Staycation With Boss

Staycation With Boss
Videocall Ke London Lagi



Keesokan harinya, Adista sengaja memakaikan baju baru yang dikirimkan oleh adik-adik iparnya dari London. Di bawah arahan Papa Raka yang mengambil foto, Baby Qiana pun dipotret oleh Papanya sendiri dengan sedemikian rupa. Hasilnya pun begitu bagus, tak jauh berbeda dengan dengan jepretan seorang fotografer profesional. Bahkan Raka sampai naik ke kursi untuk menghasilkan foto yang bagus.


"Kamu pro banget sih, Mas. Fotoin Baby Q seolah niat banget," kata Adista dengan mengamati Raka.


"Ya, memotret Princess sendiri ya harus all out dong, Sayang. Jangan setengah-setengah. Kamu juga tahu aku, semua yang aku kerjakan juga pastinya aku kerjakan dengan sepenuh hati," kata Raka.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. Ya, dia sangat tahu sosok Raka. Suami dan sekaligusnya yang pernah menjadi atasannya itu. Memang Raka adalah orang yang sungguh-sungguh, apa pun yang dikerjakan oleh Raka pastilah akan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.


"Percaya deh, Boss Raka kan emang begitu. Aku tahu," balas Adista.


"Boss apaan coba? Mau Staycation with Boss lagi?" tanya Raka dengan melirik Raka.


Jika sudah berbicara mengenai Staycation rasanya Adista ingin tertawa. Teringat bagaimana dia terjebak dalam sebuah Staycation bersama suaminya itu. Sebuah Staycation yang akhirnya mempersatukan keduanya.


"Apaan sih ... kalau sekarang Staycation enggak bisa berdua aja, Boss. Harus mengajak Qiana juga," kata Adista.


"Gak masalah, Sayang. Kan Qiana memang harus diajak dong, kan dia buah cinta kita berdua," balas Raka.


Menyelesaikan memotret putrinya itu, kemudian Raka menunjukkan hasil jepretannya kepada Adista. Raka meminta Adista untuk memilih dan melihat mana hasilnya yang bagus.


"Pilih, Yang ... yang bagus yang mana. Nanti aku kirimkan ke Raline dan Rayyan," kata Raka.


Akhirnya Adista melihat file hasil jepretan suaminya itu. Menurut Adista sendiri semua fotonya Qiana sangat lucu dan menggemaskan. Dia bahkan baru tahu suaminya bisa menghasilkan foto yang begitu bagus.


"Semuanya sih bagus. Aku ingin mencetak semuanya deh," balas Adista.


"Besok aku cetakkan ke studio foto, biar diedit sedikit. Kan ini baru mentahannya, Yang. Pilih satu atau dua gitu, biar bisa aku kirimkan dulu," kata Raka.


Adista menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dia memilih ada tiga foto yang menurutnya bisa dikirimkan ke adik iparnya.


"Ini deh, Mas. Lucu yah. Menurut Mas Raka gimana?" tanyanya.


"Apa pun pilihanmu, aku setuju kok, Sayang. Ya sudah, aku kirimkan dulu kepada Rayyan dan Raline."


Hanya berselang beberapa belas menit, sudah ada panggilan video masuk kali ini adalah dari Rayyan lagi. Pemuda itu agaknya menjadi rajin untuk melakukan panggilan video dengan kakak sulungnya.


"Halo, Kak Raka ...."


"Hei, halo, Ray ...."


"Ya ampun, keponakanku lucu sekali sih. Nanti kalau Om Rayyan pulang ke Jakarta, digendong Om yah," kata Rayyan.


"Emangnya kamu berani menggendong bayi?" tanya Raka.


Rayyan kemudian menggelengkan kepalanya. "Ya, enggak berani sih. Ajarin dong, Kak. Lucu dan cantik banget sih, Qiana."


"Iya dong. Babyku," balas Raka. Terdengar suara penuh kebanggaan kala Raka mengatakan bahwa bayinya itu memang lucu dan juga cantik.


Rayyan yang mendengar suara Raka akhirnya juga tertawa. "Mana Qiana, Kak? Om nya ini boleh lihat enggak?"


Akhirnya Raka mengarahkan kamera handphonenya ke arah Qiana yang sedang tertidur. Rayyan tersenyum melihat keponakannya itu. Di mata Rayyan, Qiana memiliki beberapa fitur wajahnya seperti Adista. Namun, Rayyan hanya tersenyum saja, tak mengungkapkannya. Sebab, Rayyan sudah berjanji untuk membereskan perasaannya. Sekarang, perasaan itu sudah berubah, tidak ada lagi obsesi untuk memiliki Adista.


"Cantik banget kamu, Qia," kata Rayyan.


"Awas, jangan pengen, Ray. Sekolah dulu yang benar. Banggakan Papa dan Mama," nasihat Raka.


Rayyan mengangkat tangannya sembari menganggukkan kepalanya. "Siap-siap, Kak. Aku pasti akan belajar dulu dan lulus. Aman."


"Janji?"


"Iya, Kak. Janji. Tenang aja," balas Rayyan.


Setelah itu banyak pembicaraan di antara kakak dan adik itu. Adista memang tidak banyak terlibat, masih canggung juga dengan Rayyan. Namun, di dalam hati Adista mendoakan supaya Rayyan selalu bahagia dan nantinya akan menemukan gadis yang baik untuknya.


Sementara Raka juga senang, hubungannya dengan Rayyan benar-benar sudah pulih. Tidak ada batas lagi. Keduanya kembali menjadi kakak dan adik yang hangat dan saling mempedulikan satu sama lain.