
Selang sepekan kemudian, Mama Erina dan Papa Zaid menerima kabar dari Raline, putri bungsunya bahwa kondisi di Paris sekarang sangat tidak kondusif. Ya, kota yang terkenal dengan City of Love itu akhir-akhir ini memiliki kondisi tidak kondusif. Tidak stabil secara politik dan keamanan. Bahkan selama beberapa hari ini terjadi aksi demonstrasi massa di Paris. Oleh karena itu, Mama Erina dan Papa Zaid berencana menjemput Raline di Paris.
Oleh karena itu, sore itu Mama Erina dan Papa Zaid sengaja datang ke apartemen Raka dan Adista. Keduanya berpamitan karena akan segera Paris.
"Silakan masuk Mama dan Papa," kata Adista mempersilakan mertuanya untuk masuk ke apartemennya.
"Makasih, Dista. Raka di mana?" tanya Mama Erina.
"Mas Raka sedang mandi, Ma. Tunggu sebentar yah, Ma," balas Adista.
Hampir sepuluh menit berlalu, barulah Raka keluar dari kamar mandi. Dia bergabung dengan Mama dan Papanya. Walau begitu, Raka juga sedikit sungkan sejak menikah dan tinggal di apartemen baru sekarang Mama dan Papanya mendatanginya ke apartemen. Padahal Raka dan Adista bisa datang ke runah Papa dan Mamanya saja. Sebab, bagaimana pun apartemen itu kecil tidak seperti rumah besar Mama dan Papanya.
"Mama dan Papa tumben datang ke sini?" tanya Raka.
"Iya, Raka ... ada yang ingin Mama dan Papa sampaikan kepada kamu," balas Papa Zaid.
Raka tampak mengangguk, dia menunggu apa yang hendak disampaikan oleh Mama dan Papa kepadanya. Menurut Raka sendiri ketika Mama dan Papanya sampai datang artinya memang ada sesuatu yang serius.
"Raka, beberapa hari ini situasi di Paris sangat mengkhawatirkan bahkan terjadi demontrasi massa di sana. Oleh karena itu, Mama dan Papa akan ke Paris untuk menjemput Raline, adikmu," kata Papa Zaid.
Raka kembali mengangguk. Sekarang dia kepikiran juga dengan adik perempuannya yang sekarang kuliah di Paris. Raka juga membaca kerusuhan yang terjadi di Paris. Oleh karena itu, kota Paris itu menjadi tak kondusif lagi.
"Benar Pa, apakah tidak bisa Raline pulang ke Jakarta saja?" tanya Raka.
"Papa akan tawarkan dulu, Raka. Keinginannya bisa kuliah di luar negeri sama seperti Kakaknya, kamu yang lulusan dari Amerika," balas Papa Zaid.
Adista terdiam, dia turut berpikir kadang kala hidup dengan memiliki serangkaian fasilitas terasa menyenangkan. Terlebih kesempatan dan fasilitas untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Akan tetapi, Adista tidak memiliki semuanya itu. Untuk sekolah saja, Adista hanya bisa bersekolah dengan memanfaatkan kartu dan fasilitas dari pemerintah untuk bisa sekolah gratis.
"Kalian mau ikut?" tawar Mama Erina kepada Raka dan Adista.
Raka mengamati wajah Adista sesaat, sebenarnya ingin juga mengajak istrinya itu jalan-jalan ke luar negeri. Apalagi sekarang memang Adista sudah resign, dia memiliki banyak waktu. Sementara Raka tinggal mengatur saja.
"Gimana Sayang?" tanya Raka.
"Aku sebenarnya ingin melihat Paris, tapi kalau sedang terjadi demontrasi dan kerusuhan di sana rasanya aku menjadi takut. Jadi, tidak usah aja, Mas," jawab Adista.
Alasan logis yang disampaikan oleh Adista. Kota Paris yang tidak lagi kondusif sehingga memang bisa dikatakan berbahaya. Selain itu, kondisi Adista yang tengah hamil.
"Baiklah, kita di Jakarta saja. Mama, Papa ... kami di Jakarta saja. Maafkan Raka yang tidak bisa ikut. Namun, jika butuh bantuan apa pun segera kabarin Raka," balas Raka.
Keputusan Raka ini benar-benar didasari dengan kondisi Adista yang hamil. Sebenarnya sebagai anak sulung, dia ingin turut menemani Mama dan Papanya. Akan tetapi, kalau istri tengah hamil, maka prioritas seorang suami harus kepada istrinya terlebih dahulu. Raka tak ingin juga terjadi sesuatu dengan istrinya, andai dia turut ke Paris.
"Yang kamu lakukan sudah benar, Raka. Bukan hanya seorang putra sulung. Kamu juga adalah seorang suami, calon Papa jadi sebaiknya temani Dista dulu," kata Papa Zaid.
"Bagus, Raka ... temani Dista dulu," kata Papa Zaid.
"Mama setuju dengan apa yang disampaikan Papamu. Sekarang, prioritas kamu adalah Adista dan calon bayimu, Raka. Jangan kepikiran, doakan saja semua bisa berjalan dengan lancar," balas Mama Erina.
"Tentu, Ma. Bagaimana dengan ... Rayyan, Ma?" tanya Raka sekarang.
Masalah Rayyan juga harus dibicarakan dengan serius. Raka hanya tak ingin ketika Mama dan Papanya ke Paris, Rayyan akan melakukan sesuatu yang tidak benar. Sebab, masih sangat memungkinkan jika Rayyan mendekati Adista lagi.
"Rayyan akan ke Paris dengan kami, Raka. Jangan khawatir. Mama dan Papa sudah memutuskan hal itu," balas Papa Zaid.
Raka menjadi lega. Sebab, bisa saja Rayyan kembali mendekati Adista. Raka hanya ingin mengantisipasi tidak terjadi hal yang buruk saja.
"Syukurlah, Pa. Sebab, bisa saja Rayyan mendekati Adista lagi. Dengan kondisi otak yang masih belum stabil," kata Raka.
"Mama dan Papa sudah mempertimbangkan. Sebenarnya Rayyan tak ingin ke Paris. Dia menginginkan di Jakarta, tapi tidak ada yang mengawasinya. Jadi, jalan yang ditempuh tetap mengajak Rayyan ke Paris."
Sekarang Raka menjadi lega. Dia bisa fokus menjaga Adista dan berharap keluarganya akan kembali ke Jakarta dengan selamat. Keputusan yang diambil Mama Erina dan Papa Zaid adalah keputusan terbaik.
...🍀🍀🍀...
Tiga Hari Kemudian ....
Raka dan Adista menuju ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta untuk mengantar Papa Zaid, Mama Erina, dan Rayyan yang hendak pergi ke Paris. Sekadar mengantar saja.
"Hati-hati dalam perjalanan yah Mama dan Papa. Dista selalu mendoakan Mama dan Papa," kata Adista kepada mertuanya.
"Makasih, Dista. Kamu ingin dibawakan apa dari Prancis? Kalau memungkinkan Mama bisa membawakan sesuatu untukmu, walau hanya bisa membelinya di bandar udara," kata Mama Erina.
Adista tidak menjawab. Sebab, keluarga mertuanya bisa kembali pulang ke Jakarta lagi di tengah kondisi Paris yang tidak baik saja sudah baik adanya. Oleh karena itu, Adista tak memikirkan buah tangan sama sekali. Akan tetapi, Rayyan justru menyahut.
"Macarons dan miniatur Menara Eiffel, Ma. Tata menyukai itu," sahutnya.
Mendengar apa yang Rayyan katakan membuat Raka tidak nyaman. Si kakak sulung harus kembali menahan perasaan. Seolah Rayyan membuktikan dialah sosok yang paling mengenal Adista.
"Tidak usah, Ma. Mama, Papa, dan adik-adik bisa kembali ke Jakarta sudah bersyukur," balas Adista.
Mendengar jawaban Adista, Raka menganggukkan kepalanya. Istrinya sudah mengatakan yang benar dengan mengakui Raline dan Rayyan adalah adik-adiknya. Berlaku juga untuk hubungan Dista dan Rayyan mereka hanya kakak dan adik ipar.
Rayyan menunduk. Mungkin kesannya pengecut, tapi jujur sampai sekarang Tata masih memenuhi isi kepala dan hatinya. Masih tidak bisa melupakan sosok Adista dari hidupnya.