
Selang dua pekan kemudian ....
Siang hari di kediaman Raka dan Adista ada seorang kurir yang meneriakkan, "Paket ...." Itu membuat Raka bertanya apakah mungkin istrinya tengah membeli belanja online. Walau kaya raya, Adista sendiri bukan tipe wanita yang sudah membeli barang-barang secara online. Sehingga ketika ada kurir pengantar paket, Raka juga terkejut.
"Sayang, kamu berbelanja online?" tanya Raka.
Tentu Raka hanya sekadar bertanya. Baginya kalau Adista berbelanja online tidak masalah. Akan tetapi, baru kali ini ada paketan ke rumah.
"Enggak itu, Mas. Kan aku paling anti berbelanja online. Lebih seneng barang diskonan yang di mall," balas Adista.
Walau sudah menjadi istri seorang Direktur Utama, tapi Adista tak berubah. Alih-alih membeli barang branded dengan harga belasan juta, Adista lebih nyaman dengan barang diskonan saja. Walau sesekali Raka juga memberikan hadiah yang mahal untuk istrinya.
"Ya sudah, aku turun dulu. Ada kurir paket tuh. Aku kira kamu membeli sesuatu secara online untuk Qiana," kata Raka.
Akhirnya, Raka sendiri yang turun dan melihat paketan apa yang datang sekarang. Sekuriti rumahnya sudah menaruh kotak paket yang dibungkus dengan bubble wrap itu di dekat ruang tamu. Sekuriti pun berbicara kepada Raka.
"Permisi, Pak Raka ... ada paket," katanya.
"Iya, Pak. Dari siapa yah? Tumben ada paket ke rumah," kata Raka.
"Oh, dari Mas Rayyan, Pak Raka. Ini tertera alamatnya dari London."
Usai Sekuriti itu memberitahu bahwa paketan itu dari Rayyan, Raka kemudian menganggukkan kepalanya. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada sekuriti rumahnya yang sudah menerima paketnya dan juga memasukkannya ke dalam rumah.
Sebelum membawa kotak itu ke kamar, Raka menyemprotkan hand sanitizer terlebih dahulu. Tujuannya untuk menghilangkan kuman yang mungkin saja menempel di kotak paket itu. Lebih baik berjaga-jaga dan lebih memperhatikan kebersihan, Raka melakukan ini karena ada Baby Qiana juga. Lebih higienis lebih baik tentunya.
Belum sempat, Raka naik ke atas, rupanya Adista sudah turun terlebih dahulu.
"Beneran paket, Mas? Dari siapa?" tanya Adista.
Kali ini Adista hanya merespons dengan menganggukkan kepalanya. Walau begitu, Adista sebenarnya juga bingung kenapa Rayyan mengirimkan paket ke rumah. Dia duduk mendekat ke suaminya dan bertanya.
"Kok tumben?" tanya Adista.
"Aku buka yah."
Akhirnya Raka membuka kotak paket itu, dengan membuka bubble wrapnya terlebih dahulu. Setelah kemasan terbuka kemudian ada beberapa hadiah di dalamnya.
"Ternyata untuk Baby Qiana, Sayang," kata Raka.
Di sana ada berbagai dress, pita rambut, sepatu bayi, hingga boneka barbie. Satu lagi yang unik bahwa warna hadiah itu didominasi warna Pink. Raka kemudian memberikan dua kartu ucapan yang terdapat di sana.
"Oh, dari Onty Raline dan Om Rayyan, Mas," kata Adista menunjukkan kedua kartu ucapan itu.
Raka kemudian tersenyum. Sebagai seorang kakak, dia juga senang ketika adik-adiknya menunjuk rasa sayang untuk anaknya yang baru lahir. Tanda cinta tentunya dari Raline dan Rayyan untuk Qiana. Namun, Raka terkejut bisa-bisanya Rayyan berinisiatif memberikan kado untuk Qiana. Di dalam hatinya, Raka menerka bahwa perasaan Rayyan untuk Adista benar-benar berakhir. Kelapangan hati Rayyan terlihat jelas dari kata-kata yang dia tulis di kartu ucapan dan banyaknya hadiah dari Rayyan.
"Next time, kita balas dengan mengirim sesuatu untuk Onty Raline dan Om Rayyan, Mas," kata Adista.
"Boleh. Beliin mie instans saja satu kardus. Tuh anak pasti sudah seneng," balas Raka.
Adista kemudian tertawa dan memukul lengan suaminya itu. "Jangan begitu juga. Kasihan masak cuma diberikan mie instans. Kebanyakan mie kan juga tidak sehat," balasnya.
"Besok kita videocall lagi ya, Sayang. Kita ucapkan terima kasih," balas Raka.
"Iya, tentu. Senangnya Qiana memiliki Onty dan Om yang baik," kata Adista.
Raka sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Adista. Ya, ini adalah bentuk kasih sayang dari Onty dan Omnya Qiana.