Staycation With Boss

Staycation With Boss
Mendengar Perasaan Menantu



Mama Erina dan Papa Zaid mendengarkan cerita Raka dengan penuh pertimbangan. Pasangan orang tua itu juga tak menyangka bahwa kedua putranya terlibat cinta segitiga yang pelik. Walau begitu, keduanya ingin berbicara dengan Adista terlebih dahulu.


"Besok bolehkah Mama dan Papa berbicara dengan Adista? Kami hanya ingin mendengar ceritanya saja," kata Mama Erina.


"Silakan saja, Ma," balas Zaid.


Mama Erina kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah, esok siang Mama dan Papa akan ke La Plazza. Kita akan berbicara di sana," balas Mama Erina.


Setelah itu, Raka tampak mengangguk. Dia tidak takut, karena baginya semua sudah jelas bahwa dia mencintai Adista dan begitu pula Adista mencintainya.


"Kalau sudah, Raka pamit kembali ke unit ya, Ma?" tanyanya.


"Baiklah, tidak apa-apa. Temani istrimu."


Setelah itu, Raka memilih segera pamit. Dia memilih kembali ke unit karena dia kepikiran dengan istrinya. Raka akhirnya memilih untuk pulang lagi, menemani istrinya menjadi prioritas Raka sekarang. Memacu mobilnya lebih cepat, kurang dari 45 menit, akhirnya Raka tiba di unitnya. Begitu sudah memarkirkan mobilnya di parkiran basement, Raka sedikit berlari untuk masuk ke lift dan menuju ke unitnya.


Begitu sudah di depan pintu, Raka segera menekan bel. Berharap Adista belum tidur. Rupanya benar, Adista sendiri yang membukakan pintu. Wanita itu wajahnya masih terlihat sembab. Sementara Raka sendiri tersenyum, dia seketika masuk dan memeluk istrinya.


"Kamu menungguku?" tanyanya.


"Enggak," balas Adista.


Istrinya memang seperti itu. Padahal hatinya berkata iya, tapi mulutnya berkata tidak. Raka mengurai pelukannya sesaat, dia memaku wajah Adista yang begitu sembab. Tak ingin menunggu lagi, Raka menunduk dan dia segera mencium bibir Adista. Bukan sekadar kecupan, tapi itu adalah ciuman yang begitu memburu dengan gerakan bibir yang menggebu-gebu. Raka benar-benar rindu kepada istrinya itu. Sehingga Raka merasa dia harus menyalurkan rasa rindu itu.


Tidak cukup di sana, Raka mengangkat pinggul Adista, hingga sekarang Adista berada di gendongan Raka. Ya, layaknya koala menggendong anaknya, begitulah Raka menggendong Adista sekarang. Mempertahankan Adista di gendongannya akhirnya ada usapan dari lidah Raka yang menerobos masuk, menggoda dalam bentuk usapan, belitan, dan belaian dalam kesan hangat dan basah.


Oh, Adista sampai kalang kabut mengikuti pergerakan bibir Raka. Sayangnya, belum ada tanda-tanda Raka hendak berhenti. Yang ada Raka bergerak dan melangkahkan kakinya, tempat yang dia tuju sekarang adalah tempat tidur. Begitu mudah untuk Raka mengungkung Adista di bawahnya, dengan bibir yang saling bertaut satu sama lain.


Hingga akhirnya, Adista mengurai ciuman itu, menarik wajahnya lebih jauh.


"Sudah, Mas. Aku kehabisan napas," katanya.


Raka menganggukkan kepalanya perlahan. "Tidak mau berlanjut?"


"Tidak, moodku sedang tidak baik sekarang," aku Adista.


Bukan bermaksud menolak suami sendiri, tapi Adista terlanjur sedih dan moodnya sedang tidak baik. Tadi, entah berapa lama Adista menangis. Tidak ingin ditinggal Raka. Sekarang, begitu bertemu tentu saja sangat senang, lega. Namun, kalau harus bergulat lagi rasanya Adista belum memiliki mood yang baik.


"Baiklah ... no problem. Bobok yuk, aku kepikiran kamu. Begitu cerita dengan Mama dan Papa akhirnya aku memilih pulang lagi. Maaf udah bikin kamu nangis," kata Raka.


"Terima kasih sudah mau pulang untukku," balas Adista.


Raka kemudian merebahkan dirinya di samping istrinya. Capek rasanya. Akan tetapi, ketika sudah bisa jujur dengan Mama dan Papanya, Raka lebih tenang. Dia tahu Mama Erina dan Papa Zaid akan memberikan saran yang baik. Tidak akan bertindak serta-merta.


"Besok Mama dan Papa ingin berbicara dengan kamu. Besok ke ruanganku yah," balas Raka.


"Kalau tidak di La Plazza enggak bisa yah, Mas? Enggak enak aku sama Bu Linda dan lainnya, kalau aku dipanggil ke ruanganmu terus," aku Adista dengan jujur.


Raka akan mencari cara yang lain. Yang dikatakan istrinya benar bahwa bisa saja Bu Linda dan beberapa staff yang lain bisa curiga kalau Adista terus-menerus dipanggil ke ruangannya. Adista tidak perlu berpikir keras, Raka akan yang mencari jalan keluarnya.


...🍀🍀🍀...


Keesokan Harinya ....


Sore harinya, usai pulang dari bekerja, Raka mengajak Adista ke kafe yang tidak begitu jauh dengan La Plazza Hotel. Di sana sudah ada Mama Erina dan Papa Zaid yang menunggu kedatangan Raka dan Adista.


"Mama dan Papa," sapa Adista.


"Bagaimana kabarmu, Dista? Sehat?" tanya Mama Erina.


"Alhamdulillah, baik, Ma," balas Adista.


Setelahnya kemudian Mama Erina dan Papa Zaid tidak ingin menunggu lama. Keduanya segera menanyai Adista. Sebab, penting untuk keduanya mengerti perasaaan menantunya sendiri.


"Semalam Raka sudah bercerita kepada Mama dan Papa. Jadi, apa benar kamu itu Tata? Kekasihnya Rayyan?" tanya Mama Erina.


Adista mengangguk perlahan. "Ya, Ma ..., tapi itu dulu. Kami berpacaran jarak jauh, Ma. Akan tetapi, terjadi sesuatu dengan Dista dan Mas Raka, akhirnya satu bulan sebelum pernikahan, Dista memutuskan untuk putus dengan Rayyan."


"Perasaanmu bagaimana, Dista? Bukannya kami ikut campur, kami hanya ingin mendengar perasaan kamu saja, dan itu cara untuk menolong Rayyan," balas Mama Erina lagi.


Adista menjeda jawabannya sesaat. Kemudian dia barulah memberikan jawaban. "Dulu, memang Dista tidak mencintai Mas Raka. Kesal rasanya. Namun, semua sudah berlalu, Ma. Yang ada sekarang Dista sangat mencintai Mas Raka. Jangan pisahkan kami, Ma. Dista ... sangat mencintai ... Mas Raka."


Mengatakan semua itu benar-benar dari hatinya. Hingga Adista menangis secara emosional. Adista memiliki ketakutan tersendiri untuk dipisahkan dengan suaminya. Sebab, bisa saja Mama dan Papa akan meminta Adista turut menyembuhkan Rayyan.


Di saat bersamaan, Rayyan hadir di sana. Melihat Adista tentu saja Rayyan sangat senang. Akan tetapi, pemuda itu juga bingung ketika Adista menangis.


"Dista ... mencintai ... Mas Raka!"


Deg!


Rayyan turut mendengarkannya, pemuda itu tiba-tiba kehilangan senyumannya. Dia merasa terpukul mendengar pengakuan Tata-nya yang ternyata justru mencintai kakaknya sendiri.


"Tata ...."


Suara Rayyan itu terdengar untuk mereka, dan Rayyan memilih pergi dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Papa Zaid pun berdiri dan mengejar putra bungsunya itu. Sementara Adista menangis terisak-isak dengan memegangi dadanya. Adista baru tahu cinta yang sangat besar membuatnya sakit dan takut kala dipisahkan.


Mungkin terlalu emosional, Adista justru pingsan di sana. Seketika Raka yang hendak mengejar Rayyan menghentikan langkah kakinya. Ada kepanikan dari Mama Erina lagi.


"Dista ... Dista, bangun, Nak ... jangan begini," kata Mama Erina.


"Sayang," ucap Raka yang berbalik dan segera menolong istrinya.


Tidak ada yang Raka pikirkan sekarang. Dia segera membopong Adista dan dibantu Mama Erina masuk ke mobilnya. Raka harus membawa Adista ke Rumah Sakit sekarang juga. Seketika pikiran Raka terenggut dan teralihkan dengan istrinya yang pingsan dengan tiba-tiba.