Staycation With Boss

Staycation With Boss
Biarkan Semua Tahu



"Kamu bahagia, Mas?" tanya Adista sekarang dengan berdiri di samping suaminya.


Keduanya masih berdiri di pelaminan menerima ucapan selamat dari banyaknya tamu undangan yang datang. Walau kadang Adista sambil duduk, itu juga karena kondisinya sekarang yang tengah hamil. Kendati demikian, Adista pun begitu bahagia menerima setiap ucapan selamat dari tamu yang datang.


"Bahagia banget, Sayang. Akhirnya kita go publik. Tidak ada yang lebih membahagiakan untukku," balas Raka.


Untuk Raka keduanya yang berani melangkah, mengambil keputusan untuk mempublikasikan hubungan keduanya adalah langkah besar untuk menjauhkan para pelakor atau pun pebinor. Selain itu, usia kehamilan Adista juga semakin bertambah, sebelum banyak orang nanti mempertanyakan siapa pria yang menghalimi Adista lebih baik Raka segera mengambil keputusan yang dinilainya tepat.


"Semoga kamu dijauhkan dari pelakor," kata Adista sekarang.


"Kamu ini bisa aja," balas Raka dengan melirik istrinya.


Adista berkata demikian karena sekarang dia melihat Natasha yang berdiri dengan Rayyan. Tampak Natasha selalu mengamati Raka, wanita itu menunjukkan wajah tidak suka melihat kedua pengantin yang berbahagia sekarang.


"Ada dia," kata Adista lagi dengan lirih.


"Tidak usah digubris. Semua orang di sini juga tahu siapa istriku yang sah. Istriku satu-satunya. Tujuanku menggelar resepsi ini adalah untuk membuat semua orang tahu bahwa Adista Maharani adalah istriku," balas Raka.


Jujur saja sebagai wanita, Adista senang. Suaminya itu memutuskan langkah yang tepat. Supaya orang tidak berpikiran negatif, tidak berspekulasi yang aneh-aneh. Adista tersenyum samar, dia akan berusaha tidak menggubris Natasha, walau tetap saja kehadiran wanita itu mengganggu Adista.


Hingga akhirnya staff La Plazza Hotel bergantian memberikan ucapan selamat kepada Boss mereka dan juga Adista tentunya.


"Happy Wedding Mr. Raka dan Mbak Adista ...."


"Ternyata Mbak Dista sudah menikah dengan Mr. Raka hampir tiga bulan yah. SaMaWa selalu yah, Mbak."


"Selamat Mr. Raka dan Mbak Adista, bahagia, langgeng, dan segera diberikan momongan."


Hingga akhirnya Bu Linda turut hadir dan memberikan ucapan selamatnya. "Selamat Mr. Raka, saya turut berbahagia. Adista, selamat yah. Maaf tempo hari saya bertanya yang aneh-aneh. Saya baru tahu bahwa istrinya Mr. Raka adalah kamu," katanya.


Raka tampak menganggukkan kepalanya perlahan, sementara Adista tersenyum.


"Tidak apa-apa Bu Linda, sebelumnya saya dan Pak Raka memang sepakat untuk tidak mempublikasikan hubungan kami sampai waktu yang tepat, dan yah ... sekaranglah waktu yang tepat itu," balas Adista.


"Selamat sekali lagi yah Dista ... tetap menjadi pribadi yang rendah hati," kata Bu Linda.


Usai itu, seluruh staf La Plazza Hotel bergabung dan meminta foto bersama dengan Boss mereka. Semakin lengkap karena ada Papa Zaid yang turut bergabung berfoto. Sebab, bagaimana pun juga di mata seluruh staff Papa Zaid adalah Boss yang baik dan ramah.


"Selamat Pak Zaid dan Bu Erina, akhirnya sudah mantu," kata Bu Linda kepada Papa Zaid.


Bahkan para staff memberikan kejutan dengan menyanyikan beberapa lagu untuk Mr. Raka dan Adista. Tentu Adista senang, sementara Raka juga beberapa kali tersenyum. Kejutan dari staffnya adalah hadiah yang sangat berharga untuknya.


Setelah itu, Rayyan menuju ke pelaminan. Seakan dejavu, dulu dia berjalan seperti ini dan memberikan salam untuk kakaknya dan Adista. Sekarang, terjadi lagi.


"Ray," kata Raka yang terlebih dahulu menyapa adik bungsunya itu.


Raka terdiam sejenak. Mungkin kalau sudah benar-benar cinta memang akan sukar menerima kenyataan pahit sepertinya. Raka juga tahu walau hanya long distance relationship, tapi semua itu berjalan cukup lama hingga tiga tahun.


"Kali ini, dengarkan aku, Ray. Lepaskan perasaanmu karena Dista sudah melupakan semuanya. Dia memilih membuka hatinya untukku," kata Raka.


"Kakak bisa dengan mudah berbicara begitu karena Kakak tidak tahu rasanya patah hati," balas Rayyan yang masih kekeh dengan perasaannya dan pendapatnya.


Raka kemudian menggelengkan kepalanya secara samar. "Salah, Ray. Tidak harus putus cinta untuk merasakan patah hati. Sebab, melihat kamu seperti ini saja, aku juga merasa sakit, Ray. Aku ingin kamu bahagia, menemukan cinta yang baru. Biarkan Adista bahagia," balas Raka dengan tenang.


Rayyan menghela napas panjang. Usai itu, dia tersenyum tipis kepada Raka dan Adista. "Suatu saat kalian akan merasakan sakitnya patah hati, jauh lebih sakit dari apa yang aku alami," balas Rayyan.


"Sementara aku mendoakan kamu bahagia dan sehat selalu, Ray. Allah akan menyedikan cinta yang lain untukmu. Semoga Kakakmu, aku tidak akan merutukimu dan juga tidak mendoakan kecelakaan untukmu," balas Raka.


Adista yang sejak tadi terdiam sekarang bisa merasakan bahwa suaminya itu berhati besar. Kakak yang benar-benar menyayangi adiknya. Walau si adik mendoakan yang tidak baik, tapi Raka melakukan yang sebaliknya, tidak akan merutuki adiknya sendiri. Justru Raka mendoakan ada cinta yang lain untuk Rayyan.


"Aku sependapat dengan Mas Raka, Ray. Aku juga mendoakan kebahagiaan dan kesembuhanmu. Bahagia itu akan menyapa dan membuatmu yakin bahwa ada banyak cara dari Semesta untuk menyatukan dua hati," kata Adista.


Sekarang Rayyan tak bisa berkata-kata lagi. Pemuda patah hati itu memilih pergi, kesal dengan ucapan Raka dan Adista. Menurut Raka, menyembuhkan luka di hatinya tak semudah membalikkan telapak tangan.


Usai itu, giliran Natasha yang mendatangi Raka dan Adista. "Ka, aku sebelumnya masih belum menyangka kamu akan menikah secepat ini. Aku juga tak yakin perasaanmu untuknya benar-benar murni," kata Natasha.


"Cinta tidak perlu diragukan, Nat. Nyatanya hanya Adista yang aku cintai. Dia datang ke dalam hidupku seperti angin sepoi-sepoi, menyapa dengan indah. Bangun dari mimpimu, karena kenyataannya aku hanya mencintai istriku," kata Raka.


Adista memilih diam, membiarkan suaminya untuk memberikan jawaban. Sekaligus Adista melihat sejauh mana Raka akan membuktikan bahwa dia tidak akan terpengaruh.


Usai itu, Raka melihat Adista. "Kita turun dari pelaminan, Sayang. Kita sapa tamu undangan yang lain," ajak Raka.


"Baik, Mas Raka ...."


Akhirnya, Raka menggandeng tangan Adista, kedua mempelai memilih turun dari pelaminan membiarkan Natasha di sana. Raka dan Adista akan menyapa tamu undangan yang lain.


"Jangan bad mood, Sayang," kata Raka pelan di sisi telinga istrinya.


"Tidak, Mas. Aku akan menikmati resepsi pernikahan kita ini. Tidak terpengaruh, asal kamu tetap tak memberikan celah," balas Adista.


"Pasti, Sayang. Aku tidak akan memberikan celah. Selalu hanya kamu fi dalam hidupku, usai resepsi kita pendinginan bersama yah?" ajak Raka.


"Aku capek loh, Mas. Baby kita juga capek," balas Adista.


"Papa harus ngalah sama Baby yah?"


Keduanya tertawa sendiri dengan tangan saling bertaut. Memilih mengambil sikap cuek untuk sesaat, membiarkan kebahagiaan itu bisa dirasakan oleh hati keduanya.