
Malam ini seakan tidak ada komunikasi di antara Adista dan Raka. Walau Raka memeluk Adista, tapi nyatanya pria itu tidak bisa tidur. Nyaris semalaman Raka terjaga.
"Bagaimana caranya agar kamu percaya kepadaku, Sayang? Diammu seperti ini justru membuatku serba salah."
Raka hanya bisa membatin saja. Setiap ucapan itu tidak keluar dari mulutnya. Dia merasa perlu mengupayakan agar Adista bisa percaya kepadanya. Bukti-bukti digital yang dikirimkan ke handphone Adista juga seakan menegaskan telah terjadi sesuatu yang bukan-bukan. Raka akui ada sisi di mana dia bersalah. Namun, berbicara komitmen, Raka tetap memegang komitmennya kepada Adista.
Jika Raka tidak bisa tidur, Adista pun sama. Matanya terpejam, tapi itu hanya pura-pura belaka. Pikirannya seolah mengembara dan merasa berat. Bahkan Adista masih merasakan usapan tangan Raka di perutnya dan kecupan yang Raka jatuhkan di sisi pipinya.
Adista juga menyalahkan dirinya sendiri kenapa merasa tersakiti seperti ini. Dulu, Adista bisa memilih untuk mempercayai Raka. Akan tetapi, ketika sekarang dengan berbagai bukti di handphonenya kenapa rasanya menjadi sulit untuk mempercayai suaminya.
Berusaha memejamkan matanya, akhirnya Adista bisa tertidur. Walau hanya sekadar tidur ayam saja. Sebab, dalam semalam beberapa kali Adista juga terjaga.
Hingga pagi menjelang, Raka terbangun terlebih dahulu. Akan tetapi, Raka masih berbaring di ranjang. Pandangan pria itu hanya terfokus kepada Adista saja. Sungguh, Raka berharap bahwa pagi ini istrinya tidak akan marah lagi.
Sekian menit menunggu bahkan lebih dari setengah jam, barulah Adista terbangun. Biasanya keduanya akan saling menyapa, mengucapkan selamat pagi, dan memberikan ciuman manis di pagi hari. Akan tetapi, sekarang Adista terdiam. Bahkan Adista sengaja menghindari kontak mata dengan suaminya.
Sebelum Adista beranjak dari ranjang, tangan Raka segera mendekap istrinya itu. Walau sekarang keduanya sudah sama-sama duduk, tapi Raka berusaha membuat Adista tak jauh-jauh darinya.
Raka sedih sebenarnya. Ini pagi tanpa kehangatan untuknya. Bukan kehangatan tanpa bergumul bersama, tapi tidak ada sapaan, tidak ada senyuman, atau kecupan di pipinya dari istrinya itu. Jiwa Raka tersiksa dengan diamnya Adista seperti ini.
"Sayang ...."
Suara Raka terdengar, tapi Adista masih bungkam dan tak memberikan jawaban. Walau begitu Adista tak menolak ketika suaminya mendekapnya erat. Justru hatinya merasa sakit karena dia sendiri diam sejak semalam.
Lebih dari sepuluh menit, Raka mendekap Adista. Dalam waktu yang terus berjalan itu pula tak ada suara. Benar-benar hening. Mungkin hanya embusan napas keduanya saja yang sayup-sayup terdengar.
"Dengan cara apa supaya kamu percaya kepadaku?" tanya Raka dengan begitu lirih.
Adista terdiam, tapi setitik air mata lolos begitu saja dari sudut matanya. Jujur, Adista juga tidak menyukai situasi seperti ini. Dia merindukan kehangatan dengan suaminya. Raka bisa merasakan tubuh istrinya yang bergetar lantaran menangis. Bahkan ada setitik air mata yang jatuh di tangan Raka.
"Aku tidak mendesak, Sayang. Namun, aku menginginkan kenormalan dalam hubungan kita. Masalah boleh datang, tapi jangan menyurutkan kepercayaan di antara kita berdua. Fondasi dalam membina keluarga adalah kepercayaan. Ku harap, kamu bisa melembutkan hatimu dan memaafkan aku. Aku mengakui, ada salahku kemarin. Hingga aku masuk ke dalam jebakan itu. Tolong, pulihkan lagi kepercayaanmu kepadaku."
Sebelumnya Raka tak pernah menundukkan egonya. Namun, pria itu benar-benar menjadi sosok yang berbeda kala sudah bersama Adista. Dia berbicara dengan lembut, menunjukkan kedewasaan berpikir dan bersikap sebagai pria, dan dia meminta Adista untuk memulihkan kembali rasa percaya di dalam hatinya.
"Sudahlah, Mas," balas Adista dengan terisak dan berusaha mengurai dekapan suaminya.
"Yang pasti komitmenku utuh dan penuh. Percayai aku," pinta Raka.
"Mas Raka bisa membuktikan bahwa semua bukti di handphoneku itu hanya rekayasa?" tanya Adista.
Raka dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Bisa, aku akan mencari bukti yang valid."
"Kalau Mas Raka macam-macam?"
"Tidak akan, Sayang. Dari dulu, dari bertemu kamu, aku tidak pernah macam-macam."
Raka kembali memberikan penegasan. Dia tidak pernah macam-macam. Memang Raka terjebak dan tidak memperhatikan situasi di sekitarnya. Namun, untuk komitmen selalu Raka jaga.
Adista sekarang malahan terisak-isak sendiri. Dia merasa bersalah dengan suaminya. Raka tak kuasa mendengar tangisan Adista sememilukan ini. Dengan cepat Raka bergerak, dia membawa Adista berhadap-hadapan dengannya, lantas Raka menyeka bulir air mata di wajah Adista.
"Maafkan aku, aku yang bikin kamu menangis sampai seperti ini. Maafkan aku, Sayang. Menangis boleh. Keluarkan semuanya biar kamu lega, tapi jangan lama-lama kasihan baby kita yang ikutan sedih karena Mamanya menangis."
Di pelukan Raka dengan wajah yang terbenam di dada bidang suaminya, semua air mata tercurah. Perasaan Adista masih tak menentu, tapi hatinya sedikit melembut sekarang ini.
"Aku tidak ingin kehilangan Mas Raka," kata Adista dengan sesenggukan.
Raka yang memeluk Adista memejamkan matanya. Hatinya seketika menjadi hangat kala mendengarkan Adista yang tidak ingin kehilangan dirinya. Itu artinya istrinya itu sangat mencintainya.
"Aku tidak ingin ada wanita lain di antara kita," kata Adista lagi dengan terisak-isak.
Raka menganggukkan kepalanya perlahan. Semua wanita juga tidak ingin ketika ada wanita-wanita lain di hidup suaminya. Raka sangat tahu itu.
"Aku akan lebih memperhatikan kondisi di sekitarku, Sayang. Bukannya aku tidak bersalah. Aku juga bersalah, kurang waspada hingga akhirnya masuk dalam jebakan itu. Sungguh, aku tidak berbohong sama sekali. Sebenarnya ketika pulang bekerja, aku ingin menceritakan semuanya kepada kamu. Namun, kamu yang lebih dahulu tahu bekas lipstik dan bukti foto-foto itu. Hal seperti itu bisa direkayasa, tapi komitmenku dan perasaanku tidak akan mungkin bisa direkayasa. Aku akan lebih waspada."
Raka menuturkan semuanya dengan panjang lebar. Dia juga jujur bahwa kemarin dia hendak berkata jujur. Namun, liciknya pihak lawan yang mengirimkan bukti yang sudah direkayasa itu kepada istrinya. Sebagian besar wanita pasti akan bereaksi sama seperti Adista. Hanya melihat apa yang sudah dilihat oleh matanya. Terlebih Adista yang sedang hamil dan sering kali bad mood atau gejolak hormonal juga yang begitu berpengaruh.
"Aku salah tingkah kalau kamu diam. Mending kamu utarakan semuanya. Kamu pukul atau tampar aku tidak apa-apa. Yang penting jangan diam lama-lama," kata Raka sekarang.
Adista masih terisak-isak. Bukan maunya untuk diam sepanjang malam. Namun, perasaan sensitifnya yang membuat Adista diam. Sekarang justru Adista yang menangis terisak-isak. Pagi ini ada sesuatu yang berbeda, bahkan Adista menangis dengan berurai air mata. Sejatinya memang hidup berumahtangga seperti ini. Ada kalanya angin yang berhembus sepoi-sepoi justru pertanda awal terjadinya gelombang. Namun, dari semua itu setiap pasangan akan berusaha untuk kian memperbaiki diri satu sama lain.