.
"Kapan hari aku bertemu temanku, dia memilih anak dua perempuan. Selisih usianya tidak terlalu jauh, dua tahun dua kali hamil istrinya. Dia bercerita pulang kerja walau capek, tapi ada suara manis anak-anaknya yang menyambutnya. Ada wajah yang berseri-seri setiap kali Papanya pulang. Membayangkan semua itu, aku rasanya juga menginginkannya. Aku pengen menjadi Papa. Menggendong buah hati, bermain-main dengannya. Anak-anak yang melengkapi kehidupan pernikahan kita," balas Raka.
Ucapan Raka dan angannya seolah menunjukkan sisi lain seorang Raka Syahputra. Biasanya pria muda, businessman yang kaya raya seperti Raka memilih Child Free. Hidup tanpa anak, asal bahagia, pasti awet muda. Namun, Raka justru mengatakan dia ingin memiliki anak.
"Yah, doakan aja. Ada punya Mas Raka yang berhasil berenang-renang sampai ke ovum, biar jadi pembuahan. Aku juga gak keberatan sama sekali lagi. Aku mau mengandung benihnya Mas Raka. Buah hati kita," kata Adista.
"Iya, benar ... buah hati kita," balas Raka.
Sekarang Raka merasa lega. Adista juga tidak menolak. Istrinya juga mau hamil buah cinta mereka berdua.
"Harus lebih rajin, Yang. Apalagi kamu usai palang merah kan masa subur tuh. Harus sering-sering menabur benih ini di ladang yang halal," kata Raka.
Adista yang mendengar ucapan suaminya hanya geleng kepala sendiri. "Kamu gak ada bosennya yah, Mas?"
"Mana ada bosen. Yang ada nagih terus, mau terus. Setiap hari juga mau," balas Raka.
"Dasar."
"Dasar apa coba?"
"Udah deh, aku mau mandi, Mas. Lama-lama begini aku bisa ketiduran deh. Dosa nanti kalau enggak mandi junub usai berhubungan suami istri," balas Adista.
"Yuk, barengan aja," balas Raka dengan semangat.
"Gantian aja, nanti nakal lagi. Aku udah lemes loh, Mas," elak Adista sekarang.
"Masak baru sekali udah lemes. Dulu, kita Staycation di Lombok bertahan tiga kali sehari kok."
Raka tak menginginkan penolakan. Dia memilih turut memasuki kamar mandi bersama Adista. Alhasil mandi yang harusnya lima belas menit, baru selesai lebih dari satu jam. Keluar dari kamar mandi, Adista hanya mengenakan Bathrobe saja. Untuk berjalan, juga rasanya sudah tidak kuat, sehingga Raka yang sekarang menggendong istrinya itu ala bridal style.
Dengan hati-hati Raka membaringkan Adista di ranjang. Dia bahkan menyelimuti Adista. Setelah itu, Raka memunguti pakaian mereka sebelumnya. Merapikannya sebentar. Barulah Raka menaiki ranjang di sisi Adista.
Satu tangannya dia telisipkan di bawah kepala Adista sebagai sandaran. "Bobok, Sayang. Kamu lemes beneran?" tanya Raka lembut.
"Iya, lemes banget."
"Aku yang terlalu bersemangat. Mungkin juga usai berpuasa seminggu. Maaf yah," kata Raka.
"Gak apa-apa. Aku mau kok menjadi surga untuk suamiku, menjadi ladang pahala untukmu, Mas," jawab Adista.
Raka mengeratkan pelukannya dan menjatuhkan beberapa kali kecupan di kening Adista. Ada kalanya Raka juga bingung bahwa tubuhnya bereaksi begitu saja ketika bersama Adista. Namun, semua yang Raka lalui dengan Adista sangat indah. Seakan menenggelamkan dirinya dalam samudra yang seluruh airnya berisikan berkubik-kubik cinta. Walau begitu, Raka juga menginginkan buah hati yang melengkapi kehidupan rumah tangganya bersama Adista.