Staycation With Boss

Staycation With Boss
Long Distance Marriage



Lusa pun tiba, kali ini Adista turut mengantar suaminya beserta kedua mertuanya ke bandara. Sudah ada driver keluarga Syahputra yang nanti akan mengantar Adista pulang kembali ke apartemennya. Sekarang pun, Raka bergabung dengan mobil orang tuanya.


Dalam perjalanan menuju ke Bandara Internasional Soekarno - Hatta, tampak Raka selalu menggenggam tangan istrinya itu. Walau Raka tidak banyak berbicara, tapi hatinya sangat sedih. Bukannya dia mengesampingkan Adista dibandingkan Rayyan, tapi menurut Raka sekarang yang lebih penting adalah adiknya terlebih dahulu.


"Maaf yah, Dista. Kami mengajak Raka ke London terlebih dahulu," kata Mama Erina sekarang.


"Iya, Ma. Tidak apa-apa kok, Mas Raka sebelumnya sudah berbicara bahwa Rayyan kecelakaan," balas Adista.


"Benar, Dis. Mama juga tidak tahu kenapa Rayyan tiba-tiba bisa kecelakaan dan sekarang kondisinya masih kritis."


Adista merespons dengan menganggukkan kepalanya, bukannya Adista tidak mengkhawatirkan Rayyan, tapi perasaannya sepenuhnya sudah berubah. Yang Adista pikirkan justru adalah suaminya. Adista menyadari posisi dan kedudukan Raka sebagai anak sulung, pastilah dia dibutuhkan Mama dan Papanya. Terlebih anak sulung pria yang selalu dinilai sosok yang kuat, tangguh, dan bisa diandalkan.


"Kalau kamu mau resign segera, nanti Papa bisa carikan tiket ke London, Dista. Supaya kamu bisa menyusul Raka," kata Papa Zaid.


"Dista akan menunggu Mas Raka di Jakarta, Pa. Semoga Rayyan segera membaik dan Mas Raka bisa kembali kepada Dista," balasnya.


Raka menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi Raka tidak berbicara banyak, dia mengeratkan genggamannya di tangan Adista. Dengan spontanitas dia mengecup punggung tangan Adista. Bukannya tak tahu, Adista bisa merasakan kecupan hangat di punggung tangannya.


Di saat seperti saja rasanya Adista ingin menangis. Akan tetapi, Adista berusaha keras untuk menahan perasaannya. Ada rasa sedih yang menyelimuti hatinya, tidak memungkiri Adista pastilah merindukan kehangatan Raka.


Begitu sudah tiba di bandara internasional Soekarno - Hatta, Adista berjalan dengan mengapit lengan suaminya. Mama Erina dan Papa Zaid pun memberikan kesempatan untuk Raka dan Adista terlebih dahulu.


"Jaga diri dan kesehatan baik-baik yah, Sayang. Selalu bertukar kabar yah," kata Raka sekarang.


"Pasti, Mas ... Mas juga jaga kesehatan yah. Duh, belum berpisah, aku sudah kangen," aku Adista sekarang dengan jujur.


"Maaf yah. Doakan saja Rayyan segera pulih, jadi aku bisa segera kembali ke Jakarta, ke sisimu lagi. Aku juga kangen kamu," balas Raka.


"Aku akan mendoakannya. Selain itu, aku juga akan mendoakan Mas Raka. Hati-hati yah, Mas," balas Adista.


Beberapa menit bersama kemudian Mama Erina dan Papa Zaid mendekati Raka dan Adista. "Dista, sudah saatnya kami masuk. Raka ikut kami dulu ke London yah?"


"Iya, Pa. Tidak apa-apa, Pa," balas Adista.


Merasa waktu berpisah segera tiba, buliran bening air mata itu jatuh begitu saja membasahi pipi Adista. Bahkan Adista tidak mampu menatap wajah suaminya. Ketika Adista berusaha menatap wajah Raka, hatinya kian nyeri. Rindunya dan ketakutan kian menjadi-jadi. Oleh karena itu, Adista memilih beberapa kali menundukkan wajahnya.


"Ayo, Raka ... sebelum nama kita dipanggil," ajak Mama Erina.


"Dista, Mama dan Papa mengajak Raka ke London dulu yah? Jangan menangis terus-menerus. Doakan Rayyan segera pulih, supaya Raka segera kembali. Sehat-sehat yah, Dista," kata Mama Erina.


Di pelukan Mama Erina pun, Adista terisak dalam tangisannya. Itu tanda bahwa Adista sebenarnya sangat sedih.


Setelah pelukan Mama Erina terlepas, Raka segera merengkuh wanitanya itu dalam pelukannya. Raka tak banyak berbicara, tapi dia memberikan pelukan dan usapan di punggung istrinya. Memeluk Adista, Raka pun memejamkan matanya. Berat juga untuk Raka, tapi inilah yang harus mereka lalui bersama.


"Aku pamit yah, Sayang. Tunggu aku kembali," kata Raka lirih.


"Iya, Mas Raka ...."


Raka mengurai pelukannya. Sebuah kecupan dia berikan di kening istrinya. "Aku selalu mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu, Mas Raka."


Ya, Adista merasakan cintanya untuk suaminya kian besar. Dia merasa lebih, lebih, dan lebih mencintai suaminya sekarang. Dengan perasaan cintanya yang besar, Adista berharap waktu tidak akan memisahkan keduanya begitu lama. Cinta yang besar itu akan menyatukan mereka kembali.


Hingga akhirnya Raka, Mama Erina, dan Papa Zaid memasuki pintu keberangkatan untuk segera cek in dan menunggu waktu penerbangan tiba. Adista dengan wajah bersimbah air mata melihat punggung suaminya.


"Aku mencintaimu ... Mas Raka."


Sampai punggung suaminya tak terlihat barulah Adista membalik badannya dan memilih untuk pulang. Sejak hari ini, Adista akan memeluk rindu di dalam hatinya hanya untuk suaminya saja.


...🍀🍀🍀...


Dua Hari Kemudian ....


Adista terbangun dengan perasaan sedih yang menyelimuti hatinya. Sejak menikah dan membuka hati untuk suaminya, Adista selalu diperhatikan oleh suaminya. Memang suaminya itu tidak bermulut manis, tapi Raka menunjukkan rasa cinta dan perhatiannya dengan sikapnya secara langsung.


Bahkan masih bersandar di headboard ranjangnya saja Adista tiba-tiba menangis sendiri.


"Baru dua hari Mas Raka ... tapi aku sudah rindu banget untuk Mas Raka."


Tangisan dan isakannya semakin menjadi-jadi. Sesak sekali rasanya hatinya sekarang. Pernikahan jarak jauh seperti ini rasanya sangat memberatkan. Ketika rindu, tapi tidak bisa bersua, tidak bisa bertemu, tidak bisa memeluk. Bahkan kesedihan ini semakin menjadi-jadi saja. Adista sampai menekan dadanya sendiri karena rasa sakit, sedih, dan sesak di dadanya. Dalam isakannya, nama sang suami yang selalu dia sebut sekarang.


Perasaan seperti ini pun Adista tidak tahu kenapa bisa. Apakah lantaran cinta yang besar itu? Apakah lantaran ketidakberdayaan ingin bersua tapi tidak bisa? Yang pasti hari ini menjadi hari terberat untuk Adista. Rindunya menyayat hati, apa daya tangan tak sampai.