Staycation With Boss

Staycation With Boss
Pilihan yang Jelas



"Bisakah kamu mengantarkan aku pulang, Ka?"


Benar-benar permintaan di luar ekspektasi Raka dan Adista. Agaknya Adista tidak ingin semakin sakit hati. Dia memilih pergi. Kali ini Adista memposisikan dirinya sebagai seorang staff saja yang tidak ambil pusing dengan urusan Bossnya. Walau memang di hati sangat sakit, karena Si Boss itu juga adalah suaminya sendiri.


"Tidak, Nat. Aku tidak bisa," balas Raka.


Raka memilih menolak. Sebab, bagi Raka pilihannya sudah jelas. Semua tentang Natasha adalah masa lalu. Sebagaimana ucapannya kepada Adista bahwa masa kini dan masa depan hanya ada Adista di dalam hidupnya.


Bahkan ketika Raka mengurai tangan Natasha membuat Natasha membelalakkan kedua bola matanya. Benar-benar tak mengira bahwa Raka bisa melakukan semuanya ini.


"Raka," ucap Adista lirih.


"Aku pergi."


Raka memilih meninggalkan galeri itu. Yang Raka pikirkan adalah segera mengambil mobilnya dan nanti menyusul Adista yang biasanya menunggunya di halte Busway di samping Hotel. Tepat seperti tebakan Raka, Adista duduk di sana.


"Ayo, Sayang," kata Raka. Pria itu segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu di sisi kemudi untuk Adista.


Sementara Adista tidak ingin bertengkar. Dia memilih langsung memasuki mobil suaminya itu. Begitu sudah di dalam mobil, Raka segera melajukan mobilnya. Hari ini terbilang berat, dalam sehari istrinya sudah bad mood dua kali. Raka harus menjelaskan semuanya, tapi lebih baik untuk segera tiba di apartemen saja. Biarlah sepanjang jalan keduanya diam, karena Raka juga membutuhkan konsentrasi dan fokus untuk menyetir.


Beberapa saat berkendara, akhirnya mereka tiba di unit mereka. Begitu sudah memasuki unit, Adista melepas sepatunya dan menuju ke dapur untuk minum. Haus sekali rasanya, terlebih hari ini memang membuat Adista tidak baik-baik saja.


"Sayang," sapa Raka lirih dengan mendekap istrinya itu.


Sementara Adista bersikap acuh. Entah bagaimana perasaannya. Inginnya tak marah, tapi sebagai istri jujur saja ada rasa cemburu yang menyelimuti hati.


"Aku ingin istirahat, Mas Raka," balas Adista.


"Aku temenin," balas Raka.


"Mas, lepas jasnya dulu tuh," balas Adista. Kala itu memang suaminya masih mengenakan jasnya. Belum sempat jas itu dilepaskan dari badannya.


"Lepasin," pinta Raka.


"Gak mau, sebel," balas Adista. Lagi-lagi Adista berbicara jujur, dia sedang sebal sekarang.


Raka beralih kini dia berdiri di hadapan istrinya. Dua tangan Adista dia bawa ke pinggangnya. "Tolong, Sayang ... lepasin jasku," pinta Raka dengan lembut.


Adista masih memasang wajah kesal, tapi tangannya bergerak dan melepaskan jas berwarna Abu-abu itu dari tubuh suaminya. Walau cemberut, tetap saja Adista melakukan permintaan suaminya.


"Dasinya juga," pinta Raka sekarang.


Masih dengan bibir yang manyun dan menghindari kontak mata dengan suaminya sendiri, akhirnya tangan Adista merayap dan melepaskan dasi dari leher suaminya. Raka justru tersenyum. Sekadar melepas jas dan dasi saja bisa menjadi momen yang intim dan begitu mendebarkan.


"Gak mau," balas Adista dengan masih cemberut.


"Please, tiga kancing aja," balas Raka. Kini Raka yang memposisikan tangan Adista di kancing-kancing kemejanya. Dia meminta untuk melepaskan tiga kancing saja.


Masih dengan rasa kesal, akhirnya Adista melepaskan tiga kancing di kemeja yang dikenakan suaminya dari leher, hingga turun ke kancing kedua dan ketiga. Raka tersenyum, gemas malahan dengan Adista yang cemberut seperti ini.


Usai semua, Raka mengangkat pinggul Adista dan membuat istrinya itu duduk di kitchen Island. Kedua tangan Raka kini memenangi pinggang istrinya, dengan posisi Adista seperti ini barulah posisi wajah keduanya sejajar.


"Pilihanku itu pasti, Sayang. Yang diinginkan hatiku itu jelas. Cuma kamu. Yakin sama aku, dia hanya masa lalu," kata Raka sekarang memberikan penegasan.


"Dia terlihat menginginkanmu, ditambah sikap Rayyan seperti itu membuatku kesal," balas Adista.


Adista mengakui dengan jujur bagaimana dia kesal dengan adik iparnya sendiri. Kenapa Rayyan justru bersikap seolah-olah mendukung Natasha dan Raka, padahal Rayyan juga tahu bahwa kakaknya sekarang sudah menikah tak elok juga mengatakan demikian.


"Kenapa Rayyan berkata seperti itu, padahal Rayyan tahu kamu sudah menikah. Sebagai seorang adik harusnya tak begitu juga," kata Adista lagi dengan kesal.


"Rayyan menyukaimu, mungkin itu alasannya," balas Raka.


Adista memejamkan matanya sesaat, kesal dengan situasi tadi. Sementara, Raka masih tak jemu-jemu memandang wajah cantik yang kini berhadap-hadapan dengannya itu. Sungguh, Raka mengakui justru gadis sederhana seperti Adista yang bisa membuatnya gila, terlebih Adista selalu memiliki sisi yang membuat Raka berhasrat dengan sendirinya.


"Jangan dipikirkan, Sayang. Bad mood terus kasihan babynya. Berapa kali pun kesempatan datang, aku tidak akan goyah, Sayang. Pilihanku sudah jelas, aku akan selalu memilih kamu, memprioritaskan kamu. Aku gak mau sekadar berjanji, tapi aku akan selalu memberi bukti kepada kamu," kata Raka.


Mendengar apa yang disampaikan suaminya, Adista menatap wajah suaminya itu. Adista berharap suaminya itu benar-benar bisa dia percayai. Adista tak bisa membayangkan kalau Raka sampai merusak kepercayaannya. Cinta dalam hatinya menginginkan Raka menjadi satu-satunya pria dalam hidupnya. Dulu, memang Adista tak menyukai Raka, tapi semuanya sudah berubah. Cintanya menginginkan Raka untuk selalu menjadi miliknya.


Kini tangan Raka menyentuh perut Adista yang masih rata. Pria itu kini menunduk dan mengecup perut Adista. Cup.


"Kasihan baby kita kalau Mamanya sering bad mood. Fokus ke kehamilan dulu yah. Papanya kapan nih, boleh nengokin baby?" tanya Raka.


Adista kembali manyun mendengar ucapan suaminya itu. Hingga akhirnya, Raka tersenyum dia membelai sisi wajah Adista.


"Dari semua reaksiku, pilihannya jelas, Yang. Hanya kamu yang bisa membuatku gila. Hanya kamu yang bisa membuatku berhasrat seperti ini. Jujur dan sangat serius, Sayang. Aku tidak mengada-ada."


Suara Raka berubah menjadi parau. Satu tangannya pun membelai paha Adista. Menerobos masuk ke dalam rok yang Adista kenakan. Belaian itu membuat Adista menahan napas.


"Jangan bad mood yah. Orang lain yang bad mood, aku bisa cuek. Berbeda kalau kamu, aku bisa kepikiran."


Raka mengatakan itu, dengan masih membelai paha istrinya. Ah, pria itu ada-ada saja, usapan tangan Raka membuat Adista benar-benar menahan. Namun, Raka justru kian menggoda, hingga terlihat wajah Adista memerah di sana.


"Kamu tadi janji mau cium aku setelah kita berada di rumah. Sekarang, kita sudah berada di unit kita. Hanya berdua. Jadi, aku akan menagihnya," kata Raka.


Adista terdiam. Dia saja sudah nyaris goyah dan mende-sah, tapi masih saja suaminya mengatakan demikian. Jangan lupakan juga tangan Raka yang lain yang tengah berusaha meraba lekuk-lekuk feminitas di tubuhnya.