
Sementara itu di London, aktivitas Raka dan keluarganya lebih banyak berada di Rumah Sakit. Sementara Rayyan masih berada di ruang ICU. Ini sudah menjadi hari keempat bagi Rayyan berada di ruang ICU.
"Sebenarnya bagaimana bisa Rayyan kecelakaan, Raline?" tanya Papa Zaid kepada Raline, putri tunggalnya itu.
"Rayyan sedang ke mini market terdekat, Pa. Dia menaiki sepeda kayuh biasa yang selalu dia naiki ke kampus, lalu ada sebuah motor besar yang menabraknya. Raline juga tidak tahu, dari temannya Rayyan waktu itu yang bercerita dan membawa Rayyan ke rumah sakit ini. Sampai akhirnya Rayyan tidak stabil seperti ini."
Normalnya pasien mengalami masa kritis hanya beberapa jam saja. Akan tetapi, Rayyan justru masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Bahkan Dokter mengatakan sistem inderawi Rayyan enggan merespons. Pemuda itu bisa mendengar, tapi tak mau merespons. Jika, kondisi Rayyan tak membaik bisa saja terjadi kelumpuhan sistem otak.
"Kenapa Rayyan bisa seperti ini?" Mama Erina berlinangan air mata melihat kondisi putranya yang masih tak sadarkan diri.
"Ada kata yang diucapkan Rayyan beberapa kali, Ma ... dia menyebut nama Tata. Cuma Raline tidak tahu Tata itu siapa," cerita Raline.
Mendengarkan cerita Raline, Raka menundukkan wajahnya. Raka tahu siapa yang dipanggil Tata oleh Adiknya itu. Seketika hati Raka menjadi sakit. Raka bahkan berpikir mungkinkah Rayyan akan membaik jika mendengarkan suara Adista, atau yang tak lain adalah istri Raka dan dulunya pernah menjadi mantan pacar Rayyan itu.
"Siapa Tata? Mungkinkah ada teman kuliahnya yang bernama Tata?" tanya Papa Zaid.
Raline kemudian menggelengkan kepalanya. "Setahu Raline tidak ada mahasiswi di sini yang bernama Tata, Pa. Bukankah nama itu identik dengan cewek Indonesia. Atau mungkinkah itu adalah pacarnya Rayyan. Dulu banget sih Rayyan pernah berkata bahwa dia memiliki pacar di Jakarta. Cuma Raline tidak menganggapnya serius karena Raline menganggap itu hanya cinta monyet saja. Lagian Rayyan waktu itu baru lulus kuliah," jelas Raline.
Dari diamnya Raka dan kegelisahan di wajahnya menunjukkan banyak hal yang Raka pikirkan. Akan tetapi, Raka berusaha untuk menemani orang tuanya terlebih dahulu. Raka juga tahu bahwa kondisi Rayyan sekarang bisa dikatakan tidak baik-baik saja.
"Raka, kalau nanti kamu kelamaan di London, kamu balik ke Jakarta dulu saja. Kasihan Adista kalau menunggu terlalu lama," kata Papa Zaid.
Papa Zaid memiliki pertimbangan tersendiri bahwa memang tidak baik meninggalkan seorang istri terlalu lama. Oleh karena itu, jikalau memang Raka akan kembali ke Jakarta terlebih dahulu tidak masalah.
Di satu hal terlihat sesuatu yang berbeda yaitu kala Papa Zaid menyebutkan nama Adista. Rupanya Rayyan merespons. Pemuda itu menggerakkan jari telunjuknya dan berbicara lirih.
"Tata ...."
"Tata ...."
Walau matanya masih terpejam, tapi suara lirih Rayyan itu bisa didengar oleh semuanya. Mama Erina kembali menangis. Benar bahwa Rayyan memanggil nama Tata. Di saat bersamaan, Raka memejamkan matanya sesaat. Mungkinkah bahwa kesembuhan adiknya itu hanya bisa terjadi jikalau ada Adista? Sekali lagi, Raka seolah berada di antara dua jurang pemisah, adiknya dan istrinya. Ketika istrinya mulai membuka hati, mulai mencintainya, tapi di sisi lain adiknya itu justru mengalami kondisi kritis dan membutuhkan sosok Adista. Kondisi yang sangat menyesakkan untuk Raka.