
Tanpa Raka ketahui kala Raka menggandeng tangan Adista untuk pergi dari Natasha, ada seorang petugas cleaning servis di hotel yang mengetahui. Sehingga pegawai itu berspekulasi yang tidak-tidak. Sebab, tidak mungkin seorang Boss besar La Plazza Hotel menggandeng pegawainya sendiri. Terlebih di sana jelas-jelas ada Natasha yang lebih cantik dan tentunya berkelas. Di pandangan orang lain saja juga semua setuju kalau Raka lebih serasi dengan Natasha.
Petugas cleaning servis dengan nametag Novi itu dengan mulut embernya mulai menceritakan apa yang dia lihat kepada beberapa pegawai yang lainnya.
"Eh, barusan aku melihat Mr. Raka menggandeng tangan Mbak Adista loh. Yang staff office itu. Mungkinkah Mr. Raka ada hubungan sama Mbak Adista yah?"
"Hati-hati kalau bicara, Nov. Yang sedang kamu bicarakan itu Si Boss loh," balas Aulia seorang staff yang lain.
"Eh, serius. Orang tadi ada wanita cantik nyariin Mr. Raka, tapi si Boss malahan menolak dan mengajak pergi Mbak Adista kok."
Layaknya sebuah gosip atau kabar miring, berawal dari satu mulut, dengan cepatnya menyebar ke orang lain. Si Boss pun diduga memiliki skandal dengan pegawainya sendiri. Walau begitu, Raka dan Adista belum tahu, karena Raka membawa Adista ke ruangannya.
"Sayang, aku bisa menjelaskan," kata Raka yang hendak menjelaskan kepada Adista lagi.
Adista menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu menjelaskan apa-apa kok, Mas. Aku sudah mendengarkan kok. Mas tidak bersalah di sini," balas Adista.
Raka merasa begitu lega. Ketika dia hendak memberikan penjelasan panjang dan lebar, rupanya Adista tidak membutuhkan penjelasan. Bahkan Adista bisa mengambil kesimpulan bahwa suaminya tidak bersalah.
"Kupikir kamu akan marah. Aku benar-benar tidak menemuinya. Aku baru saja keluar dari ruanganku, Kamu tahu, sering kali aku keluar jam segini, aku sekadar ingin melihat kamu," jelas Raka.
Adista menganggukkan kepalanya di sana. "Aku tahu. Iya, aku juga tahu kebiasaan kamu itu. Terima kasih sudah membuktikan perkataanmu. Hanya saja, aku sedikit sebal," balas Adista.
Raka menatap wajah istrinya itu, menerka apa yang sebenarnya membuat Adista sebal. Namun, Raka adalah pria yang peka dengan cepat dia bisa menemukan jawabannya.
"Pasti, karena dia memelukku tadi?"
"Iya, itu. Gak sopan banget, main peluk suami orang," balas Adista dengan manyun.
Raka malahan tersenyum, dia senang sekali melihat kecemburuan istrinya itu. Raka kemudian mengambil satu langkah dan segera memeluk Adista dengan begitu erat. "Aku senang melihat kamu cemburu," aku Raka dengan jujur.
"Iya, aku cemburu. Aku gak suka. Aku menjadi egois kan Mas? Aku hanya menginginkan kamu hanya untukku," balas Adista.
"Ada keegoisan dalam cinta, Yang. Sangat wajar. Terima kasih sudah percaya, aku seneng banget. Seorang pria, seorang suami kalau dipercaya oleh istri sendiri rasanya sangat bahagia," aku Raka.
Raka mengungkapkan dengan jujur perasaannya, ketika seorang istri memberikan kepercayaan kepada suaminya sendiri rasanya melegakan. Dipercaya oleh istri membuat Raka bahagia. Sebab, pada awalnya memang Raka tidak menanggapi Natasha sama sekali.
"Kan aku sudah berkata akan percaya kepadamu, Mas. Sebisa dan semampuku," balas Adista.
Raka mengeratkan pelukannya, dia merasakan sangat lega. Di lain waktu, di lain kesempatan Raka akan selalu berusaha membuktikan ucapannya. Memberikan bukti secara nyata kepada Adista.
"Baiklah, Mas. Aku kembali ke ruanganku. Nanti kalau aku pergi terlalu lama dicariin yang lain," kata Adista.
"Baiklah, di apartemen nanti kita lanjut lagi yah. Aku pengen kamu nakal lagi, nakalin aku," balas Raka dengan tak jelas.
Adista tertawa perlahan dan mencubit dada suaminya. "Gak, nanti aku mau bobok cepat," balasnya.
"Mau lagi, Yang. Malam nanti yah," pinta Raka.
Adista mengurai pelukan suaminya itu kemudian pergi menjauh. Adista memilih segera kembali ke ruangannya, tidak enak kalau ada staff lain yang mencarinya. Turun dengan menggunakan lift, Adista masuk ke toilet dulu. Baru memasuki toilet, Adista mendengar beberapa orang di luar yang membicarakannya.
"Seriusan deh, tadi aku melihat Mr. Raka menggandeng tangan Mbak Adista kok."
"Wah, padahal mah cantikan teman wanitanya si Boss loh, daripada pegawainya sendiri."
Suara-suara itu terdengar sumbang dan tidak enak di telinga Adista. Namun, apa boleh buat dengan hubungan mereka yang belum dipublikasikan pastilah orang lain juga akan menilai Adista bermain-main dengan Raka. Hingga akhirnya, Adista mendengar suara Bu Linda.
"Jangan menggosipkan Si Boss yang enggak-enggak, apalagi sama pegawainya sendiri. Toh, Mr. Raka sejak tiga bulanan ini mengenakan cincin di jari manisnya. Mungkin Mr. Raka udah menikah," kata Bu Linda.
"Lah, begitu berarti selingkuhan sama Si A."
Di dalam toilet, Adista menggigit bibirnya dalam-dalam. Bagaimana bisa beberapa orang menerka bahwa dia adalah selingkuhan Raka. Padahal Adista adalah istri sahnya. Bukan selingkuhan atau yang lainnya.
"Hati-hati kalau berbicara, Boss itu tegas, tidak seperti Pak Zaid yang lebih ramah dan baik. Jangan sampai kabar seperti ini sampai ke telinga Boss," kata Bu Linda.
Adista akhirnya menyelesaikan keperluannya di dalam toilet kemudian dia keluar. Dia memilih tak pengaruh. Sebab, yang pasti Adista bukan simpanan atau selingkuhan Bossnya itu.
"Mbak Adista," kata seorang pegawai di sana kala melihat Adista sedang mencuci tangannya di wastafel.
"Ya, ada apa yah?" balas Adista.
Seketika beberapa pegawai di sana dan Bu Linda menatap kepada Adista. Kemudian Bu Linda mengambil beberapa langkah dan mendekati Adista.
"Kamu mendengar semuanya, Dista?" tanya Bu Linda.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa kok," balasnya.
"Maaf, Dis. Saya udah memperingatkan supaya mereka tidak berbicara yang aneh-aneh," kata Bu Linda lagi.
Adista mengangguk dan tersenyum tipis. "Saya mendengarnya kok. Tidak apa-apa," balas Adista.
Usai itu, Adista memilih kembali ke ruangannya. Sikap Adista yang biasa, justru membuat Bu Linda merasa tidak enak hati. Sementara pegawai di sana tertunduk.
"Sudah dibilang jangan berbicara macam-macam. Nanti kalau kabar ini sampai kepada Boss bagaimana coba?" Bu Linda berbicara dan memperingatkan kepada pegawai.
"Maaf, Bu," kata beberapa pegawai di sana.
"Semoga saja Mr. Raka berbaik hati dan tidak memecat kalian," balas Bu Linda.
Usai itu, Bu Linda memilih keluar dari toilet dan menuju ke ruangannya. Dia akan berbicara dengan Adista terlebih dahulu, meminta maaf lagi. Sebab, Bu Linda sudah memperingatkan beberapa pegawai di sana.
"Dista, ucapan mereka jangan dimasukkan hati yah. Mereka hanya berbicara karena sempat melihat Mr. Raka menggandeng tangan kamu," kata Bu Linda.
"Tidak kok, Bu. Tidak apa-apa," balas Adista.
"Kamu sunguh-sungguh tidak ada hubungan dengan Mr. Raka kan? Bukan apa-apa, tapi saya mengamati tiga bulan terakhir, Mr. Raka mengenakan cincin di jari manisnya. Jadi mungkin saja ...."
"Mungkin saja apa Bu Linda?"
Terdengar pertanyaan dari suara bariton yang khas. Suara yang membuat Bu Linda menunduk, dan tidak melanjutkan ucapannya lagi. Justru gelagapan karena sekarang yang berbicara adalah seorang yang berkuasa di La Plazza Hotel.