
Apa yang Natasha ucapkan sekarang nyatanya justru menyadarkan Raka. Benarkah istrinya itu menginginkan sprei dengan motif bunga-bunga karena dampak dari hamilnya? Apakah benar itu salah satu bentuk mengidam?
Seketika Raka justru menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya dia lebih peka. Seharusnya Raka memahami bahwa istrinya hamil dan bisa saja mengidam. Akan tetapi, Raka justru tidak memahaminya. Raka kemudian melirik Adista yang kedua matanya tampak berkaca-kaca.
"Siapa bilang aku gak suka memakai sprei kayak gitu? Untuk istriku, apa pun akan kupakai," balas Raka.
"Ayo, Sayang. Kamu ingin sprei bermotif bunga-bunga kan? Se-toko juga akan aku belikan."
Usai itu Raka menggandeng tangan istrinya, segera membawa Adista pergi dari hadapan Natasha. Sementara, Natasha kesal karena Raka selalu membela istrinya itu. Raka yang sekarang dinilai Natasha sudah berbeda. Bahkan Raka terlihat tidak tertarik lagi dengannya. Sebesar apa pun usaha Natasha, tapi Raka dingin dan tidak merespons apa pun.
Agak jauh mereka berjalan kemudian Adista berbicara lagi kepada suaminya. "Mas, seriusan ... aku sudah enggak pengen sprei itu kok. Ayo, kita pulang saja," kata Adista.
Raka akhirnya memilih menuruti apa yang dimaui istrinya saja. Daripada nanti istrinya menangis di sana justru lebih kacau. Akhirnya, Raka mengajak Adista kembali pulang ke rumah.
Begitu sudah tiba di rumah dan berada di dalam kamar, barulah Raka berbicara dengan istrinya. "Kamu padahal pengen sprei itu kan? Kamu ngidam kan?"
Baru sekadar ditanyai Adista justru menangis. Rasa kesal di dalam dada barulah muncul. Raka merasa bersalah jadinya.
"Harusnya kamu bilang aja kalau pengen, kalau ngidam. Gak perlu mempertimbangkan aku dan seleraku," kata Raka.
Cara Raka mengomunikasikan itu pelan, tidak emosi sama sekali. Akan tetapi, bagi Adista tetap saja hatinya merasa tidak enak.
"Kan aku tadi udah bilang, aku tiba-tiba pengen. Terus Mas Raka bilang apa coba? Mas Raka lebih menyukai sprei tanpa motif dan satu warna saja. Itu sudah memberikan jawaban jelas kalau selera kita memang tidak sama."
Air mata Adista mengalir dengan begitu derasnya. Sementara Raka merasa kecewa pada dirinya sendiri. Seharusnya dia yang lebih peka dan memahami apa yang disukai istrinya, terlebih istrinya tengah hamil. Raka sekarang baru tahu di mana letak kesalahannya.
"Harusnya kamu ikutin keinginan kamu saja. Jangan seperti ini," balas Raka.
"Enggak, apa yang Mas Raka lebih penting. Aku sadar diri kok, aku di sini kan cuma ikut Mas Raka. Kalau Mas Raka menyukai sprei tanpa motif ya udah, aku akan memakai itu. Seleraku kan gak berkelas."
Lagi Adista baru bisa mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya. Raka kian merasa bersalah. Seharusnya jawaban yang Raka berikan bukan itu.
"Maaf, aku memang yang salah di sini. Aku yang tidak peka. Jawabanku pun salah," aku Raka kali ini.
"Maaf, aku yang salah. Harusnya tadi aku menjawab, ya kalau pengen beli saja. Apa pun aku akan memakainya. Aku melupakan kalau kamu hamil, bisa itu karena kamu sedang ngidam dan ingin sprei motif bunga-bunga. Maaf yah ...."
Raka mengatakan semuanya itu dengan lembut. Sadar dengan kesalahannya, Raka meminta maaf dan mengatakan jawaban yang seharusnya. Adista pasti semakin kesal dengan mendengar ucapan Natasha tadi.
"Gak apa-apa kok," balas Adista dengan terisak-isak.
"Maaf, harusnya saat mendengar bahwa kamu mengatakan ingin sprei motif bunga-bunga dengan tiba-tiba, harusnya aku tahu bahwa kamu memang baru ngidam. Maaf, aku gak peka banget."
Sprei memang bukan barang yang mahal untuk Raka. Membelikan satu toko pun Raka sangat bisa. Akan tetapi, Raka juga kian merasa bersalah setelah tadi sempat mengatakan di dalam hati kalau sprei motif bunga-bunga membuatnya juga tidak begitu suka. Astaga, Raka paham sekali betapa bersalahnya dia. Ketika istrinya hamil dan menginginkan sesuatu, respons yang Raka tunjukkan justru seperti itu. Raka sungguh merasa kesal pada dirinya sendiri.
"Besok kita ke Mall lagi yah, aku belikan sprei motif bunga-bunga untukmu," kata Raka.
"Enggak, gak mau. Aku sudah tidak pengen sama sekali," balas Adista dengan menggelengkan kepalanya.
"Kamu marah, Yang?" tanya Raka.
"Enggak, gak marah. Cuma beneran udah gak pengen."
Adista memilih mengatakan demikian. Lebih baik tidak menginginkan apa yang tidak satu selera dengan suaminya. Adista mengingat siapa dirinya. Bahwa memang sebaiknya dia hidup dan mengikuti selera suaminya saja. Daripada baru pertama menginginkan sesuatu dan suaminya sebenarnya menolak di dalam hati. Daripada memaksakan suaminya mengikuti apa yang dia mau dan memakai yang bukan seleranya hanya kepura-puraan saja yang diperlihatkan. Sungguh, Adista tidak menginginkan itu.
"Jadi, aku dimaafin enggak?" tanya Raka sekarang.
"Iya, aku maafin."
"Kalau dimaafin, besok kita beli sprei lagi yah. Apa pun yang kamu pengen, beli saja," balas Raka.
Sekarang Adista menggeleng lagi. "Aku memaafkan kamu, tapi sudahlah. Aku sudah tidak ingin beli lagi. Beneran."
Ah, Raka menjadi kesal dengan dirinya sendiri. Raka tahu bahwa istrinya itu tengah menekan keinginannya sendiri. Justru hati Raka yang tersakiti dengan semuanya itu. Raka menyesal menjadi seorang suami yang benar-benar tidak peka. Terlebih istrinya sedang hamil, sering kali mengalami bad mood atau gejolak emosi yang lainnya. Seharusnya Raka lebih pengertian dan memahami seorang ibu hamil dengan lebih baik.