
"Kenapa Mas Raka tidak pernah menceritakan kisah masa lalunya? Sampai Rayyan yang harus berbicara terlebih dahulu kepadaku," kata Adista sekarang kepada suaminya.
"Aku sudah lama melupakannya. Sungguh, bahkan aku yakin tidak ada lagi tempat di hatiku untuknya. Bertahun-tahun lamanya, sudah berlalu," balas Raka.
Adista terdiam. Tadi dia berkata sudah memilih untuk mempercayai suaminya. Lagipula, itu memang sudah begitu lama. Sejak Raka masih SMA.
"Pernah bertemu lagi setelahnya?" tanya Adista.
Raka menggelengkan kepalanya. "Tidak. Bahkan, aku berharap tidak akan bertemu lagi," kata Raka.
"Takut teringat masa lalu?"
"Bukan juga. Aku hanya tak menginginkannya. Semua masa lalu biarlah tersimpan rapat di belakang kita. Aku pernah memberikanmu PR untuk membereskan hatimu dan perasaanmu kepada Rayyan. Semua itu karena aku sudah terlebih dahulu membereskan hatiku," kata Raka.
Adista menatap wajah suaminya yang sekarang terlihat sangat serius itu. Ketika Raka memintanya untuk membereskan hatinya apakah semua itu karena Raka terlebih dahulu sudah membereskan hatinya? Jadi, semua berdasarkan pada pengalamannya sendiri.
"Berapa lama Mas Raka membereskannya?" tanya Adista.
"Sayangnya, waktu itu cukup lama. Satu tahun pertama di luar negeri. Pelariannya dengan belajar dan berorganisasi. Aku alihkan ke sana. Kamu bahkan jauh lebih cepat," balas Raka.
"Aku hanya berusaha ikhlas dan menerima takdirku sebenarnya. Aku tak mau menjadi istri berdosa, mungkin Allah yang membukakan jalan. Mendengar namanya tidak akan mengubah perasaan Mas Raka kan?" tanya Adista.
Raka menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya kamu, Sayang."
Menyelesaikan jawabannya, Raka menjatuhkan kecupan di bibir Adista. Dia membiarkan bibirnya bertengger sekian detik di bibir Adista. Raka sangat yakin dengan perasaannya. Tidak akan berpengaruh apa pun, yang dia cintai sekarang adalah Adista. Wanita yang dia perjuangkan bahkan demi Adista, Raka siap tak mengalah dengan adiknya. Berawal dari sekadar mengecup, perlahan-lahan Raka membuka bibirnya. Dia memagut permukaan bibir yang hangat, kenyal, dan selalu manis kala dia menyapanya. Raka memejamkan matanya, sedikit memiringkan wajahnya. Cara Raka memagut bibir Adista benar-benar lembut. Dia tidak segan memberikan tekanan dalam pergerakan bibirnya, membawa bibir Adista menari-nari.
Sementara Adista merasakan ciuman suaminya sangat lembut. Namun, ciuman yang lembut ini justru membuat Adista meremang. Oleh karena itu, Adista yang semula kedua tangannya luruh, kini mulai meremas helai demi helai rambut suaminya. Adista berusaha mengikuti rima yang dilakukan suaminya. Entah, rasanya ini bukan sekadar ciuman, tapi cara Raka menunjukkan perasaannya. Adista tahu bahwa suaminya bukan pria yang pandai merangkai kata-kata, karenanya Adista berusaha masuk dalam rima itu. Kala dua bibir bertemu satu sama lain saling mengecup, membuka sesaat, dan mengatup sejenak untuk kembali memberikan pagutan, Adista ingin Raka tidak main-main dengan perasaannya.
Makin lama, ciuman Raka makin dalam. Tak hanya itu, pagutan yang semula begitu lembut perlahan-lahan mulai menggebu-gebu. Mata kian terpejam, wajah kadang kala bergerak ke kanan dan ke kiri, bibir yang tak henti-hentinya memagut dan menghisap.
Sampai akhirnya, Adista justru menitikkan matanya. Ya, buliran bening itu keluar dengan sendirinya dari kedua pelupuk matanya. Buliran yang membuat wajah Adista basah. Merasakan perbedaan di wajah istrinya, Raka menarik wajahnya sesaat, dia tatap wajah Adista dengan mata yang masih terpejam, bibir yang bengkak di sana, dan Raka dengar isakan lirih dari istrinya.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Raka.
Adista membuka matanya perlahan. Lantas dia menggelengkan kepalanya, di saat bersamaan, Raka segera merengkuh tubuh istrinya. Raka membawa kepala Adista mendekat ke dadanya. Raka baru tahu di tengah ciuman yang dalam, seorang wanita bisa menitikkan air matanya.
"Jangan menangis. Jangan takut, aku akan buktikan semuanya. Natasha itu hanya masa lalu, sudah kulupakan. Itu hanya sekadar cinta terpendam dan sudah ku kubur sekalian. Masa kini dan masa depanku adalah bersamamu. Istriku dan calon Mama dari semua keturunanku," balas Raka.
"Mas Raka yakin?" tanya Adista.
"Iya, aku dulu hanya menyukainya dalam diam saja. Layaknya anak remaja berseragam SMA yang naksir temannya. Itu saja. Percayalah, Yang. Aku paling tidak bisa berbohong. Sekarang, aku juga berkata jujur kepadamu," balas Raka.
Setelah itu, Adista mengangguk perlahan. Kali ini dia akan memilih untuk mempercayai suaminya lagi. Semoga saja kepercayaan Adista itu tidak akan diciderai oleh suaminya sendiri.
"Suatu saat nanti, jika mungkin kita bertemu dia, Mas Raka bilang saja kalau ingin mengobrol atau sebagainya. Aku akan berusaha menerima. Namun, kalau suatu saat Mas Raka merasa sudah tidak membutuhkan aku, bilang saja juga. Aku akan sukarela pergi dari sisi Mas Raka," kata Adista.
"Tidak seperti itu. Kamu sudah membuatku jatuh cinta dan mengisi hatiku dengan pesonamu sendiri. Aku akan membuatmu selamanya di sisiku," balas Raka.
Adista terdiam dengan beberapa isakan lirih yang masih terdengar. Hingga akhirnya, Raka mengurai pelukannya, dia menyeka sisa-sisa air mata di wajah istrinya.
"Jangan takut berlebih. Jangan berpikir macam-macam. Ingat, ada buah cinta kita berdua di sini. Mama Dista gak boleh stress, kasihan bayi kita. Mau ice cream?" tawar Raka dengan tiba-tiba kepada istrinya.
Adista menggelengkan kepalanya. "Aku bukan anak kecil yang dihibur dengan ice cream," balas Adista.
"Jadi, kamu ingin aku menghiburmu dengan cara apa?" tanya Raka.
"Tidak perlu. Yang aku mau, Mas Raka tidak akan berubah. Yang aku mau, yang pasti aku bukan menjadi tempat pelampiasan bagi Mas Raka. Kalau itu sampai terjadi, aku ... aku tidak akan bisa lagi," balas Adista.
Lagi-lagi dia meneteskan air matanya. Rasanya kalau sudah terlanjur cinta, dan kemudian ada nama wanita lain yang muncul, ada kisah masa lalu yang muncul itu membuat Adista sedih. Ada ketakutan sendiri jika suaminya akan berubah suatu hari nanti.
"Percaya aku, tidak akan pernah aku melakukan itu. Semoga dengan semuanya ini, hubungan kita berdua akan semakin kuat. Jangan takut, fokus ke buah hati kita berdua. Jangan stress."
Raka mengatakan semuanya. Dia sekarang berbicara dengan sungguh-sungguh bahwa Raka tak ingin Istrinya kembali stress yang berakibat tidak baik bagi buah hatinya.
"Kamu tidak mau ice cream kan? Jadi, aku peluk aja. Mama Dista, jangan nangis dan sedih-sedih lagi. Ketika kamu sedih, bukan hanya babynya yang sedih, Papa Raka juga sedih," kata Raka.
Adista tersenyum perlahan dengan mendaratkan sebuah pukulan di dada suaminya. Adista juga berkata pada dirinya sendiri semoga saja hubungannya dengan Raka akan semakin kuat. Pernikahan dan cinta ini masih seumur jagung, tapi Adista ingin ikatan cinta ini akan bertahan lama.