
Setibanya di London, Eiffel dan Raline menempati apartemen yang sama. Keduanya hanya berbeda unit saja. Bahkan unit mereka berdua berada di satu lantai. Katanya, supaya mereka bisa menghabiskan waktu bersama ketika selesai kuliah.
Sebab, Raline dan Eiffel sebenarnya satu tipe. Tidak menyukai hang out. Keduanya lebih memilih bersantai di unit dan sesekali menonton film atau drama korea bersama. Walau hidup di luar negeri keduanya sama seperti anak-anak di Indonesia pada umumnya yang tidak menyukai keramaian.
Sekarang di unit yang tempati Raline, keluarga Syahputra beristirahat terlebih dahulu. Kecapekan juga setelah dua jam perjalanan dengan kereta, masih dilanjutkan dengan perjalanan menuju unit. Tiba di unit, mereka bergantian untuk mandi. Supaya mereka lebih segar dan juga capeknya hilang.
Usai itu, Mama Erina menyeduh teh. Mama Erina memang sengaja membawa Teh dari Indonesia. Budaya minum teh yang kental dan beraroma melati tak bisa ditinggalkan oleh Mama Erina. Sehingga, kemana pun Mama Erina pergi pastilah dia akan membawa teh yang diproduksi langsung oleh pabrik milik ayahnya di Lembang.
"Ngeteh, Pa ...."
Papa Zaid menganggukkan kepalanya. Dia meminum perlahan, menikmati teh hasil perkebunan mertuanya yang memang enak itu. Rasanya tidak berubah berubah. Sejak Papa Zaid mencoba teh dari perkebunan teh milik keluarga Mama Erina.
"Tadi Papa melihat Rayyan yang bantuin Eiffel enggak?" tanya Mama Erina.
"Iya, tadi Papa melihat Rayyan yang bantuin Eiffel. Mama yang menyuruhnya yah?" tanya Papa Zaid.
Mama Erina kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, tadi Mama yang menyuruh Rayyan untuk bantuin Eiffel."
"Lain kali coba jangan disuruh, Ma. Biarkan saja, kepekaan itu tumbuh bukan karena disuruh, Ma ..., tapi tumbuh dengan sendirinya," balas Papa Zaid.
Itu adalah pendapat dari Papa Zaid. Papa Zaid mengatakan demikian karena menginginkan Rayyan peka. Memahami perasaannya sendiri. Kalau pada dasarnya sudah ada kepekaan, nanti Rayyan akan berinisiatif sendiri. Tidak perlu disuruh-suruh oleh orang lain.
"Baik, Pa. Mama tidak akan melakukannya lagi," balas Mama Erina.
"Memang kedua keluarga sudah ada pembicaraan, Ma. Akan tetapi, alangkah lebih baik untuk tidak ikut campur. Ingat dengan ucapan orang tuanya Eiffel, kalau memang nantinya akan berjodoh tetap akan bersatu. Orang tua mendekatkan boleh, tapi tidak usah berbuat terlalu banyak," balas Papa Zaid.
"Jadi, tadi Mama udah salah yah, Pa?" tanya Mama Erina.
Papa Zaid kemudian tersenyum. Kalau menghakimi pasangannya itu bukan tipe Papa Zaid. Akan tetapi, Papa Zaid lebih suka berdiskusi dan meminta Mama Erina untuk instropeksi diri.
"Menurut Mama bagaimana?" tanyanya.
"Hm, menurut Mama sih ya sepenuhnya tidak salah sih. Mama hanya ingin membangkitkan kepekaan diri Rayyan. Setelah itu, Mama kan juga tinggalin Rayyan. Juga, Mama enggak memaksa. Hanya menyarankan untuk membantu aja," balas Mama Erina.
Papa Zaid akhirnya tersenyum dan mengangguk perlahan. "Iya-iya, Mama. Namun, jangan lakukan lagi yah. Biarkan saja."
"Baik, Papa. Mama akan berusaha untuk tidak ikut campur. Terima kasih, Pa. Semoga saja Rayyan bisa segera menyelesaikan masalah hatinya. Tidak akan berlarut-larut. Semakin cepat mengikhlaskan Adista, akan semakin baik juga untuk Rayyan."
Mama Erina dan Papa Zaid sudah berdiskusi bersama. Semoga saja apa yang mereka harapkan akan segera terwujud. Tidak ada lagi cinta segitiga di antara anak-anaknya.
...🍀🍀🍀...
Kembali ke Jakarta ....
Petang ini di Jakarta, Raka mengajak Adista ke salah satu mall yang ada di Jakarta. Bukan tanpa sebab, tapi Adista menginginkan untuk membeli sprei baru untuk ranjang mereka. Bahkan permintaan Adista sangat spesifik yaitu menginginkan sprei dengan motif bunga-bunga. Sehingga sekarang Raka mengajak istrinya ke Homeware.
"Beneran pengennya sprei motif bunga-bunga, Sayang?" tanya Raka.
"Iya, pengen tuh, Mas. Aku juga bingung bisa sepengen ini. Mas Raka keberatan yah?" tanya Adista.
"Jujur aja, Mas ... kalau keberatan, aku gak usah beli aja kok. Daripada Mas enggak nyaman nanti," balas Adista.
"Biasa aja sih. Walau aku gak pernah memakai sprei bunga-bunga sebelumnya. Lebih suka yang satu warna aja sih, tanpa motif. Semua sprei di unit apartemen dulu kan begitu, Yang," jawab Raka.
Adista terdiam, dia seakan mengurangkan niatnya untuk membeli sprei. Sebab, jawaban suaminya itu seakan mengindikasikan bahwa Raka tidak begitu suka. Sebab, Raka hanya mengenakan sprei tanpa motif dan satu warna saja.
Akhirnya Adista memilih mengurungkan niatnya saja. Keinginan yang dia miliki hanya akan membuat suaminya tidak nyaman selain itu, Adista juga tahu bahwa rumah itu milik suaminya. Dia lebih takut membuat suaminya tidak nyaman.
"Hm, gak jadi aja deh, Mas," balas Adista.
"Loh, kenapa emangnya? Kan sudah mau sampai."
Raka menatap istrinya itu dan bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Adista mengurangkan niatnya untuk membeli sprei. Apalagi mereka sudah di mall, tidak berjalan kaki menuju ke bagian Home Ware saja. Namun, tiba-tiba Adista tidak ingin lagi membeli sprei itu.
"Enggak apa-apa kok. Tiba-tiba enggak pengen. Kita pulang saja," balas Adista.
Raka menjadi terdiam. Seketika dia berpikir apakah ada salahnya tadi. Entah itu salah bicara atau apa, sehingga tiba-tiba Adista tidak lagi ingin membeli sprei lagi.
"Kamu marah sama aku?" tanya Raka kemudian.
"Enggak. Aku cuma enggak pengen aja kok. Pulang aja yuk, Mas."
Adista sudah berkata demikian dan menginginkan untuk pulang saja ke rumah. Gagal membeli sprei yang diinginkan pun tidak masalah untuk Adista. Dia akan berusaha untuk tidak merasa kecewa.
"Janganlah, Yang. Ayo, masak kali pertama kamu ingin sesuatu, terus enggak jadi beli," balas Raka.
Adista tersenyum. "Gak apa-apa kok."
Kala keduanya berdiskusi itu dan Adista memilih mengurungkan niatnya, kebetulan ada Natasha di sana. Seakan Natasha justru ingin memperkeruh suasana.
"Wah, ketemu sama Pangeran dan Upik Abu di sini," sapa Natasha dengan memandang rendah Adista seperti biasanya.
Menurut Natasha, bahkan Adista tidak memiliki selera fashion yang berkelas. Sebagai istri Direktur Utama La Plazza Hotel, Adista saat itu hanya mengenakan Floral Dress yang harganya tak begitu mahal dan flat shoes. Tas yang dijinjing Adista juga tas murahan bukan barang branded.
Raka menghela napas kasar. Dia baru berusaha mencari tahu kenapa istrinya berubah pikiran, tapi justru bertemu Natasha di sini.
"Pulang ya, Yang," ajak Raka demikian.
"Iya, Mas. Kan sejak tadi aku juga udah ngajakin pulang," balas Adista.
Natasha rupanya sayup-sayup mendengar apa yang dibicarakan Raka dan Adista sebelumnya sehingga sekarang, Natasha pun turut berkomentar.
"Kasihan deh Upik Abu, hamil pengen sprei bunga-bunga. Ngidam kamu seleranya enggak banget. Pria keren seperti Raka mana mau tidur di sprei bunga-bunga yang murahan kayak gitu," balas Natasha.
Barulah sekarang Adista merasa hatinya bagai dicubit. Sebab, dia memang menginginkan sprei bunga-bunga itu karena mengidam. Rasa ingin itu datang dengan sendirinya. Akan tetapi, Adista menyadari juga suaminya tak akan mau dan tidak nyaman dengan apa yang dia inginkan sekarang. Sehingga, Adista rela menekan keinginannya sendiri. Mengurungkan niatnya untuk tidak membeli apa yang dia inginkan.