
Menjelang siang, Raka memilih istirahat sebentar di rumah mertuanya. Hanya sekadar rebahan saja di ranjang milik Adista yang berukuran Single Bed. Ranjang yang kecil, membayangkan saja, pasti semalam tidur di sini hanya muat satu rebah, dan satunya berbaring miring dengan tubuh yang sama-sama menempel satu sama lain. Sementara, Adista masih di luar. Dia sudah meminta izin suaminya untuk memberikan sedikit dari penghasilannya untuk orang tuanya. Raka juga tahu, dia memilih berada di dalam kamar. Pasti kalau dia turut duduk di ruang tamu, mertuanya akan sungkan kepadanya.
"Bapak dan Ibu, ini Dista berikan sedikit untuk Bapak dan Ibu," kata Dista dengan memberikan sebuah amplop coklat yang di dalamnya berisi uang. Jumlahnya memang tidak seberapa, hari sebagian dari gaji yang didapatkan Adista.
"Gak usah, Dista. Sekarang kan kamu sudah menikah. Tidak usah memberikan lagi untuk Bapak dan Ibu. Kami tidak mau merepoti kalian berdua. Terlebih Raka yang memang kaya raya, jangan sampai dia mengira kami memberatkan dia," kata Bu Ratih.
Bu Ratih hanya tidak mau dan tidak enak. Nanti mentang-mentang memiliki menantu kaya raya dikira hanya mengeruk keuntungan saja. Sebisa mungkin Bu Ratih tidak ingin merusuhi anak-anak lagi. Selain itu, dia tidak ingin merepotkan dan membebani Raka, menantunya.
"Mas Raka baik kok, Bu," balas Adista.
"Kami tahu, Raka memang baik. Akan tetapi, menerima kebaikan secara terus-menerus juga sungkan," balas Pak Gusti.
Baik Pak Gusti dan Bu Ratih tidak menampik bahwa menantunya itu memang sosok yang baik. Akan tetapi, mereka juga merasa sungkan kalau terus-menerus menerima kebaikan dari Raka. Bu Ratih sendiri mentaksir untuk hadiah peralatan sekolah untuk Desta saja sudah habis banyak. Mereka memang orang tidak punya, tapi bisa melihat dari Tas dan Sepatu untuk Raka saja harganya pastilah mahal.
"Kalau ini dari Dista sendiri kok, Pak ... bukan dari Mas Raka. Dista sebelumnya sudah berbicara dengan Mas Raka kok," kata Dista sekarang.
Ya, beberapa hari sebelumnya Dista sudah berbicara dengan suaminya. Saat memberikan untuk orang tuanya. Raka juga tak keberatan, bahkan jika Dista memakai uang pun Raka sama sekali tidak keberatan. Namun, Adista sendiri yang menolak karena tidak ingin memakai uang suaminya. Sebab, tidak ingin ada percek-cokan di kemudian hari.
"Bapak dan Ibu itu sudah bersyukur memiliki menantu yang baik. Raka ngemong sama kamu, sabar. Selain itu sabar juga kepada Desta. Untuk orang tua melihat anaknya mendapatkan orang yang tepat dan sabar itu sudah bahagia, Dis," kata Pak Gusti.
Mengingat masa berkenalan Dista dan Raka tidak lama, juga terpaut strata sosial yang jauh, jujur saja membuat keluarga Adista menjadi sungkan. Ketika Raka bisa menyayangi Dista dan memberikan kebahagiaan untuk anak perempuannya saja, Pak Gusti dan Bu Ratih sudah merasa sangat bahagia.
"Diterima yah, Bu ... selama Dista masih bekerja, Dista akan selalu memberikan untuk keluarga ini. Hanya sedikit," kata Adista.
"Baiklah, makasih yah Dista. Selalu menjadi anak yang membantu orang tua. Kamu sudah sangat meringankan beban kami. Sebagai anak bahkan kamu tidak pernah meminta kepada Bapak dan Ibu. Kadang hati Ibu sudah sedih karena tidak bisa memberikan hal yang berharga untukmu," kata Bu Ratih.
Itulah faktanya, Adista selalu bersyukur untuk keadaannya. Bahkan dia tidak pernah meminta kepada Bapak dan Ibunya. Adista memilih bekerja, jika ada sisa uang barulah dia membeli sesuatu yang memang dia inginkan. Penghasilan sebulan dipakai Adista untuk memberi orang tuanya, ada kalanya dulu membantu menebus obat yang tidak tercover asuransi, dan juga biaya transportasi sebulan. Sisa berapa pun, Adista tak pernah mengeluh.
"Sama-sama Ibu. Hanya ini yang Dista berikan," kata Adista.
Usai berbicara dengan orang tuanya, Adista baru menyusul suaminya yang ada di dalam kamarnya. Raka yang semula rebahan sekarang duduk di depan meja belajar Adista. Dia mengamati beberapa foto Adista saat masih SMA yang memang ditempel di meja belajar.
"Mas, enggak tidur yah?" tanya Adista sembari memasuki kamar.
"Enggak, lihatin foto kamu. Rupanya Adista bisa alay juga yah," komentar Raka.
Adista mengernyitkan keningnya. Dia tidak menyangka suaminya itu mengomentarinya alay. Sampai akhirnya Adista mendekat dan melihat foto mana yang membuatnya terlihat alay.
"Foto yang mana?" tanyanya.
"Ini, yang ponian ini. Keliatan alay," balas Raka.
"Ih, ini dulu trend di zamannya. Ponian kayak gini," balas Adista.
"Tapi, mereka seksi ya Mas?" tanya Adista dengan tiba-tiba.
"Ya, biasa aja sih. Tergantung selera. Udah tadi bicaranya sama Bapak dan Ibu?" tanya Raka.
Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, sudah. Bapak dan Ibu senang banget memiliki menantu sebaik kamu. Makasih, Mas ... sudah baik kepada keluargaku," balas Adista.
"Kan baik hati itu kewajiban, gak perlu berterima kasih. Sudah ah, aku kan juga gak ngapa-ngapain. Foto SMA kamu yang lain mana, Yang?" tanya Raka kemudian.
"Ya, kan Bapak dan Ibu senang. Kamu juga menjadi kakak yang baik untuk Desta. Aku akan senang kok," balas Adista.
"Kalau senang, give me a kiss dulu," pinta Raka dengan menunjuk bibirnya.
Adista memukul dada suaminya itu. Aneh-aneh saja Raka. Sekadar bentuk kebahagiaan dia justru minta dicium. Adista sampai menggelengkan kepalanya.
Raka tak tinggal diam, dia membawa tangannya ke pinggang istrinya yang ramping itu, kemudian memangku Adista. "Kursi kamu ini kayu yah, semoga kuat kita pakai berdua," kata Raka.
"Kuatnya sih kuat, kan ini dari kayu jati. Kuat dan awet. Cuma aku yang gak nyaman, Mas," aku Adista.
Raka kemudian menatap wajah istrinya yang kini jaraknya cukup dekat dari. wajahnya itu. "Tidak nyaman kenapa emangnya? Biasanya kamu nyaman-nyaman aja aku pangku kayak gini," balas Raka.
"Aku belum selesai. Jadi, tidak nyaman."
Raka kemudian mengangguk perlahan, dia tahu apa yang dimaksud oleh istrinya itu. Namun, Raka masih ingin berdekatan dengan istrinya sendiri. Walau memang belum bisa melakukan hubungan suami istri karena Adista masih berhalangan.
"Buruan selesai yah, aku udah kangen," kata Raka lirih.
"Iya, nanti kalau udah bener-bener bersih pasti juga aku beritahu kok," balas Adista.
"Nah, gitu pinter. Pokoknya jangan berterima kasih terus kepadaku. Aku baik kepada kalian yah simpel karena kalian keluargaku juga. Aku tidak membedakan orang tua kandung dan mertua. Itu yang Papaku ajarkan dulu," kata Raka.
"Didikannya Papa Zaid keren yah, andai kamu lebih ramah kayak Papa Zaid, Mas," kata Adista.
Raka kemudian menggelengkan kepalanya. "Gak, gini saja. Ramahnya sama kamu dan keluarga aja."
"Ish, pencitraan," sahut Adista.
"Biarin. Yang tahu aku bagaimana cukup kamu saja," balas Raka.
Itulah Raka. Dikira pencitraan pun tidak masalah. Kehangatan dan sikapnya yang ramah hanya dia tunjukkan kepada Adista dan keluarganya saja. Sebab, menurut Raka hanya istri dan keluarganya saja yang adalah orang terdekat untuknya. Oleh karena itu, Raka cukup bersikap hangat dan ramah kepada keluarganya.