
Raka mengamati perubahan sikap Adista. Pria itu bahkan memilih diam untuk beberapa saat, seolah melakukan instrospeksi diri apa yang membuat Adista bersikap demikian. Sebab, sekarang Adista menjadi diam dan tidak mau dia sentuh lagi.
"Kamu marah?" tanya Raka.
"Enggak."
Jawaban yang diberikan Adista pun singkat. Raka sekarang harus uji coba untuk mengambil alih hati istrinya itu. Raka harus berusaha memahami hati wanita. Sebab, ketika seorang wanita mengatakan bahwa dia tidak marah, di dalam hatinya marah.
Sementara Raka menilai memang sesuatu terjadi dengan Adista. Raka memilih diam sebentar. Dia seolah mengingat semua kejadian yang telah mereka lewati bersama, hingga akhirnya Raka menemukan satu titik di mana Adista berubah.
"Kamu cemburu?" tanya Raka dengan tiba-tiba.
"Enggak, buat apa aku cemburu," balas Adista.
"Iya, aku sudah menemukan jawabannya. Kamu berubah setelah aku bertemu temanku tadi kan?" tanya Raka.
Adista diam, terlanjur sebal dengan istrinya sendiri. Oleh karena itu, Raka memberikan pertanyaan, berharap Adista memberikan jawaban. Dengan begitu, Raka juga bisa memahami isi hati Adista.
"Kalau cemburu bilang aja cemburu. Kalau cemburu kan tanda cinta, berarti kamu udah mulai cinta dong sama aku?" tanya Raka.
Tidak tegang, Raka justru tersenyum. Dia menerka memang istrinya itu tengah cemburu. Raka menganggap kalau Adista cemburu itu adalah perkembangan yang baik. Setidaknya berarti perasaan istrinya itu mulai tumbuh untuknya.
"Dia Katherine, teman kuliahku dulu di Amerika Serikat. Orang-orang memanggilnya K atau terkadang Kathe saja. Dia tadi ke sini untuk liburan ke Labuan Bajo dan menuju ke Pulau Komodo. Itu yang kami perbincangkan tadi," kata Raka.
Seolah Raka memberikan penjelasan bahwa wanita yang mereka temui tadi waktu sarapan adalah temannya dari Amerika Serikat yang datang ke Indonesia untuk liburan. Ya, kalau sebatas liburan tidak masalah untuk Adista. Sebab, ada hal lain yang membuatnya tak suka.
"Lalu, kalau temen boleh cium pipi?" tanya Adista sekarang dengan melirik Raka.
Raka tersenyum, rupanya itulah alasan utama kenapa Adista marah sekarang. Setelah itu, Raka kemudian menggenggam satu tangan istrinya. Mengusap punggung tangannya perlahan.
"Jangan marah, itu hal yang wajar ketika berada di Amerika. Sesama teman akan menyapa dengan mencium pipi. Tanda pertemanan saja," balas Raka.
"Berarti nanti kalau aku ketemu temanku boleh dong cium pipi?" tanya Adista.
"No, gak boleh." Raka memberikan jawaban dengan tegas. Dia tak rela jika Adista bertemu orang lain, entah itu hanya sekadar teman dan menyapa dengan mencium pipi.
"Kalau Mas Raka boleh, kenapa aku gak boleh?" tanya Adista lagi.
"Budayanya berbeda, Sayangku. Itu budaya pertemanan di Amerika sana," jelas Adista lagi.
Adista memilih diam, walau beda budaya. Tetap saja Adista melihatnya tidak suka. Kesal saja hatinya. Akhirnya sepanjang hari, Adista menyibukkan dirinya sendiri dengan membaca novel yang dia ketahui dari platform membaca dan menulis novel di Handphonenya. Adista tenggelam dalam kisah pasangan dalam novel berjudul Istri Tak Tergapai. Walau ada beberapa bab yang membuat Adista ingin menangis, tapi Adista memilih menahannya karena sorot mata Raka yang sekarang seperti sorot mata elang yang mengawasinya.
Sampai malam tiba, minim percakapan di antara keduanya. Raka yang didiamkan istrinya nyaris sepanjang hari akhirnya tak bisa menahan lagi. Dia kembali duduk dan mendekati Adista.
"Yang, jangan marah terus to. Aku paling gak bisa kalau kamu diem seperti ini," kata Raka.
Ketika Adista hendak merespons ucapan suaminya, ada suara ketukan pintu di pintu kamarnya. Raka pun menghela napas kasar, kemudian dia berdiri dan membukakan pintu.
"Hi, Raka ...."
Melihat sosok Katherine, Raka berusaha menanggapi seperti biasa. "What's happens?" tanya Raka.
"Bolehkah aku menukar dollar ke mata uang rupiah melalui kamu? Aku kehabisan Rupiah, sementara esok aku harus cek out."
Raka melirik ke belakang sebentar, melihat wajah masam istrinya. Dia harus menjaga hati dan perasaan istrinya juga. Walau sebenarnya hubungannya dengan Kathe hanya sebatas teman.
"Sorry, aku tidak membawa Rupiah. Cashless," jawab Raka.
"Oh, baiklah. Thanks Raka, sorry mengganggu waktumu," balas Kathe.
Ketika Kathe mendekat dan hendak berpamitan dengan mencium pipi Raka, Raka yang menggelengkan kepalanya terlebih dahulu. Dia menolak. Semua itu Raka lakukan tentu hanya untuk Dista yang tengah cemburu sekarang.
"See you," pamit Kathe.
"Ya," balas Raka.
Setelah itu, Raka menutup pintu kamarnya. Namun sebelumnya Raka menggantungkan tulisan Don't Disturb di pintunya. Raka melakukan itu dengan maksud tidak ada orang yang mengganggunya.
"Dia mau nukar uang, gak aku kasih," cerita Raka dengan sendirinya. Sebenarnya tadi percakapan keduanya juga dengan menggunakan bahasa Inggris. Akan tetapi, Raka menyampaikan itu dalam bahasa Indonesia kepada istrinya.
"Terus?"
"Udah jangan marah lagi. Aku juga nolak loh, waktu dia pamit mau peluk dan cium," lapor Raka.
Adista mengedikkan bahunya, masih kesal. Namun, sejujurnya Adista tahu tadi Raka menunjukkan gestur tubuh yang menolak. Kalau Adista tidak sebal terlebih dahulu, apakah Raka juga akan menolaknya?
"Kalau tidak suka bilang saja, masak baru dua hari kamu jadi baik dan membuka diri kepadaku, sekarang udah ngambek. Jangan ngambek, cantiknya hilang," kata Raka.
Cara Raka menenangkan istrinya mirip cara menenangkan anak kecil, Adista nyaris tertawa di buatnya. Raka pikir, istrinya itu anak kecil. Merasa Adista masih diam kemudian, Raka mulai mengangkat pinggang istrinya, mendudukkan sang istri di pangkuannya. Raka menelisipkan juntai rambut istrinya di sana.
"Ngambek boleh, cemburu juga boleh, tapi jangan terlalu lama. Kan cuma teman. Gak ada yang cium pipi aku lagi. Kalau ada itu cuma Mama dan Raline," kata Raka.
"Kamu pernah dicium Rayyan?" tanya Raka tiba-tiba.
"Kan beda konteks," balas Adista dengan kesal.
"Ya, kalau diciumnya waktu kalian pacaran aku gak marah. Yang penting sekarang enggak lagi. Cium aku," pinta Raka sekarang.
Bahkan dengan lucunya Raka menunjuk bibirnya sendiri, menginginkan untuk dicium oleh Adista. Akan tetapi, sang istri justru menolaknya. Adista sekarang menggelengkan kepalanya.
"Gak mau, salah sendiri nyebel ...."
Hap!
Suara Adista bak tertelan bumi karena Raka tanpa aba-aba langsung mencium bibir Adista di sana. Bukan kecupan, tapi berupa lu-matan dan kesan basah yang seolah menyedot dua belah lipatan bibir Adista. Raka tidak mau menunggu. Sepanjang hari menghadapi istrinya ngambek membuatnya kalang kabut dan serba salah. Lebih baik, Raka langsung melakukan eksekusi dengan menghisap dan melu-mat habis bibir istrinya itu.