
Sore harinya, Raka pulang ke apartemen dan memiliki niatan ingin berbicara jujur dengan istrinya. Bagaimana pun, Raka tidak ingin jika Adista mendengar yang tidak-tidak dari orang lain. Sehingga, Raka memilih untuk segera mengatakan apa yang terjadi hari ini dengan jujur kepada istrinya.
Raka segera menekan bel pintu unitnya, dan beberapa saat kemudian ada Adista yang membukakan pintu untuk suaminya itu. Terlihat Adista yang berwajah sendu. Tidak ada senyuman sama sekali di wajah Adista. Sebab, biasanya Adista selalu menyambut kedatangan suaminya itu dengan senyum sumringah, tapi tidak dengan hari ini.
Raka yang memang melihat perubahan istrinya itu. Pria itu memilih memasuki apartemen terlebih dahulu. Setelah itu, hendak menanyai apa yang terjadi. Hingga Adista terlihat bad mood seperti ini.
"Tolong, bantuin lepasin dasiku dong, Sayang," pinta Raka sekarang.
Tidak menolak. Walau tidak berbicara banyak, tapi Adista tetap membantu suaminya itu. Kini, wanita yang tengah hamil itu berdiri di hadapan suaminya, kakinya sedikit berjinjit, dan mulai berusaha melepaskan dasi di leher Raka. Sementara Raka refleks segera melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Dalam diam, Raka menatap wajah istrinya itu.
Adista berusaha fokus. Walau jujur Adista akui bahwa setiap memasangkan atau melepaskan dasi yang dipakai oleh suaminya membuat Adista berdebar-debar. Jarak yang dekat, dan tatapan Raka seolah membuat ritme jantungnya menjadi tidak beraturan.
Kurang dari dua menit, dasi yang sebelumnya melingkar di leher Raka sudah terlepas. Setelah itu, Adista juga membantu melepaskan jas suaminya. Namun, matanya terbelalak di bagian dada terdapat tanda lipstiks berwarna merah di sana.
Adista lantas mengangkat wajahnya, menatap suaminya. "Kamu habis ngapain, Mas?" tanya Adista.
"Hm, ngapain Sayang?" tanya Raka bingung.
Ibu jari dan jari telunjuk Adista lantas menunjuk dan mengusap perlahan di kemeja yang dikenakan suaminya. Memang terlihat jelas tanda lipstik di sana. Seakan Raka tidak bisa mengelak sekarang.
Raka mencoba bepikir dan mengingat-ingat bagaimana tanda lipstik itu bisa ada di kemejanya. Pria itu memejamkan matanya sesaat, memutar kembali memori dalam otaknya. Hingga akhirnya, Raka menyadari satu hal.
"Pasti ulah Natasha," balasnya.
Raka mengajak Adista untuk duduk terlebih dahulu, kini Raka berbicara dengan menggenggam kedua tangan Adista. "Dengarkan aku, Sayang ... tadi Natasha pergi ke La Plazza. Seperti biasa dia menggangguku, dan berusaha memelukku. Mungkin saat itu, dia sengaja membuat tanda merah di kemejaku," cerita Raka dengan jujur.
Walau sudah jujur, tetap saja Adista sedih. Dia tidak rela ketika ada wanita lain yang memeluk suaminya. Lebih dari itu, membuat tanda lipstik di kemeja suaminya. Bulir bening air mata mulai menitik begitu saja. Adista menjadi enggan untuk bersitatap dengan suaminya.
"Tidak terjadi apa-apa. Setelah itu, aku juga mengelak," balas Raka.
Usai itu, Adista mengambil handphonenya. Dia memperlihatkan rekaman layaknya CCTV dan juga beberapa potret yang masuk dari nomor yang tidak diketahui.
Adista sekarang tidak bisa menahan air matanya. Dia menangis dengan sesegukan. Jujur, di kala kepercayaannya begitu penuh untuk suaminya. Namun, justru dia mendapatkan video dan foto-foto seperti ini. Itu adalah alasan kenapa wajah Adista menjadi sendu.
Raka menghela napas kasar. Benar, itu adalah jebakan. Video dan semua foto itu adalah kejadian yang terjadi di La Plazza tadi dengan Natasha. Walau begitu, Raka berani berjanji bahwa dia tidak melakukan yang senonoh. Raka mengelak, sayangnya ada beberapa titik yang berhasil menjebak Raka.
"Aku dijebak, Sayang ...."
Adista masih menangis. Ketika Raka hendak memeluk Adista dan membawa sang istri dalam dekapannya, Adista menolak. Dia tak ingin dipeluk oleh suaminya. Justru hatinya merasa kesal dan merasa Raka tidak bisa menjaga komitmennya.
"Dengarkan aku, Yang ... aku beneran dijebak. Yang terjadi bukan seperti itu," kata Raka mencoba memberikan penjelasan.
"Ini Mas Raka dan Natasha kan? Buktinya ada, Mas Raka mengelak?" tanya Adista dengan berurai air mata di wajahnya.
"Itu memang benar. Itu hanya jebakan yang sengaja dibuat Natasha. Please, percayai aku, Sayang."
Raka meminta Adista untuk bisa percaya kepadanya. Sebab, Raka benar-benar bertindak tidak di luar batas. Komitmennya untuk Adista tetap dia perjuangkan. Sekarang, Raka yang sudah emosi, mengambil handphonenya. Dia menelpon ke La Plazza untuk tidak memberikan akses kepada Natasha. Bahkan wanita itu dicekal untuk masuk ke dalam La Plazza Hotel.
"Dia sudah dicekal dari La Plazza Hotel. Jangan khawatir. Aku pastikan komitmenku penuh kepadamu, Sayang ...."
Raka berbicara demikian dengan sungguh-sungguh. Adista masih menangis. Alhasil, sore hingga malam hari seolah terjadi perang dingin di antara keduanya. Adista menjadi diam. Raka juga merasa serba salah karenanya. Hingga malam tiba, Adista yang berbaring di ranjang memunggungi suaminya itu.
Raka yang tidur telentang pun perlahan mengubah posisinya menjadi miring. Pelan-pelan dia mendekati Adista dan juga memeluk istrinya itu dari belakang.
"Boleh marah ... tapi jangan berlama-lama. Sayang, tolong percayai aku," kata Raka.
Adista memang sudah memejamkan matanya. Namun, sesungguhnya dia belum tertidur sama sekali. Adista masih terjaga. Biasanya dia tertidur di pelukan suaminya. Didekap hangat oleh suaminya, tapi sekarang memunggungi seperti ini membuat tidur menjadi kurang nyenyak. Walau begitu, Adista membiarkannya.
"Mulai besok, ikut aku bekerja saja, Yang ... biar kamu tahu sendiri bagaimana suamimu ini. Aku berikan bukti nyata bahwa aku memang tidak macam-macam."
Itu adalah keputusan Raka. Alih-alih banyak berbicara, Raka memilih mengajak Adista bekerja dengannya. Lagipula di ruangannya ada kamar untuk beristirahat, istrinya yang hamil itu bisa beristirahat di sana. Raka akan berusaha untuk menyingkirkan keraguan di hati Adista.