Staycation With Boss

Staycation With Boss
Skin to Skin Contact



Begitu Baby Qiana usai mendapatkan ASI, perawat menyarankan agar Baby Qiana melakukan skin to skin dengan Papanya. Awalnya Raka merasa takut, dia merasa Baby Qiana begitu kecil dan terlihat rapuh. Selain itu, Raka juga tidak pernah menyentuh bayi sebelumnya sehingga Raka tidak yakin dengan dirinya sendiri.


"Biar saya bantu, Pak Raka," kata seorang perawat di sana.


Adista tersenyum saja melihat Raka yang kikuk. Namun, ini adalah pengalaman berharga. Momen ketika seorang bayi yang beberapa jam tadi usai dilahirkan akan skin to skin contact dengan Papanya. Adista tentunya juga ingin tahu bagaimana Papa Raka melakukan bonding pertama dengan bayi kecilnya.


"Duduk aja, Papa," sahut Adista.


Setidaknya Adista memiliki gambaran para Papa yang melakukan skin to skin contact akan duduk, dengan kemeja yang dibuka dan si bayi akan menempel di dadanya. Tak hanya sekadar bonding, tapi ini adalah langkah awal menjalin kedekatan emosi dengan si bayi.


Raka akhirnya duduk, dia memilih bersandar di sofa dengan kancing kemeja yang sudah dia buka. Adista senyam-senyum sendiri melihat suaminya itu. Kemudian, perawat mulai menempatkan Baby Qiana yang hanya mengenakan diapers saja, ditempelkan di dada Raka. Sehingga posisi bayi itu kini seperti Koala.


Kali pertama merasakan permukaan kulit yang lembut dan tubuh Qiana yang hangat, hati Raka sepenuhnya menjadi hangat. Bahkan si Papa itu sekarang terlihat berkaca-kaca merasakan skin to skin dengan Baby Qiana.


"Ma, minta tolong fotokan Mas Raka bisa?" tanya Adista kepada Mama Erina.


Mama Erina kemudian menganggukkan kepalanya. "Bisa, sini. Gemes yah, Dis?"


"Moment pertama untuk Mas Raka dan sekaligus momen emas untuk Qiana nanti. Dia merasakan debaran jantung cinta pertama dalam hidupnya, Papa Raka," balas Adista.


Mama Erina tersenyum mendengarkan ucapan lembut Adista. Begitu juga dengan Bu Ratih yang masih berada di sana. Raka sebenarnya malu, tapi untuk kebaikan bersama, dia mau dan berusaha percaya diri dengan bagian dadanya yang terbuka.


"Diajak bicara, Papa," ucap Adista lagi kepada suaminya itu.


"Benar, Ka. Dulu kamu juga skin to skin gitu. Kelahiran kamu ke dunia itu pokoknya mengubah kehidupan Mama dan Papa," kata Mama Erina.


"Hei, Qiana ... ini Papa, Sayang. Kamu mungil dan cantik. Papa sayang banget sama kamu. Princessnya Papa Raka," katanya lirih.


Seolah Raka hanya berbisik-bisik saja di telinga Baby Qiana. Akan tetapi, untuk Adista itu sudah jauh lebih dari cukup. Berawal dari beberapa kata, nanti pastilah Raka akan mampu mengucapkan berbaris-baris alinea kepada putrinya itu.


"Sudah bahagia yah, Dis," kata Bu Ratih.


"Bahagia banget, Ibu. Sukacita di hati Adista melimpah banget. Beberapa bulan kami berdua benar-benar tidak tahu baby yang kami kandung ini cowok atau cewek. Setiap kali USG selalu sembunyi. Akhirnya, kami memutuskan untuk menunggu saja sampai persalinan. Akhirnya, terjawab sudah, kami dianugerahi baby kecil yang cantik dan sehat," kata Adista dengan mata berkaca-kaca.


"Di USG enggak kelihatan to?" tanya Bu Ratih lagi.


"Iya, Bu. Sembunyi gitu, bagian jenis kelaminnya ditutupi. Ya sudah, malu-malu babynya. Jadinya yah, kami menunggu sampai persalinan aja. Benar yang dikatakan oleh Mas Raka, deg-degannya lebih terasa," kata Adista.


Adista merasakan sendiri bagaimana deg-degannya kala melahirkan. Namun, gender reveal terjadi juga kala Qiana dilahirkan dan Dokter Rinta mengangkatnya, menunjukkan wajahnya kepada Raka dan Adista.


"Padahal keinginan kalian berbeda?" tanya Bu Ratih.


"Baby Qiana sesuai Request-nya Mas Raka kok, Ibu. Alhamdulillah, kami bersyukur dan sangat senang," balas Adista.


"Syukurlah, Mama ikut senang mendengarkannya. Dinikmati dulu masa-masa menjadi orang tua baru. Banyak hal baru dan tak terkira yang nanti akan kalian alami," balas Mama Erina.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Baik, Ma. Kami masih perlu banyak banget belajar. Semoga saja nanti kami bisa menjadi Mama dan Papa yang baik untuk Qiana."


Raka yang sedang skin to skin dengan Baby Qiana turut mendengarkan perbincangan tiga wanita di sana. Walau begitu, Raka juga memiliki harapan yang sama. Dia ingin menjadi Best Daddy untuk Qiana, putri kecilnya.