
"Mas Raka bahagia?" tanya Adista.
"Ya, sangat bahagia. Di balik semua masalah ini, kabar kehamilanmu adalah hal yang sangat membahagiakan. Aku berhasil menyemai benih di rahimmu," kata Raka.
Adista tersenyum tipis. Dia pikir dengan Raka yang selama ini selalu menggebu-gebu kala bercinta dengannya, akan keberatan ketika dia hamil. Rupanya Raka justru sangat senang.
"Kupikir Mas Raka tidak akan suka karena Mas Raka kalau di ranjang sangat tangguh," balas Adista.
"Itu respons alamiah tubuhku saja kepada kamu. Kan sejak awal aku bilang bahwa aku menginginkan anak darimu. Aku menikahimu untuk berumahtangga dan mendapatkan keturunan, bukan sekadar memuaskan napsu," balas Raka dengan sungguh-sungguh.
Adista merasa lebih lega. Itu artinya Raka benar-benar bahagia sekarang. Demikian juga dengan Adista yang merasa sangat bahagia.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Seberhasrat bagaimana pun aku denganmu, tapi aku bukan pria brengsek. Aku bahagia memiliki buah hati, keturunan, dan penerus dari kamu, Sayang."
Raka berbicara dengan sungguh-sungguh sekarang bahwa dia bahagia. Sebagai pria dewasa dan hendak memiliki buah hati adalah bentuk kebahagiaan yang baru untuk Raka.
"Mas Raka enggak pulang?" tanya Adista.
"Tidak, aku akan menemanimu bermalam di sini. Papa sudah berpesan supaya aku merawat dan menjaga kamu."
Sebenarnya bukan sekadar melakukan apa yang dipesankan oleh Papanya, tapi dari dalam hatinya Raka juga ingin menjaga istrinya itu. Dengan hadirnya seorang bayi, Raka berharap ikatan keduanya akan lebih kuat. Selain itu, Raka mengharapkan bahwa Rayyan bisa menerima semuanya ini. Hubungannya dengan Adista bukan kepura-puraan, tapi adalah hubungan yang sangat serius.
Raka akhirnya memilih bermalam di kamar Rumah Sakit itu. Sudah jam 21.00 malam sekarang, Raka meminta Adista untuk tidur. Lampu utama juga sudah Raka matikan dan mengganti dengan lampu tidur saja. Jika Adista berbaring di ranjang, sementara Raka berbaring di sofa yang letaknya tidak begitu jauh dari ranjang.
"Tidur, Yang. Jangan berpikiran yang aneh-aneh," kata Raka.
"Mas Raka bisa tidur di sana?" tanyanya.
"Tenang saja, suamimu ini bisa tidur di mana pun. Jangan berpikiran macam-macam yang membuat kamu stress."
Raka mengatakan semua itu supaya Adista tidak stress. Memang Raka anak orang kaya, tidur di sofa tidak menjadi masalah sama sekali untuk Raka. Adista nyatanya tidak bisa tidur. Dia beberapa lagi menatap langit-langit putih di atasanya, atau melirik Raka yang sudah memejamkan matanya.
"Sebagai putra seorang yang kaya raya pastilah Mas Raka tidak pernah tidur di sofa seperti itu. Namun, sekarang demi menjagaku, Mas Raka harus tidur di sofa. Itu pastilah sangat tidak nyaman," gumam Adista dengan sangat lirih.
Tidak ada bantal, tidak ada selimut, bahkan Raka masih mengenakan celana bahan dan kemeja pastilah sangat tidak nyaman tidur suaminya. Namun, Adista sekaligus melihat sisi lain Raka yang mau berkorban untuk wanita yang dia cintai. Itu sangat menghangatkan hati Adista.
...🍀🍀🍀...
Keesokan Paginya ....
Mentari sama sekali belum menampakkan wajahnya, tapi Raka sudah terbangun terlebih dahulu. Dia mengecek handphonenya terlebih dahulu, dan membaca pesan dari Mama Erina.
[Kalian akan pulang kapan dari Rumah Sakit?]
[Kabari Mama kalau kalian sudah pulang.]
[Salam sayang untuk Dista.]
Jari-jari tangan Raka pun begerak cepat membalas pesan dari Mamanya. Sekaligus Raka meminta tolong supaya ada supir yang mengantarkan baju ganti dan personal care untuknya dan Adista. Pikir Raka, nanti kalau pulang mereka sudah mandi dan bersih, tidak lagi mengenakan pakaian yang kemarin sudah seharian mereka kenakan. Mama Erina mengiyakan, nanti Raka akan dihubungi kalau supirnya sudah tiba di Rumah sakit.
Setelahnya, Raka menatap Adista yang masih terlelap. Kalau kemarin wajah istrinya itu masih sembab dan juga lebih pucat, tapi sekarang sudah tidak begitu pucat. Raka berharap hari ini Adista bisa diajak pulang. Selanjutnya Raka akan merawat Adista sendiri di rumah.
Beberapa saat setelahnya, kurang lebih setengah jam supir keluarga Syahputra sudah di Rumah Sakit. Maka, Raka meninggalkan kamar perawatan Adista dengan hati-hati, setelahnya dia turun ke bawah untuk mengambil baju ganti miliknya. Tak lupa Raka mengucapkan terima kasih karena sudah dibantu. Tak hanya itu, Mama Erina menitipkan kotak bekal yang berisi sarapan pagi untuk Raka dan Adista.
Raka tersenyum, Mamanya selalu baik. Tidak merasa diperlakukan seperti anak kecil, tapi Raka justru senang itu bukti kasih sayang Mama Erina kepadanya. Setelah itu, Raka kembali ke dalam kamar perawatan istrinya, tapi Adista masih tidur. Oleh karena itu, Raka mengunci pintu dan dia memilih mandi terlebih dahulu. Tidak menyangka juga Raka akan mandi di Rumah Sakit, tapi karena kamar perawatan Adista di ruang VIP sehingga fasilitasnya hampir mirip dengan hotel. Raka memilih mandi terlebih dahulu, hanya lima belas menit pria itu sudah segar dan berganti pakaian bersih.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, rupanya Adista sudah terbangun.
"Pagi, Sayang," sapa Raka dengan mengambil tempat duduk di sisi Adista.
"Pagi, Mas. Sudah mandi? Pakaian gantinya?" tanya Adista dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Sudah, aku minta tolong Mama untuk memberikan kita pakaian ganti. Sudah lebih baik?"
Raka bertanya, selain itu pria itu menundukkan badannya hendak mengecup bibir Adista. Akan tetapi, Adista menggelengkan kepala dan menutup mulutnya.
"Jangan dekat-dekat, aku belum mandi. Malu," katanya.
Mendengar jawaban Adista, Raka tersenyum dia mengacak puncak kepala istrinya itu. Padahal Raka tidak mempermasalahkan juga.
"Biasa saja, biasanya kita bergelung di bawah selimut yang sama walau belum mandi," balas Raka.
"Kamu udah mandi, sementara aku masih kucel, gak layak buat kamu," balas Adista.
"Gak ngaruh, Sayang. Calon Mama sehat-sehat yah. Kalau boleh pulang, dan sekalian di Obgyn, kita ke Poli Kandungan sekalian yah. Aku baru tahu kamu hamil, tapi tidak tahu berapa usia kandungannya dan bagaimana janinnya. Perlu diperiksakan. Kemarin Dokter bilang enggak sudah berapa minggu?" tanya Raka.
"Enggak mengatakan. Aku juga begitu sadar langsung mencari kamu. Aku takut kalau Mama dan Papa memisahkan kita, memintaku menolong Rayyan sampai dia sembuh. Aku tidak mau, Mas. Aku takut," balas Adista.
"Tidak akan. Sekarang, setelah semua mendengarkan kamu hamil, ikatan kita lebih kuat, Yang. Tidak akan ada yang memisahkan kita. Aku akan mempertahankan kamu di sisiku. Jangan berpikiran begitu lagi yah. Dokter meminta kamu bisa mengelola stressmu. Bahaya kalau Ibu hamil malahan stress, dampaknya ke janin," balas Raka.
Adista menganggukkan kepalanya. Dia memilih mempercayai Raka. Dia akan berusaha mengelola stressnya dengan lebih baik. Dia akan bahagia dengan sekarang kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.