Staycation With Boss

Staycation With Boss
Jalinan Silaturahmi



Masih di acara tasyukuran empat bulanan, selain tamu undangan ada juga mitra bisnis Papa Zaid dan juga teman-teman Raka yang saat ini datang ke acara tersebut. Salah satunya yang datang adalah Tante Sara dan Om Belva, yang baru dua pekan sebelumnya bertemu dengan Mama Erina dan Papa Zaid di London.


"Selamat yah. Ketemu lagi, padahal beberapa pekan lalu kita bertemu di Paris dan London," kata Tante Sara.


Kemudian Mama Erina mengenalkan pasangan Tante Sara dan Om Belva kepada Raka dan Adista. Sekaligus keluarga Agastya itu ingin berkenalan dengan menantu keluarga Syahputra.


"Dista, kenalin ... ini temannya Mama dan Papa. Om Belva dan Tante Sara," kata Mama Erina.


Adista pun memberikan salam takzim dan menyapa pasangan jelang paruh baya yang justru terlihat masih begitu muda itu. "Halo Om dan Tante, perkenalkan saya Adista, istrinya Mas Raka," balasnya.


"Cantik yah istrinya Raka," balas Tante Sara.


Raka yang berdiri di sana tersenyum. Kalau dengan keluarga Agastya, Raka sudah mengenal dengan baik. Bahkan Raka juga berteman dengan Evan yang seumuran dengannya.


"Terima kasih sudah datang Om dan Tante ..., Bro Evan tidak datang?" tanyanya.


"Evan sedang ada meeting, Raka. Sangat sibuk dia," balas Papa Belva.


"Mr. Evan jam terbangnya sudah tinggi," balas Raka.


Akhirnya mereka yang berada di sana pun tertawa. Kemudian Tante Sara juga bertanya kepada Adista. "Ngidam apa, Dista?" tanyanya.


"Ngidamnya random sih, Tante. Cuma enggak aneh-aneh juga. Yang penting ketemu sama Mas Raka," balasnya.


Pasangan paruh baya itu tersenyum. "Sama seperti kamu, Mama. Waktu hamil Elkan," kata Papa Belva.


"Benar, Tante dulu juga begitu. Waktu hamil kedua itu maunya nempelan sama Papanya aja. Seru kok, tidak apa-apa. Itu ngidam termurah dan terindah."


Adista tertawa mendengarkan perkataan Tante Sara. Walau begitu apa yang Tante Sara ucapkan adalah hal yang benar. Cukup nempel suami, Bumil sudah bahagia. Tidak perlu mengeluarkan banyak uang juga.


"Dijaga baik-baik, Raka. Lebih sabar, suami yang sabar pasti menolong istri yang sedang hamil," kata Om Belva.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Siap, Om. Raka stok sabarnya banyak kok," balasnya.


Om Belva tertawa lagi dan menepuk bahu Raka. "Belajar dari Papamu. Dia adalah orang yang sangat sabar," balas Om Belva lagi.


Sekarang Mama Erina yang menganggukkan kepalanya. Berbicara mengenai kesabaran, Papa Zaid memang adalah seseorang yang begitu sabar. Bukan hanya di masa sekarang, tapi sejak di masa lalu, suaminya itu sangat sabar. Bahkan dulu ketika dia melakukan kesalahan, Papa Zaid bisa begitu sabar menghadapinya.


"Siap Om Belva, terima kasih untuk nasihatnya," balas Raka.


Usai itu, datang pasangan muda yang turut memberikan doa di acara Raka dan Adista. Pasangan muda yang pernah bertemu dengan Raka dan Adista sebelumnya di rumah sakit.


"Assalamualaikum, selamat malam semuanya," sapa pasangan muda itu dengan ramah.


"Wah, ada Pak Arsitek yang datang," balas Om Belva.


Benar, yang datang adalah pasangan Arsyilla dan Aksara. Keduanya juga diundang Raka untuk bisa menghadiri tasyukuran di kediaman orang tuanya. Sekarang, Arsyilla dan Aksara benar-benar datang.


"Makasih Kak sudah datang," kata Adista sembari berpelukan dengan Arsyilla.


"Sama-sama. Sudah empat bulan yah? Terhitung cepat yah, nanti lama-lama sudah sembilan bulan dan bersalin tuh," kata Arsyilla.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Kak. Mana kok Ara dan Anna tidak ikut?" tanyanya.


"Di rumah sama Oma dan Opanya. Mama dan Papanya keluar berdua dulu," kata Aksara.


"Padahal pengen ketemu Ara dan Anna," balas Raka.


"Main saja ke rumah, Uncle. Kalau Sabtu gitu. Perumahan kita jaraknya tidak terlalu jauh loh," balas Aksara.


"Iya, main ke rumah, Dista. Biar enggak bosan." Arsyilla juga berkata demikian.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh Kak?" tanyanya.


"Boleh saja. Kenapa enggak boleh. Nanti lain kali kami main, gantian," balas Arsyilla.


Raka menganggukkan kepalanya perlahan. "Oke deh, Sabtu nanti kami main yah. Mau main sama Ara dan Anna," balasnya.


"Lebih suka anak cewek yah, Bos?" tanya Aksara.


Raka kemudian tertawa lagi. "Aku sih iya. Lucu aja punya anak perempuan yang cantik, lucu, dan manja ke Papanya gitu."


"Sudah kelihatan belum jenis kelaminnya?" tanya Arsyilla kepada Raka.


"Belum, terakhir kali USG, masih belum kelihatan. Tertutup bagiannya yang itu jadi Dokter belum bisa memberitahu bayinya cewek atau cowok," balas Raka.


Arsyilla menganggukkan kepalanya sejenak. "Hm, kalau melihat Adista yang cantik dan bersih, mungkin babynya cewek. Mungkin loh yah. Tebakanku sih cewek," balas Arsyilla.


"Kalau beneran cewek, Papanya suka. Mamanya pengennya cowok," balas Raka.


Rupanya Raka dan Adista memiliki keinginan yang berbeda. Raka menginginkan bayi perempuan, sedangkan Adista menginginkan bayi laki-laki. Itu membuat Aksara dan Arsyilla tersenyum.


"Nanti program kedua, cowok dan cewek sekalian. Dengan bayi tabung kan bisa. Embrio yang ditanam sekalian dua," kata Arsyilla.


Tante Sara yang mendengarkan obrolan itu menyahut. "Benar sekali, menantuku hamil dengan prosedur bayi tabung. Sebab, waktu program hamil itu rahimnya menukik ke belakang. Memang bisa hamil alamiah, tapi butuh waktu lama. Akhirnya keduanya memutuskan untuk bayi tabung, tanam embrio cowok dan cewek," cerita Mama Sara.


Papa Zaid dan Mama Erina baru tahu juga kalau menantunya Mama Sara melakukan tanam embrio atau prosedur bayi tabung."Bisa yah?" tanya Mama Erina.


"Bisa, karena waktu mempertemukan dua sel di luar itu terlihat embrio dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Yang ditanam dua, cowok dan cewek. Jadi, cucuku lengkap. Cowok dan Cewek, anak-anaknya Elkan dan Mira," cerita Mama Sara dengan terlihat begitu senang menceritakan cucunya.


"Oma dan Opanya enggak berebut gendong cucu yah? Soalnya sudah ada dua," balas Mama Erina lagi.


"Iya, kadang aku dan besanku ke rumahnya Elkan. Kami ngasuh cucu. Sudah waktunya menikmati masa-masa tua dan mengasuh cucu, Jeng."


"Kami juga begitu Tante. Akhir pekan sering kedua orang kami ke rumah dan mengasuh anak-anak. Kami datang disuruh pergi, pacaran lagi katanya," sahut Arsyilla.


"Benar kan, pasangan muda seperti kalian butuh waktu berdua. Oma dan Opanya yang mengasuh cucu. Tidak apa-apa," balas Mama Sara.


Mama Erina kemudian menganggukkan kepalanya. "Kita besok pasti juga begitu, Pa. Lebih suka menghabiskan akhir pekan untuk mengasuh cucu. Raka dan Adista biar pacaran lagi," katanya.


"Boleh, Ma. Menjadi Oma dan Opa kan juga menyenangkan," balas Papa Zaid.


Ini adalah waktu terbaik untuk bersilaturahmi. Bukan sekadar bertemu, tapi ada cerita dan pengalaman yang dibagikan. Sekaligus Raka dan Adista belajar dari pengalaman melalui cerita yang dibagikan.