
Mau tidak mau, Adista harus berada di apartemen saja. Walau Adista merasa lebih baik, tapi Raka sudah memintanya mengambil cuti terlebih dahulu. Tidak memaksakan bekerja.
"Aku berangkat dulu ya, Sayang. Maaf, aku harus ke La Plazza sebentar," kata Raka.
Sebenarnya Raka juga tidak enak hati harus meninggalkan istrinya bekerja. Akan tetapi, lantaran ada meeting penting, Raka terpaksa harus ke hotel terlebih dahulu. Raka berjanji tidak akan terlalu lama. Begitu semua sudah selesai, Raka akan langsung pulang.
"Iya, Mas ... hati-hati," balas Adista.
"Kamu juga yah, jangan berpikiran macam-macam. Jangan memikirkan Rayyan, pikirkan aku saja," balas Raka.
Adista hanya tersenyum melihat suaminya yang akhirnya sekarang benar-benar berangkat ke La Plazza. Sementara Adista memilih untuk istirahat saja di atas tempat tidur. Sebenarnya Adista masih ingin bekerja, masih ingin menghasilkan uang sendiri, selain itu Adista merasa tidak ingin membebani suaminya dengan beban hidup keluarganya. Berbeda ketika memberi keluarga dengan penghasilan sendiri, sehingga di kemudian hari jika ada perselisihan, Adista merasa juga suaminya tidak akan memojokkannya.
Waktu tenang untuk Adista. Selain itu, Adista juga berusaha mengurai masalah pelik antara dia dan Rayyan. Sebelumnya, Adista merasa kembalinya Rayyan ke London sudah menyelesaikan masalah. Ternyata, hanya satu bulan saja kembali ada masalah baru untuknya.
Akan tetapi, kali ini Adista sungguh-sungguh dengan perasaannya. Ya, perasaan Adista sekarang benar-benar cinta. Bukan sekadar emosi atau tindakan impulsif belaka.
"Aku juga bingung Mas Raka. Kamu datang sendiri ke dalam hidupku dengan caramu. Aku yang semula tidak suka, bisa menjadi suka, bahkan cinta kepadamu. Selain itu, kamu juga sangat baik kepada keluargaku dan Desta," gumam Adista seorang diri.
Tidak dipungkiri jika cinta butuh alasan, rasanya banyak alasan yang membuat Adista sampai akhirnya bisa jatuh cinta kepada suaminya. Di balik ekspresi Raka yang dingin, bicaranya yang spontanitas, dan hasratnya yang menggebu-gebu, tapi ada sisi lain yang menarik untuk Adista.
Praktis siang itu, malahan Adista memikirkan suaminya itu. Mengenang momen-momen di mana Raka sampai pada titik bisa membuatnya jatuh hati. PR yang diberikan Raka membuat Adista bisa membereskan perasaannya, bisa membuat Adista mencintai Raka. Setelah itu, Adista justru tertidur.
Mungkin saking terlelapnya Adista sampai tidak mendengar bel apartemennya berbunyi. Raka yang sudah pulang dari La Plazza sampai melihat rekaman CCTV di handphonenya dan melihat apa yang dilakukan istrinya. Akhirnya, Raka mengetahui bahwa istrinya tertidur. Oleh karena itu, Raka memutuskan untuk masuk ke dalam unit apartemennya.
Pria itu begitu datang memilih tidak terlalu berisik, setiap tindakannya juga sangat hati-hati, tidak menimbulkan suara. Hingga akhirnya, Raka memilih mandi lebih dulu. Usai mandi, Raka kemudian menyusul ke ranjang. Pria itu pelan-pelan mendekap Adista dari belakang. Kalau boleh jujur, baru semalam pisah ranjang dengan Adista sekarang, Raka sudah rindu dengan istrinya itu.
Pria itu hanya sekadar memeluk istrinya itu. Tidak melakukan sesuatu yang lebih. Walau hasrat itu tiba-tiba saja datang, tapi Raka memilih meredamnya. Raka teringat untuk mengurangi frekuensi berhubungan suami istri terlebih dahulu.
Entah berapa lama waktu berlalu, hingga akhirnya Adista terbangun di dalam pelukan suaminya. Wanita itu mengerjap lagi dan bertanya-tanya kapan suaminya itu pulang. Jika suaminya sudah pulang, bagaimana bisa Adista sampai tidak tahu.
Sementara Raka yang memang tidak tertidur terlihat santai saja. Pria itu hanya menyunggingkan sedikit senyuman di bibirnya dan mengusap puncak kepala Adista.
"Sudah bangun?" tanyanya.
"Mas Raka sejak jam berapa pulangnya?" tanya Adista.
"Kamu itu kebiasaan deh, Sayang. Kalau ditanyain malahan balik tanya," balas Raka dengan mencubit hidung istrinya itu.
Adista memanyunkan bibirnya dan mengusap hidungnya yang usai ditarik suaminya. "Ya udah bangun, kan aku sudah membuka mata. Aku bingung tiba-tiba Mas Raka kok udah di sini."
"Kamu tidurnya terlalu lelap, sampai enggak dengar kalau belnya berbunyi. Aku sampai cek CCTV unit kita, ternyata kamu bobok. Ya sudah, aku masuk sendiri. Sudah diminum tadi obatnya?"
Adista menggelengkan kepalanya. "Belum, kan obatnya sehari satu kali aja, Mas. Tadi enggak lama setelah kamu berangkat, aku langsung tidur kok."
"Awalnya aku takut kalau Mama dan Papa memintaku membantu sampai Rayyan pulih. Maaf, aku sekarang jadi tidak nyaman dengan Rayyan. Termasuk kadang dia yang sengaja menggenggam tanganku. Sudah tidak pantas, Mas. Tidak berkenaan dengan etika," balas Adista.
Raka menganggukkan kepalanya perlahan. Bukan bermaksud menyudutkan atau berat sebelah ke salah satu pihak. Akan tetapi, Raka memang menyadari bahwa Rayyan juga sebaiknya tidak menyentuh Adista yang kini menjadi kakak iparnya seperti itu.
"Awalnya aku juga merasa begitu kok. Takut kalau kita dipisahkan."
"Mas Raka juga punya rasa takut?" balas Adista dengan menatap wajah suaminya.
"Ya, ada, Yang. Aku cuma manusia biasa. Punya ketakutan. Terlebih aku seorang kakak, takut kalau seorang kakak harus mengalah kepada adiknya sendiri yang sedang sakit."
Raka juga menjelaskan semuanya. Namun, di satu sisi Raka yakin bahwa Mama dan Papanya tidak akan melakukan itu.
"Besok aku boleh bekerja, Mas?" tanya Adista lagi.
"No, tidak boleh. Lusa saja," balas Raka.
"Kan aku sudah sehat, Mas. Aku juga udah melakukan PR dari kamu untuk tidak memikirkan yang aneh-aneh. Cukup memikirkan kamu aja, sampai tidurku pules banget," balas Adista.
Raka tersenyum, mungkin itu adalah cara istrinya untuk mengambil hatinya. "Gak boleh. Lusa. Besok istirahat lagi, aku temenin setengah hari," balas Raka.
Adista membuang napas panjang. Tidak mengira sampai suaminya sendiri yang akan menemaninya hingga setengah hari. Padahal, sekarang saja Adista sudah merasa lebih sehat.
"Prioritaskan buah hati kita. Jangan sampai ketika terjadi apa-apa, kita yang menyesal." Raka berkata demikian.
Adista terdiam sejenak. "Kan aku sudah sehat, Mas. Aku janji sama Mas Raka gak akan pingsan-pingsan lagi."
"Udah, jangan membantah. Turuti suamimu ini. Kamu sebulan ngasih Bapak dan Ibu berapa?" tanya Raka kemudian.
"Hm, kenapa emangnya?"
"Nanti kalau kamu udah resign, aku saja yang memberikannya. Tetap kamu yang akan menyerahkannya langsung biar Bapak dan Ibu tidak sungkan sama aku," kata Raka.
"Aku gak mau kalau misalnya di kemudian hari kita cek-cok dan Mas mengungkit-ungkit uang yang diberikan untuk orang tuaku," balas Adista.
"Allah saksiku. Tidak akan pernah, Yang," balas Raka dengan sungguh-sungguh.
"Janji?"
"Janji. Intinya kamu fokus dulu. Banyak pasangan yang belum Allah percayai keturunan walau bertahun-tahun menikah. Kita termasuk diberkahi Allah," balas Raka.
Adista terdiam lagi. Rupanya suaminya juga cukup bijak menyingkapi sesuatu. Hal-hal dan kepribadian Raka seperti ini yang membuat Adista jatuh hati kepada suaminya sendiri.