Staycation With Boss

Staycation With Boss
Masalah Membuat Ikatan Kuat



Bagi Raka sendiri apa yang baru dilalui dengan Adista barulah sangat indah. Seolah-olah dengan mata terpejam pun Raka bisa melihat kembang api dengan keliauannya yang menghiasi langit malam. Sekarang, Raka berguling di sisi Adista, seperti biasa pria itu segera membawa masuk Adista ke dalam pelukannya. Tidak lupa, Raka menarik selimut dan mengcover tubuh keduanya yang sama-sama dalam kepolosan mutlak.


Mempertahankan Adista dalam pelukannya, Raka memejamkan matanya. Andai Raka adalah pria bermulut manis dan banyak berbicara tentu semua rasa bisa Raka utarakan. Namun, lantaran pria itu mengakui tak pandai merangkai kata sehingga sekarang Raka merasa damai dengan memeluk Adista seperti ini. Walau begitu, Raka sesekali mengecupi puncak kepala istrinya itu.


"Sayang," panggil Raka. Tangannya berusaha mengusap perlahan lengan Adista yang tak tercover apa pun. Usapannya naik turun, Raka hanya ingin tadi baru saja terjadi tidak melukai buah hatinya.


"Hm, yah Mas ...."


"Jangan bobok, masih mandi dulu loh. Perut kamu sakit enggak?" tanya Raka kemudian. Tak hanya itu, tangan Raka mengusap perlahan perut istrinya.


"Aku baik-baik saja kok, Mas. Seperti biasa, jadi lemas," balas Adista dengan melingkari pinggang suaminya.


Raka tersenyum perlahan. Kenapa rasanya setiap kali usai bercinta, istrinya itu mengakui lemas. Gemas malahan Raka kepada istrinya itu.


"Aku ngelakuin apa sih, Yang ... masak tiap kali bercinta, kamu menjadi lemas. Padahal kamu yang memulai," kata Raka.


Adista tersenyum, dia kembali menggigit dada suaminya. Entahlah, yang pasti dia gemas dengan suaminya. Malu juga kala suaminya mengatakan bahwa Adista yang memulai. Raka pun mengaduh di sana.


"Yang, baru hampir sembilan minggu, ini kamu makin besar yah. Aku suka jadinya," kata Raka absurd dengan sengaja menyentuh bulatan indah milik istrinya.


"Nakal banget sih, Mas."


"Nakalnya juga cuma sama kamu kok, Sayang. Yang tahu aku luar dalam hanya kamu," balas Raka.


Adista menganggukkan kepalanya, dia kemudian mengurai pelukannya. Rasanya ingin mandi dan tidur. Sudah lemas dan lelah, daripada tidur dan belum membersihkan diri.


"Aku mandi duluan yah, Mas. Kok, jadi mengantuk sih," kata Adista.


"Mandi dulu, makan malam dulu. Jangan bobok. Kamu belum minum obat juga," balas Raka.


Akhirnya keduanya memilih sama-sama mandi terlebih dahulu. Kemudian Adista yang mengambili pakaian mereka yang berserakan di lantai, sampai ada kemeja dan dasi suaminya di dekat dapur. Kalau teringat tadi begitu panas, menjadi malu sendiri.


"Aku turun sebentar ya, Yang. Aku pesan makanan untuk kita," kata Raka.


"Iya, Mas."


Akhirnya Raka turun sebentar mengambil makanan yang dia pesan dari aplikasi miliknya. Hanya kurang lebih lima menit, Raka sudah kembali ke unitnya dengan membawa beberapa makanan yang dia pesan. Sementara di dalam unit, Adista sudah menyiapkan dua piring untuk keduanya.


"Makan dulu, Mamanya Dedek Bayi," kata Raka.


"Padahal aku sedang tidak berselera makan," balas Adista.


"Harus makan. Aku beli Ayam Asam Manis dan Kwetiau," kata Raka.


Akhirnya keduanya makan bersama di meja makan dengan makanan yang sudah dibeli Raka. Sesekali Raka juga menyuapi istrinya itu.


"Makan yang lahap, biar baby kita juga sehat," kata Raka.


"Iya, seneng. Wajahku pasti biasa aja kan? Aslinya aku seneng tahu," balas Raka.


Memang begitulah Raka, dia terlihat tenang bahkan bisa dikatakan minim ekspresi. Akan tetapi, Raka sebenarnya juga sangat senang. Hatinya sangat bahagia ketika mengetahui bahwa Adista kini tengah hamil. Mungkin bagi orang yang belum mengenal Raka dengan baik, akan mengira pria itu benar-benar dingin.


"Iya, wajah kamu biasa aja sih, Mas. Dingin kesannya," balas Adista.


Raka kemudian tersenyum tipis. "Hot padahal ... kalau sama kamu," balas Raka dengan menundukkan wajahnya.


Raka yang mencoba bercanda, wajah Adista malahan yang memerah sekarang mendengarkan perkataan suaminya itu. Ya, kalau Adista bisa berkata jujur, suaminya itu memang begitu kalau sudah di fase yang berbeda. Sisi lain seorang Raka yang tentunya hanya diketahui oleh Dista.


"Sayangnya, banyak banget masalah di rumah tangga kita ya, Mas," kata Adista. Sekarang wanita itu menghela napas, menatap makanan di hadapannya pun seakan membuang selera makannya.


"Kata Mama, masalah dalam rumah tangga itu bisa membuat ikatan semakin kuat. Jadi, semoga saja ikatan kita berdua bisa semakin kuat."


"Ada dua sisi sih, Mas. Bisa saja rumah tangga menjadi goyah. Sebab, tak jarang orang ketiga bisa membuat rumah tangga goyah bahkan hancur. Yang lainnya, adalah kita mencari solusi bersama dan terus mempertahankan rumah tangga kita," balas Adista.


"Kalau aku akan berusaha untuk terus mencari solusi dan mempertahankan rumah tangga kita. Jangan membawa orang ketiga dalam rumah tangga kita," balas Raka.


"Walau ada yang berusaha mengusik dan menjadi orang ketiga?" tanya Adista.


"Ya, saudara ipar pun bisa menjadi orang ketiga, Sayang. Bagaimana lagi. Semua dikembalikan kepada pasangan suami dan istri. Ingin mengambil langkah seperti apa," balas Raka.


Adista terdiam, seolah sekarang dia sedang memikirkan sesuatu. Yang Raka katakan juga ada benarnya, termasuk saudara ipar pun juga bisa menjadi pihak ketiga. Banyak celah yang bisa dimanfaatkan untuk menggoyahkan rumah tangga.


"Sudah, jangan kepikiran. Kamu tahu aku, Yang. Tidak akan memberikan celah. Makan yah, kasihan baby kita. Dia juga butuh nutrisi dari apa yang dimakan Mamanya," kata Raka.


"Sebenarnya pengennya gak kepikiran, tapi pasti masih kepikiran. Tidak memungkiri, dia memang cantik sih, Mas," aku Adista.


Raka menggelengkan kepalanya. "Kamu lebih cantik, Yang. Jujur. Satu-satunya yang sukses membuat Raka menjadi gila," balasnya.


"Apaan sih, Mas," balas Adista.


"Serius. Yuk, makan lagi. Abis ini aku ambilin obat kamu. Yang, kamu pindah ke rumah kita enggak, atau nyaman di sini?" tanya Raka.


"Di sini sebulan lagi boleh enggak, Mas?" tanya Adista.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh, boleh aja kok. Rumah kita sudah jadi sepenuhnya. Bisa kita tinggalin. Nunggu kamu siap dan mau pindah ke sana saja. Ingat, jangan kepikiran banyak, jangan bad mood."


"Iya, aku akan berusaha. Risiko punya suami tampan susah deh," balas Adista dengan lirih.


"Hm, apa?" tanya Raka yang begitu mendengar.


"Gak apa-apa," balas Adista dengan menggelengkan kepalanya.


Orang berkata memiliki suami tampan, kaya raya, dan profesi sebagai Direktur Utama memang terlalu berisiko. Banyak wanita yang pastinya melirik suaminya. Tak jarang, wanita juga datang dari masa lalu. Walau begitu, Adista juga berharap bahwa kehidupan pernikahannya akan semakin kuat dengan Raka.