Staycation With Boss

Staycation With Boss
Sudah Empat Belas Minggu



Sementara itu di Jakarta, Raka baru saja pulang dari La Plazza Hotel dan dia hendak mengajak Adista untuk memeriksakan kondisi kehamilannya. Memang sudah jadwalnya konsultasi sehingga, Raka akan memenuhi janjinya untuk mengantar Adista ke Dokter.


"Ayo Sayang, aku pulang cepat untuk anterin kamu ke Dokter," kata Raka dengan memasuki apartemennya.


"Iya, Mas. Tinggal sisiran aja kok. Lima menit yah," balas Adista.


Raka menganggukkan kepalanya perlahan. Semoga saja memang hanya lima menit. Biasanya wanita kalau sudah berbicara lima menit, ujung-ujungnya bisa lebih dari lima menit. Namun, Raka sabar sehingga dia menunggu dengan tenang istrinya itu. Walau beberapa kali Raka melihat arloji di tangannya.


"Yuk, Mas," kata Adista yang sekarang sudah berdiri di depan suaminya.


"Yuk, kurang dari lima menit," sahut Raka.


"Mas Raka ngitung waktunya yah? Ya ampun, Mas," balas Adista.


"Iseng ngitung waktu aja. Biasanya cewek kan bilang lima menit, ujung-ujungnya bisa setengah jam," balas Raka.


"Cewek yang mana dulu? Mas Raka tahu cewek lainnya yang mana nih selain aku?" tanya Adista.


Dengan cepat Raka menggelengkan kepalanya. "Cuma tahu dari cerita teman-temanku aja. Kalau yang aku kenal ya ada tiga wanita. Mama Erina, Raline, dan kamu. Udah itu aja. Hayo, jangan marah, jangan ngambekan nanti bisa bad mood loh," balas Raka sekarang.


Adista menghela napas panjang. Jujur saja dia tadi sudah mau bad mood dan juga berprasangka yang tidak-tidak. Terlebih Adista juga tidak tahu bagaimana kondisi di La Plazza Hotel. Hanya tahu dari cerita Raka setiap pulang kerja. Akan tetapi, bisa saja Natasha yang dinilai Adista genit itu bisa mengunjungi suaminya di La Plazza Hotel.


"Tuh, udah mulai manyun kan bibirnya. Kalau ngambek, aku gak mau loh, Yang." Raka sudah memperingatkan terlebih dahulu karena sudah terlihat perubahan raut wajah Adista sekarang.


"Abis Mas Raka nyebelin. Katanya cuma aku, terus sebut-sebut cewek lain. Iya, aku tahu ... kata orang aku kan cuma Upik Abu, cantik enggak, menarik enggak, kaya juga enggak," balas Adista kesal.


Raka menahan Adista, sekarang agaknya Raka harus menenangkan Adista dengan segera. Tidak banyak berbicara, Raka segera mencium bibir Adista dengan napas yang memburu. Raka hingga menenglengkan wajahnya, dia kecupi, dia hisap, dan juga dia lu-mat bibir Adista. Tak hanya itu, tangan Raka sengaja memberikan sentuhan di lengan, leher, dan nyaris hendak turun ke area dada. Akan tetapi, sebelum itu terjadi, Adista berhasil menolak. Dia pukul perlahan dada suaminya itu dengan perasaan kesal.


"Nyebelin ... bikin lipstikku hilang," kata Adista dengan bibir lebih manyun.


"Jangan kayak gitu," kata Raka. Usai itu, Raka sengaja membawa satu tangan Adista mendekat ke pangkal pahanya. Menyentuhkan tangan itu dengan milik pusakanya yang sudah mengeras. "Lihatlah, dia hanya bereaksi kepadamu. Tidak akan ada yang lain," kata Raka sungguh-sungguh.


Adista merasa terperanjat, apakah mungkin hanya ciuman di bibir beberapa saat saja sukses membangunkan pusaka keramat milik suaminya? Adista menunduk, lantas dia kembali menatap wajah suaminya.


"Awas, kalau Mas Raka macam-macam, aku khitan lagi."


Mendengar apa yang istrinya katakan, Raka bergidik ngeri jadinya. Tidak disangka istrinya yang lemah lembut bisa segalak ini juga.


"Astaga, galak banget sih. Mending suntik aku aja biar ini gak berdiri selamanya."


Raka mengatakan itu. Daripada ngilu merasakan dikhitan kembali, lebih baik mendapatkan suntikan yang membuat miliknya tidak bisa berdiri lagi. Adista justru terkekeh-kekeh sembari membayangkan yang tidak-tidak di kepalanya.


"Deal."


Lantaran lipstik di bibirnya menjadi hilang dan sedikit belepotan, Adista meminta waktu tambahan untuk memperbaiki lipstiknya. Kali ini Raka sabar menunggu. Tidak melihat arloji di pergelangan tangannya. Walau sesekali dia menatap Adista yang duduk di depan cermin rias.


Setelah selesai barulah keduanya menuju ke rumah sakit. Untung saja lalu lintas terbilang ramai lancar, sehingga keduanya tidak macet di jalan. Setelah itu, Raka yang mendaftarkan Adista dengan menyerahkan buku konsultasi milik istrinya kepada seorang perawat di bagian administrasi.


"Sudah daftar sebelumnya, Pak?" tanya Perawat itu.


"Sudah. Pagi tadi dengan menggunakan whatsapp," jawab Raka.


"Baik, atas nama Mom Adista yah? Silakan ditunggu dulu," balas perawat itu.


Diam-diam, Adista mengamati Raka yang berjalan ke arahnya. Pria tampan dengan berbagai pesona, itulah Raka. Hingga Adista masih berpikir bagaimana bisa seorang Raka jatuh hati kepadanya? Sebab, kalau dipikir-pikir, Adista juga bukan wanita yang cantik layaknya artis atau model. Dia benar-benar sederhana saja.


"Masih nunggu dulu, Sayang," kata Raka dengan duduk di samping Adista.


"Iya, Mas. Kita tunggu bersama. Tadi waktu jalan ke arah sini, kamu cakep banget sih, Mas."


Pujian itu meluncur begitu saja dari bibir Adista, hingga Raka tersenyum mendengarnya. "Tumben kamu muji aku? Itu kamu yang muji atau si baby?"


Adista juga tersenyum dan tidak memberikan jawaban setelahnya. Usai itu, nama Adista dipanggil dan juga diminta untuk menimbang berat badan dan mengukur tekanan darah terlebih dahulu. Setelah itu barulah keduanya menemui Dokter Rinta.


"Selamat sore, Dokter," sapa Adista dan Raka bersamaan.


"Selamat sore. Sudah satu bulan yah berarti?"


"Benar Dokter. Tidak terasa sudah satu bulan sejak saya sakit dulu," balas Adista.


Akhirnya Dokter Rinta mempersilakan Adista menaiki brankar. Ada seorang perawat yang membantu menyingkap kemeja Adista di bagian perut, lantas memberikan USG Gell di sana. Sementara Dokter Rinta sudah bersiap dengan transducer USG di tangannya.


"Nah, ini janinnya Mom Dista yah. Berat badannya 45 gram dan panjangnya dari kepala hingga kaki 9 centimeter. Kalau diperkirakan baru sebesar buah lemon yah, Mom."


"Mom mengalami mual dan muntah tidak? Biasanya di usia 14 minggu ini Bumil akan mengalami mual dan muntah parah," kata Dokter Rinta.


Adista dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Dari awal hamil dulu enggak mual dan muntah itu, Dokter. Tidak morning sickness. Hanya dulu sering berkunang-kunang aja. Sekarang sih, sudah semakin sehat," balas Adista.


"Syukurlah. Kalau hamil sehat enak sekali Mom. Suaminya juga bisa santai. Biasanya kalau morning sickness kan Pak Suami yang panik di pagi hari," jelas Dokter Rinta.


Usai itu, Dokter Rinta menunjukkan detak jantung dari janin itu. Detakan jantung yang membuat Adista bersyukur dalam hati, hatinya juga bergetar mendengar detak jantung janinnya. Raka juga segera memvideo dari monitor USG. Diam-diam pria itu menitikkan air matanya. Benar-benar tidak menyangka sekarang dia bisa mendengarkan detak jantung buah hatinya. Namun, Raka tak menunjukkannya. Walau begitu hatinya benar-benar melimpah dengan kebahagiaan.