Staycation With Boss

Staycation With Boss
Sakit Mendadak



Tidak terasa sepekan sudah berlalu. Komunikasi antara Adista dan Raka hanya di waktu tertentu saja. Walau begitu, setiap hari keduanya tetap bertukar pesan. Beberapa hari sebelumnya, Adista selalu bangun dengan kesedihan yang melingkupi hati.


Namun, hari ini Adista bangun dengan badan yang terasa seperti meriang. Adista masih berada di ranjangnya dan membaca pesan dari suaminya yang masih memintanya menunggu, membaca deretan pesan itu saja Adista kembali menitikkan air mata.


"Sudah seminggu Mas Raka ... kira-kira kapan kita bisa bersua? Memeluk rindu seperti ini sangat berat," gumamnya dengan menyeka air mata yang jatuh hingga ke layar handphonenya.


Usai itu, Adista memilih mandi air hangat. Bagaimana pun harus ke hotel untuk bekerja. Walau badan terasa meriang. Usai mandi, Adista hanya mengusapkan Minyak kayu putih di dada dan perutnya saja. Kalau pun masuk angin, semoga saja bisa segera sembuh. Selain itu, Adista meminum satu sachet obat pereda masuk angin herbal. Adista merasa lebih baik, lalu dia segera memesan taksi dan menuju ke La Plazza Hotel.


"Pagi," sapa Adista kepada beberapa staff di ruangannya. Salam yang selalu diucapkan semua staff kala masuk kantor setiap paginya.


"Mbak Dista kok pucat," tanya Farah, salah seorang staff di La Plazza juga.


Mendengar ucapan Farah, Bu Linda yang kebetulan ada di sana juga mengamati wajah Adista. Hingga Bu Linda kemudian menganggukkan kepalanya.


"Iya loh, Dista. Kamu kelihatan pucat deh. Istirahat dulu saja," katanya.


"Cuma meriang aja kok, Bu. Tadi sebelum berangkat udah minum obat pereda masuk angin. Semoga saja abis ini Dista gak apa-apa," balasnya.


Lantaran tidak enak dan juga berusaha tidak menularkan penyakit, Adista akhirnya mengambil masker di tasnya. Dia memilih mengenakan masker dan memakai cardigan yang sebelumnya dia bawa. Adista berpikir mungkin karena musim pancaroba sehingga dirinya sakit dan seperti masuk angin seperti ini.


"Kalian kerjakan tugas-tugas secara rutin yah. Saya ada skype dengan Mr. Raka dulu sekarang," kata Bu Linda.


Memang walau berada di London, urusan hotel tetap dipantau Raka. Dia sering menggunakan Skype untuk mengkoordinasi pekerjaan dan mendengarkan laporan dari kepala divisi yang berada di La Plazza Hotel.


Mendengar nama suaminya disebut dan akan ada rapat dengan Skype, hati Adista justru kian pedih. Beberapa hari yang lalu saja kalau video call dengan Raka, Adista hanya bisa menangis. Sementara Raka sendiri belum bisa memberikan kepastian kapan dia pulang ke Jakarta. Semua itu karena kondisi Rayyan yang masih memburuk.


Ketika para Kepala Divisi rapat dengan Direktur Utama dengan Skype, Adista memilih fokus dengan pekerjaannya saja. Beberapa saat bekerja, mata Adista terasa berkunang-kunang rasanya. Akhirnya dia menghentikan aktivitasnya terlebih dahulu. Dia memilih mengucek matanya beberapa kali.


"Kenapa Mbak Adis?" tanya Farah lagi yang diam-diam mengamati Adista.


"Enggak apa-apa. Sedikit berkunang-kunang saja," balas Adista.


"Kalau sakit jangan dipaksakan bekerja, Mbak. Istirahat di kamar Dokter aja," kata Farah.


Adista menganggukkan kepalanya, mungkin kalau kondisinya semakin tidak baik, Adista memilih untuk izin saja. Mungkin dengan tidur di rumah, Adista bisa lebih sehat.


Sementara di Skype, Raka menerima laporan dari setiap Divisi yang ada. Laporan untuk event dan lain-lain juga dilaporkan kepadanya. Lalu, ada pertanyaan yang ditanyakan Raka.


"Semua staff dan karyawan kita sehat kan?" tanya Raka.


"Ada yang kurang baik, Mr. Raka ... baru hari ini staff di office kurang sehat," kata Bu Linda.


"Siapa? Nanti bisa bagikan vitamin dan suplemen ke staff supaya mereka tetap sehat," kata Raka.


"Adista, Mr. Raka. Dia keliatannya kurang sehat. Wajahnya juga sedih beberapa hari ini," kata Bu Linda.


"Baiklah, sampaikan supaya Adista segera sehat," kata Raka.


Usai itu, Raka mengakhiri meeting kali ini. Sebab, Raka berpikir setelahnya akan menghubungi Adista. Dia khawatir apa yang membuat istrinya sakit.


Sementara di ruangannya, pandangan Adista semakin berkunang-kunang saja. Dia juga merasakan keringat dingin seakan membasahi badannya. Adista ingin mengambil Air putih hangat, sehingga dia mencoba berdiri.


Akan tetapi, pandangannya kian kabur dan Adista pun terjatuh, dan pingsan.


Bruuukkk ....


"Mbak Adista ... Mbak." Farah terlihat kaget karena Adista tiba-tiba pingsan. Dia pun meminta tolong kepada staff yang ada di sana untuk membawa Adista ke klinik yang ada di dekat hotel.


"Tolong ... tolong dong, bantuin Mbak Adista."


Akhirnya, ada beberapa staff pria yang mengangkat Adista dan dibawa ke klinik. Farah berlari mengikuti karena sudah merasa temannya itu sedang tidak baik-baik saja. Bu Linda yang usai meeting juga bingung ketika Adista sudah diangkat dua staff pria.


"Kenapa ini?" tanya Bu Linda.


"Mbak Adista pingsan, Bu," balas Farah.


"Baik, kita temani ke klinik."


Sementara di London, Raka sekarang mengambil handphonenya dan berusaha untuk menghubungi Adista. Akan tetapi, teleponnya tidak diterima oleh Adista. Terhubung, tapi tidak diterima.


"Kamu sakit apa, Sayang? Mendengar kamu sakit, seketika aku merasa panik."


Raka benar-benar merasa panik. Jika Adista bersedih, pastilah Raka tahu. Namun, kalau sakit, Adista tidak berkata apa-apa tentang kesehatannya.


...🍀🍀🍀...


Beberapa saat kemudian ....


Entah berapa lama Adista pingsan, sekarang dia menemukan kembali kesadaran dirinya. Begitu membuka mata, Adista melihat langit-langit berwarna putih dan aroma obat yang tercium oleh indera penciumannya.


Kebetulan saat Adista sadar ada seorang Dokter yang memastikan kondisi Adista.


"Anda sudah sadar?" tanya Dokter wanita itu.


"Iya, saya di mana Dokter?" tanya Adista bingung.


"Di klinik yang ada di samping hotel. Anda terlalu banyak stress dan bersedih, sampai jatuh sakit ...."


Selain itu, ada beberapa hal lagi yang Dokter sampaikan. Akan tetapi, Adista terdiam. Belum bisa merespons apa pun. Antara shock, bingung, tapi juga bahagia sebenarnya. Apa yang sebenarnya di sampaikan oleh Dokter itu?