
Begitu sudah tiba di Rumah Sakit, Adista langsung dibawa menuju poli kandungan. Wanita itu didorong sendiri oleh Raka dengan menggunakan kursi roda. Sembari Raka meminta Adista untuk tenang dan bersabar tentunya.
Lantaran sudah ada tanda bersalin dari Adista, akhirnya Dokter Rinta memeriksa Adista terlebih dahulu. Benarkah ini mengarah ke persalinan yang sebenarnya. Sebab, kadang terjadi kontraksi palsu, sehingga perlu dicek terlebih dahulu.
"Dihitung durasinya tidak Bu Adista masa sakit perutnya?" tanya Dokter Rinta.
"Tidak sempat itu, Dokter. Soalnya sudah sakit banget. Hilang konsentrasi untuk menghitung," balas Adista.
Dokter Rinta menganggukkan kepalanya. Hal yang wajar untuk para new moms yang akan kesulitan menghitung durasi waktu perut yang mengencang. Jika durasinya intens, mungkin persalinan juga sudah kian dekat.
"Silakan naik ke brankar yah, kita akan melakukan pemeriksaan cek dalam," kata Dokter Rinta.
Mulailah perawat membantu Dokter Rinta, dengan memberikan instruksi kepada Adista. Sementara Dokter Rinta bersiap dengan mengenakan sarung tangan medis. Lalu, Dokter Rinta mulai berbicara.
"Tolong dibuka kedua pahanya. Bu Adista tolong konsentrasi dan tidak berpikir macam-macam yah. Kita akan melakukan pengecekan dalam. Tarik napas ... ya, satu ... dua ...."
Tidak sampai hitungan yang ketiga tiga jari Dokter Rinta mulai masuk ke area sensitif Adista. Mengecek dan sekaligus mengukur sudah berapa centimeter jalan lahirnya terbuka. Dokter Rinta terdiam, sementara Adista terlihat kesakitan. Genggaman tangannya di tangan Raka begitu erat.
"Sakit," keluh Adista dengan meringis dan mata berkaca-kaca.
Hingga akhirnya tangan Dokter Rinta keluar dari dalam sana, dengan ada darah yang terlihat. Raka menjadi panik melihat ada darah di sana. Padahal tadi dia melihat sendiri sebelumnya benar-benar tidak ada darah. Sementara sekarang, ada darah merah segar di sarung tangan medis Dokter Rinta.
"Sudah pembukaan empat, Bu Adista," kata Dokter Rinta.
Lantaran sudah pembukaan empat, kemudian Dokter Rinta kembali berbicara. "Jika waktunya normal, enam hingga sepuluh jam lagi waktu bersalin akan tiba. Saya menyarankan Bu Adista segera masuk ke kamar rawat inap, dan menunggu pembukaan hingga ke sepuluh. Perawat juga akan berjaga, ketika pembukaan bertambah, perawat juga bisa memastikannya," kata Dokter Rinta.
Raka menganggukkan kepalanya perlahan. Dia menuruti saja saran dari Dokter Rinta. Bahkan usai pemeriksaan dalam, Raka segera mengurus kamar untuk istrinya. Tentu saja di kamar dengan fasilitas VIP yang akan membuat Adista lebih nyaman.
Adista kemudian ditempatkan di ruang rawat inap. Mulailah perawat memasang jarum infus di tangan Adista. Lagi-lagi Adista menitikkan air matanya kala ujung jarum yang tajam itu menusuk pembuluh darah di tangannya.
"Tahan yah, Bu," kata perawat di sana.
"Sabar, Sayang," kata Raka.
"Sakit banget, Mas," balas Adista.
"Pasti sakit, aku temenin yah. Kita hadapi bersama-sama," kata Raka.
Sebelum perawat keluar, ada beberapa pesan yang disampaikan oleh perawat itu. Diantaranya bahwa Medhina harus tidur dengan miring ke kiri, kemudian kalau masih kuat bisa berjalan atau melakukan jongkok-berdiri untuk menambah pembukaan. Selain itu, Adista diperbolehkan makan dan minum mengingat tidak dilakukannya operasi. Kalau operasi, sudah jelas Adista tidak diperbolehkan makan dan minum, pasien harus berpuasa terlebih dahulu.
"Kalau rasa sakit datang, bisa menarik napas dan keluarkan perlahan yah, Pak. Selain itu, usap bagian punggung perlahan. Support dari suami sangat diperlukan."
"Baik," jawab Raka dengan mengangguk.
...🍀🍀🍀...
Lima Jam kemudian ....
Rasa sakit di perut hingga pinggang Adista rasanya kian menjadi-jadi. Beberapa kali Adista juga menangis. Sekarang Adista baru merasakan bahwa sakit bersalin itu memang benar-benar sakit. Menurut, Adista juga ini adalah rasa sakit yang teramat sakit menurut Adista.
"Perutku kian kencang, Mas. Sakit semua," keluh Adista lagi.
"Sakit banget yah? Sudah mulai intens dan lebih cepat durasinya enggak?"
"Iya, sakit banget."
Sekadar ingin memanggil perawat saja Adista tak mau ditinggal. Akhirnya, Raka hanya memencet tombol di atas brankar Adista yang mengarah langsung kepada perawat. Tidak berselang lima menit, barulah perawat datang. Adista sudah tidak bisa menahan lagi, sekarang rasanya sekujur tubuhnya sudah terasa begitu sakit.
"Kita bawa ke ruang tindakan yah," kata perawat di sana.
"Apa kira-kira masih lama, Suster?" tanya Raka.
"Tidak, sudah pembukaan delapan."
Akhirnya, brankar Adista kemudian didorong dan dipindahkan menuju ke ruang tindakan bersalin. Terlihat Raka yang panik, tapi Raka masih bisa begitu muda.
Di saat inilah, ada yang keluar dan pecah dengan sendirinya. "Wah, ini air ketubannya sudah pecah. Berarti tidak lama lagi sudah waktunya bersalin. Terus tenang yah kami panggilkan Dokter Rinta."
Hampir lima belas menit berlalu, Dokter Rinta sudah memasuki ruang tindakan dengan mengenakan baju operasi yang berwarna hijau. Agaknya proses pembukaan sudah lengkap sekarang.
"Air ketuban sudah pecah, sudah saatnya berbicara," kata Dokter lagi.
"Tadi air ketuban yah, Dok?"
"Benar. Bukan urine, melainkan cairan ketuban."
Adista tampak menunggu kapan rasa sakit itu datang, kemudian Adista mulai bersiap untuk mengejan. Kedua paha terbuka, Adista bersiap mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
"Hushh, sakit banget," ejannya.
"Coba lagi yah, Bu Dista. Begitu perut terasa kencang, mulai mengejan. Arahkan tenaga ke pinggul, Bu."
Adista seolah menunggu, sekarang dia menggenggam tangan istrinya dengan berbisik lirih di telinga istrinya.
"Ada aku. Sama seperti permintaan kamu dulu bahwa kala bersalin ingin kutemani. Sekarang aku sudah di sini, menemani kamu."
Ketika rasa sakit kembali menyapa, Adista mengambil napas kuat-kuat, lalu dia mulai mengejan. Semua daya dan tenaga benar-benar Adista tumpahkan.
"Ayo, Sayang ... kamu bisa!" kata Raka.
"Benar, Bu. Kepalanya sudah terlihat. Yuk, semangat," kata Dokter Rinta.
Ejanan kedua gagal. Raka menyemangati istrinya lagi. Meminta Adista tak menyerah di tengah jalan. Hingga akhirnya mulailah Adista sekarang mengejan. Dengan peluh yang menetes, air mata pun membasahi wajahnya, segala daya dan upaya Adista kerahkan. Dengan sedikit berteriak, Adista mengejan.
"Ekh, Ya Tuhan ...."
Di saat bersamaan, terdengar tangisan suara bayi di bawah sana. Tanda ejanan Adista kali ini berhasil. Ya, baby mereka berhasil dilahirkan.
Oek ... Oek ... Oek ....
Terdengar tangisan bayi yang begitu kencang. Raka menangis sekarang. Semua yang dia lihat begitu dramatis. Berusaha tenang, tapi sejatinya Raka sangat panik. Pria itu menangis dengan mengecup kening istrinya.
"Kamu dengar itu, Sayang. Itu baby kita. Our baby," kata Raka.
"Benar sekali. Selamat Pak Raka dan Bu Adista sudah dikaruniai bayi yang cantik," kata Dokter Rinta.
Wow, benar-benar kejutan berlimpah karena baby mereka sudah lahir dengan jenis kelamin perempuan. Baby girl seperti yang diinginkan Ravendra. Tubuh putih bersih, rambutnya hitam dan basah, dengan kulit kemerah-merahan. Akhirnya, bayi kecil Raka dan Adista telah dilahirkan.
Welcome to the World, Baby Girl! 💕