Staycation With Boss

Staycation With Boss
Pertemuan Dua Keluarga di Paris



Beralih sejenak ke Paris ....


Hari ini adalah hari kedua Papa Zaid, Mama Erina, dan Rayyan berada di Paris. Agaknya sekarang Raline berpikir ingin melanjutkan saja kuliah di Inggris. Apabila bisa satu kampus dengan sahabatnya yaitu Eiffel rasanya baik.


"Mama dan Papa, kalau Raline transfer ke London seperti Eiffel bagaimana yah?" tanya Raline sekarang.


"Yakin, kamu ingin kuliah di London? Tidak ingin pulang ke Jakarta?" tanya Papa Zaid.


Raline terdiam. Sebenarnya cita-citanya memang lulus dari universitas di luar negeri. Ingin seperti Kakak Raka yang menyelesaikan kuliah di negeri Paman Sam.


"Coba dipikirkan dulu, Line. Mama dan Papa pasti mendukung. Asalkan kamu komitmen untuk menyelesaikannya. Pastikan tidak tinggal di tempat yang sedang berkonflik seperti Paris," kata Mama Erina.


Pandangan Mama Erina sebagai orang tua adalah ingin anak-anak bersekolah di tempat yang akan. Memiliki kondisi politik yang aman juga. Dengan begitu, tidak terjadi berbagai kekerasan seperti ini. Anak-anak saat menuntut ilmu juga lebih fokus.


"Ngobrol dulu sama Eiffel. Kamu ingin barengan sahabatmu itu kan?" tanya Mama Erina lagi.


Raline kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Ma. Setidaknya ada seorang sahabat itu jauh lebih baik. Ada tempat mengobrol dan juga tidak begitu kesepian."


Mama Erina dan Papa Zaid juga memahami apa yang dikatakan Raline. Memang ketika tinggal di negeri asing memiliki teman baik itu setidaknya ada alasan yang membuat seseorang menjadi betah. Terlebih Raline yang bisa dekat dengan sahabatnya sendiri.


"Katanya pengen pulang dan kuliah di Jakarta, Kak? Kenapa sekarang berubah pikiran?" tanya Rayyan.


"Kan kamu juga kuliah di London, Ray ... hanya cuti. Kalau kita kuliah satu negara, satu kota juga tidak ada salahnya. Lagipula ada sahabatnya Kakak juga," balas Raline.


Di tengah-tengah diskusi keluarga Syahputra, terdengar ketukan pintu di apartemen yang Raline tempati. Kali ini, Rayyan yang berdiri dan berniat untuk membukakan pintu.


"Biar Rayyan aja," kata pemuda itu.


Akhirnya, Rayyan segera berdiri dan membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, tampak ada Eiffel dengan kedua orang tuanya.


"Ray, Raline ada?" tanya Eiffel.


"Ada, silakan masuk," balas Rayyan.


Ketika tiga orang itu masuk, cukup kaget. Terlebih Papa Zaid dengan kedua orang tua Eiffel. Sampai Papa Zaid sontak berdiri.


"Eiffel, sama siapa? Loh ...."


"Perkenalkan, Om Zaid. Ini Papa dan Mamanya Eiffel dari Jakarta," balas Eiffel.


Benar-benar tidak menyangka rupanya orang tua Eiffel bukanlah sosok asing untuk Papa Zaid. Melainkan adalah orang yang sudah Papa Zaid kenal. Mengenal dengan baik malahan.


"Bro," sapa Papanya Eiffel yang segera memberikan pelukan kepada Papa Zaid.


"Di Jakarta kita jarang banget ketemu, justru kita ketemu di Paris," balas Papa. Zaid.


"Papa sudah kenal dengan Om Belva dan Tante Sara?" tanya Raline.


Papa Zaid mengangguk perlahan. "Bukan hanya kenal, tapi kenal banget."


Mama Erina turut menyapa dan berpelukan sembari mencium pipi kanan dan pipi kiri Mama Sara. Mama Erina juga mengenal Mama Sara, dulu sekali Mama Sara pernah mempercayakan seragam karyawan Coffeeshop miliknya kepada Mama Erina.


"Aku sudah menua, Jeng. Sudah punya menantu loh aku," balas Mama Sara.


"Evan yah yang udah menikah?" tanya Papa Zaid.


Dengan cepat Mama Sara dan Papa Belva menggelengkan kepalanya. "Evan malahan masih bujang. Belum menikah. Adiknya Evan justru yang sudah menikah duluan," jawab Papa Belva.


"Loh, jadi adiknya duluan yang menikah? kok enggak undang-undang sih. Wah, kalian ini bener-bener," balas Papa Zaid dengan menggelengkan kepalanya.


"Iya, adiknya duluan yang menikah," balas Mama Sara.


"Sebentar-sebentar, jadi Eiffel ini adiknya Evan?" tanya Papa Zaid.


"Iya, adiknya Evan. Putri bungsu dan satu-satunya. Evan juga memiliki satu adik cowok, namanya Elkan. Sudah menikah malahan Si Elkan," jawab Papa Belva sekarang.


Begitu lama tidak bertemu keluarga Agastya ternyata sudah ada tiga anak yang Mama Sara lahirkan untuk Papa Belva. Selain itu, seolah dunia begitu sempit karena Eiffel ini tak lain adalah putri rekan lamanya dulu, Mama Sara dan Papa Belva.


"Kok Papa bisa kenal sih?" tanya Raline.


"Siapa yang gak kenal dengan pengusaha top di bidang properti seperti Om Belva Agastya ini, Raline," balas Papa Zaid.


Sebenarnya apabila ditarik ke belakang lagi, Papa Zaid lama mengenal Mama Sara dan Papa Belva. Keduanya bukan sosok yang asing untuk Papa Zaid. Mama Sara sendiri adalah cinta pertama untuk Papa Zaid. Cinta yang tidak harus memiliki. Cinta yang pada akhirnya Papa Zaid memilih mengikhlaskan Mama Sara untuk pria yang sampai kapan pun hanya dicintai Mama Sara yaitu Belva Agastya.


Mama Erina tersenyum. Terkait masa lalu suaminya, tentu saja dia tahu. Sebab, Papa Zaid menceritakan dengan terbuka dulu. Namun, sudah tidak ada rasa cemburu karena saling mempercayai pasangan, dan ada komitmen untuk menutup masa lalu.


"Oh, Elkan sudah menikah yah. Kupikir bisa menjodohkan Elkan dengan Raline putriku," kata Papa Zaid.


"Kalau Elkan sudah tak bisa diganggu-gugat. Dia sudah memiliki gadis impiannya sejak kecil. Cinta masa kecilnya, yang kini menjadi istrinya. Orang tuanya juga sahabat baikku, sudah seperti keluarga," jelas Papa Belva.


Papa Zaid dan Mama Erina terkejut juga. Ada orang yang berhasil menikahi cinta masa kecilnya. Elkan pun menjadi salah satu di antaranya. Selain itu, latar belakang keluarga menantu Agastya yang sudah seperti sahabat dan keluarga sendiri, pastilah membuat pernikahan Elkan dan istrinya begitu bahagia.


"Papa ih," balas Raline.


"Bercanda, Line. Kan putranya Om. Belva ini juga Papa mengenalnya. Kalau sudah menikah dan menemukan jodohnya sendiri ya bagus," balas Papa Zaid dengan tenang.


"Ini adik-adiknya Raka yah berarti?" tanya Papa Belva.


"Benar ... Raline, putri tunggal sekaligus anak keduaku, dan ini Rayyan, putra bungsuku," balas Papa Zaid.


Papa Belva sekarang menganggukkan kepalanya. Keluarga Agastya dan Keluarga Syahputra rupanya sama-sama memiliki tiga orang anak. Sama-sama memiliki dua anak laki-laki dan satu anak perempuan juga.


"Kami itu datang untuk kenalan dengan orang tua sahabatnya Eiffel. Benar-benar gak nyangka, teman lama malahan," kata Mama Sara.


"Dunia selebar daun kelor benar adanya yah? Makanya aku itu heran waktu tanya-tanya ke Eiffel kalau Mamanya berbisnis skincare. Wah, rupanya Jeng Sara, pemilik SaVa Beauty Care," kata Mama Erina kagum.


"Biasa aja, Jeng. Senang bisa bertemu dan anak-anak kita bersahabat karib satu sama lain," balas Mama Sara.


Itulah keluarga Agastya yang kaya raya, tapi begitu santun. Mereka juga tidak menyombongkan diri dengan kekayaan yang mereka miliki. Justru terlihat sederhana, dan begitu harmonis.