
Raka sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya segera tiba di Rumah Sakit. Raka merasa panik, tapi dia masih harus mengemudikan mobilnya menuju Rumah Sakit. Kalau tidak tenang dan mengemudikan mobil tentu saja berbahaya.
"Jangan panik, Ka," pesan Mama Erina.
"Iya, Ma."
Mama Erina sebenarnya juga bingung, apakah terlalu emosional hingga Adista sampai pingsan. Atau bisa saja Adista merasa tertekan. Mama Erina menjadi menyesal jadinya. Padahal dia hanya bertanya dan meminta Adista untuk jujur saja supaya bisa menangani dan menolong Rayyan dengan tepat.
Selain itu, Papa Zaid yang sekarang sudah bersama dengan Rayyan menyusul menuju ke Rumah Sakit. Papa Zaid dan Rayyan sama paniknya saat Mama Erina mengabarkan bahwa Adista pingsan. Walau begitu, Rayyan tidak banyak berkata. Dia masih terpukul kala mendengarkan wanita yang dicintainya ternyata sekarang mencintai kakak kandungnya sendiri.
Raka yang tiba di Rumah Sakit segera membopong Adista hingga ada perawat yang memberikan brankar dorong. Adista pun segera dibawa ke ruang perawatan. Ada seorang Dokter dan perawat yang memeriksa Adista. Sementara Raka dan Mama Erina diminta menunggu di luar.
"Apa Adista sakit sebelumnya?" tanya Mama Erina.
"Tiga pekan Raka di London, Adista sakit hingga dua minggu lamanya. Dia berkata meriang dan masuk angin. Apakah mungkin Adista belum begitu sehat?" tanya Raka.
"Bisa saja. Jangan panik, Dokter pasti akan melakukan pemeriksaan menyeluruh."
Tak berselang lama kemudian Papa Zaid datang bersama dengan Rayyan. Papa Zaid menanyakan kepada Mama Erina bagaimana kondisi Adista. Sementara Rayyan memilih diam. Sekarang semuanya fokus kepada kondisi Erina terlebih dahulu.
"Ray, apa kamu pulang saja? Driver Papa biar menjemput kamu," tawar Papa Zaid.
"Tidak, Pa. Rayyan mengkhawatirkan Tata," jawabnya.
Mendengar jawaban Rayyan, sekarang mempertegas bahwa Adista adalah Tata. Mama Erina dan Papa Zaid terkejut, benar-benar tidak menyangka terjadi cinta segitiga seperti ini. Di luar siapa yang benar dan siapa yang salah, pastilah kedua anaknya sama-sama terluka. Rayyan dengan kisah masa lalu yang belum bisa dia terima akhirnya. Sementara Raka dengan perasaannya yang terhimpit di antara istri dan adik kandungnya sendiri.
"Kamu tak perlu mengkhawatirkan Dista, Ray," balas Raka.
"Rayyan yang mengenal Tata lebih dulu, Kak."
"Kisah kalian sudah berakhir, Ray."
Terjadi adu argumentasi antara Raka dan Rayyan. Hingga akhirnya, Papa Zaid yang menengahi kedua putranya itu.
"Jangan beradu mulut di sini. Kita menunggu Adista. Doakan yang terbaik untuk Adista dan tidak ada sesuatu yang serius," balas Papa Zaid.
"Pa, Rayyan menyayanginya, Pa," balas Rayyan.
"Kakak yang lebih berhak atasnya, karena Adista adalah istrinya Kakak, Ray. Itu faktanya," balas Raka.
Bukannya tak mau mengalah, tapi untuk Adista, Raka harus menjadikannya sebagai miliknya sendiri satu-satunya. Tidak akan berbagi. Raka akan berusaha mempertahankan Adista di sisinya. Andai orang tuanya mengiranya egois, biarkan saja. Sebab, suami memang berhak seutuhnya atas istrinya.
"Sudah, jangan bertengkar di sini," kata Papa Zaid lagi.
Akhirnya Raka dan Rayyan terdiam. Walau begitu, rahang Raka mengeras karena dia masih begitu kesal dengan sikap adiknya sendiri. Raka hanya ingin Rayyan menerima kenyataan bahwa semuanya sudah berubah. Perasaan Adista sendiri juga sudah berubah.
Hingga kemudian Dokter keluar, seketika Raka berdiri. Dia harus tahu bagaimana kondisi istrinya sekarang.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" tanya Raka.
"Apakah Anda, suaminya Nyonya Adista?" tanya Dokter itu.
"Istri Anda kelelahan dan stress sehingga dia hingga pingsan. Bukan kali pertama, pengakuan pasien tiga pekan lalu dia sempat pingsan di tempat kerja. Sekarang, pasien sudah sadar dan mencari suaminya."
"Sebentar, Pak. Masih ada satu hal lagi yaitu Anda harus menjaga istri Anda baik-baik. Apakah Anda belum tahu?" tanya Dokter tersebut.
Raka menggelengkan kepalanya. Jujur, dia tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang Raka pikirkan, termasuk kondisi adiknya sendiri.
"Selamat Pak Raka, bukan hanya kelelahan dan stress, tapi istri Anda sedang hamil sekarang ini. Jadi, tolong dijaga. Kandungannya sedikit lemah karena tingkat stress yang berat. Tolong dijaga," kata Dokter itu.
Semua yang ada di sana terkejut. Ternyata pingsannya Adista juga karena faktor lain. Raka sempat tak percaya rasanya, tapi jujur pria yang biasanya minim ekspresi itu bisa menitikkan air matanya. Sementara Rayyan tentunya terpukul, wanita yang dia cintai nyatanya hamil sekarang.
"Pasien boleh ditemani, satu orang saja yah. Silakan nanti Suaminya saja yang menemani," kata Dokter itu lagi.
Mama Erina menitikkan air mata juga. Tentu ini kabar bahagia, artinya akan ada generasi baru keluarga Syahputra.
"Raka akan menjadi Papa," kata Raka lirih.
"Selamat Raka, masuk dan temanilah istrimu," kata Mama Erina.
"Bagaimana dengan Rayyan, Pa?"
Papa Zaid merangkul dengan menepuk bahu putra bungsunya. "Adista memang istrinya Kak Raka, Ray. Dia sekarang adalah kakak iparmu. Langkahmu masih panjang, jadi ikhlaskan Adista. Dia mencintai Kak Raka. Keduanya saling mencintai. Pasti ini kenyataan pahit, tapi memang beginilah adanya. Biarkan saja, sehabis ini kita pulang yah," kata Papa Zaid.
Papa Zaid mengajak Mama Erina dan Rayyan untuk pulang, sekaligus memberi Raka waktu untuk istrinya. Sebelum pulang, Papa Zaid berpesan kepada Raka.
"Selamat yah, Raka. Bukannya kami tidak sayang dan peduli dengan Adista, tapi Papa sangat yakin yang dibutuhkan Adista adalah suaminya. Temani dan jaga istrimu. Belajar merawat dan melayaninya, tunjukkan cintamu. Sebab, cinta itu juga menjaga di kala pasangan terluka. Sampaikan salam kami untuk Dista," kata Papa Zaid.
Raka menganggukkan kepalanya, dia tahu dengan sikap yang ditunjukkan orang tuanya. Kemudian Mama Erina memeluk Raka sebentar.
"Selamat. Mama ikut bahagia. Kamu akan menjadi Papa. Selamat Raka."
"Makasih, Ma," balas Raka.
Begitu orang tuanya dan Rayyan pergi barulah Raka memasuki ruang perawatan Adista. Istrinya itu sudah sadarkan diri, walau begitu ada selang infus yang terpasang di tangannya karena kondisi Adista yang lemah.
Melihat Adista, Raka mengusap wajahnya beberapa kali. Dia kemudian mengambil tempat duduk di tepian brankar yang ditempati istrinya.
"Mas Raka ...."
Dengan cepat Raka menggelengkan kepalanya. Dia membawa jari telunjuknya di bibir Adista.
"Ssstss ... jangan banyak bicara. Aku tahu semuanya," kata Raka.
Adista berlinang air mata. Inginnya memberikan kejutan terbaik, tapi situasinya malahan seperti ini. Bahkan dia harus terbaring di ranjang kesakitan seperti ini.
"Makasih, Sayang. Aku bahagia," kata Raka.
Tangan Raka bergerak menyentuh perut istrinya yang masih rata di sana. Raka memang belum tahu berapa usia kandungan istrinya, dan kondisi yang lain. Yang pasti Raka sangat bahagia.
"Mas Raka bahagia?" tanya Adista.
"Sangat."
Raka menunduk dan dia mendaratkan kecupan di kening istrinya. Raka sangat bahagia. Walau begitu, dia juga ingin Istrinya itu bisa segera pulih. Raka juga mengantisipasi lonjakan stress yang dialami istrinya, jangan sampai tingkat stress berdampak ke kehamilan istrinya. Aq