
Berusaha fokus di Poli Kandungan, sebentar Mama Erina merasa tidak enak hati dengan Raka dan Adista. Bagaimana pun pertemuan dengan Erick barusan benar-benar mengganggu pikiran Mama Erina. Namun, karena masih berada di Rumah Sakit, Mama Erina berusaha untuk fokus terlebih dahulu.
Terlebih kala itu Dokter Spesialis Anak yang memeriksa dan memberikan Imunisasi untuk Baby Qiana juga termasuk rekan Mama Erina yaitu dr. Bisma, S. pA. Istrinya adalah CEO Jaya Corp yang berteman dengan Papa Zaid juga.
"Wah, rasanya baru kemarin Baby Qiana lahir dan sekarang sudah mulai imunisasi yah?" tanya dr. Bisma.
"Benar, Dokter. Cepat sekali besarnya," balas Mama Erina.
"Raka main ke rumah. Kalau tidak salah, kamu temannya Aksara kan?"
Ya, dr. Bisma ini adalah ayahnya Aksara, temannya Raka. Sehingga tentu saja Raka sudah mengenal dr. Bisma. Faktor sudah mengenal itu jugalah yang membuat Raka pada akhirnya memilih untuk melakukan pemberian vaksi untuk Qiana kepada Dokter Bisma saja.
"Benar Om Bisma. Iya, nanti kalau Qiana akan besar akan diajak main-main," balas Raka.
"Main sama cucu-cucunya Opa yah nanti."
Adista kemudian bertanya kepada suaminya. "Beliau ayahnya Kak Aksara yah, Mas?"
"Benar, Yang. Ayahnya Aksara dan mertuanya Arsyilla."
Sekarang barulah Adista tahu hubungan dr. Bisma dengan Aksara dan Arsyilla. Adista benar-benar tidak menyangka bahwa ayahnya Aksara adalah seorang dokter. Jika demikian, kenapa Aksara justru menjadi arsitektur, tidak menjadi Dokter seperti ayahnya. Namun, Adista juga percaya bahwa setiap orang memiliki mimpi dan cita-cita sendiri.
"Pinter yah, Nak. Disuntik imunisasi sama Opa Dokter tidak nangis yah. Sehat selalu yah, ketemu Opa Dokter lagi waktu jadwal imunisasi selanjutnya yah."
Menyelesaikan imunisasi untuk Qiana, kemudian mereka pulang. Dalam perjalanan, juga tidak ada yang diobrolkan. Padahal saat berangkat tadi Mama Erina dan Adista mengobrolkan banyak hal. Namun, sekarang suasana di dalam mobil terasa senyap.
Ketika sudah tiba di rumah Raka. Baby Qiana yang sudah tidur, akhirnya ditidurkan terlebih dahulu. Kemudian Mama Erina meminta waktu kepada Raka dan Adista untuk berbicara dengan jujur.
"Apakah Mama boleh berbicara Raka dan Dista?" tanyanya.
Sekarang berada di ruang tamu, Mama Erina siap membuka kisah masa lalu yang menyeret nama Erick. Mama Erina berharap, kisah ini akan memberikan pelajaran untuk Raka dan Adista yang masih muda.
"Sosok yang kalian temui di Rumah Sakit tadi adalah Om Erick, temannya Mama saat muda dulu," cerita Mama Erina membuka kisahnya.
Sekarang Adista tahu bahwa Om Erick atau Papanya Natasaha itu adalah teman Mama Erina sewaktu muda. Adista menerka demikian karena Om Erick memanggil Mama Erina langsung dengan namanya.
"Ketika Mama dan Papa masih muda dulu, rumah tangga kami pernah diguncang masalah berat. Imbasnya Mama dan Papa pernah bercerai, walau hanya dua bulan dan setelahnya kami rujuk kembali. Orang ketiga di antara Mama dan Papa, kalian tahu siapa?"
Raka dan Adista sama-sama menggelengkan kepalanya. Yang pasti kisah itu sudah begitu lama. Raka sendiri juga merasa tidak ingat.
"Om Erick."
Sekarang Adista membelalakkan matanya. Benar-benar tidak mengira dengan kisah itu.
"Ya, Om Erick. Dia membuat Mama dan Papa menjauh. Awalnya kami bersahabat, tapi Om Erick memiliki perasaan kepada Mama. Dengan segala upaya dan memanfaatkan masalah antara Mama dan Papa. Akhirnya, Mama memilih bercerai."
Sungguh, Adista tak menyangka. Kisah masa lalu mertuanya begitu pelik. Bahkan pasangan yang harmonis itu pernah bercerai juga sebelumnya.
"Kami belajar dari kesalahan kami. Terlebih saat itu Raka yang berusia empat tahun kecelakaan hingga hilang ingatan. Akhirnya, kami rujuk. Memperbaiki diri dan memperbaiki komunikasi tentunya. Jadi, sekarang kalian sudah tahu benang merahnya. Kisah inilah yang ingin diungkapkan Om Erick tadi. Mama tidak ingin kalian mendengar yang tidak-tidak. Mama bisa berkata jujur dan mengisahkan semuanya."
Raka dan Adista sama-sama menganggukkan kepalanya. Keduanya lega juga mendengar kisah yang sudah lama tersembunyi itu. Bahkan Mama Erina berani untuk berkata jujur.
"Jadi, ketika rumah tangga kalian mengalami masalah, jangan biarkan orang ketiga masuk. Jangan pernah melibatkan orang ketiga. Yang ada masalah akan semakin runyam. Kedua, terus bangun komunikasi. Memulai rumah tangga itu mudah, yang susah akan membinanya setiap hari. Jadi, bina selalu."
Mama Erina menitipkan pesan yang dulu Papa Zaid selalu katakan untuk tidak pernah melibatkan orang ketiga. Sebab, hadirnya orang ketiga kadang kala bisa memperkeruh masalah. Alih-alih melibatkan pihak lain, lebih baik duduk bersama, menyelesaikan masalah bersama, dan memperbaiki komitmen untuk terus membina dan mempertahankan rumah tangga.