
Selang beberapa jam kemudian, kamar rawat inap yang ditempati oleh Adista kini kedatangan para orang tua mereka. Ya, ada keluarga Syahputra dan keluarga Gusti di sana. Bahkan kali ini sengaja Papa Zaid menjemput besannya dan mengajak mereka menuju ke rumah sakit bersama-sama. Pikir Papa Zaid, pastilah besannya kesusahan dengan transportasi menuju ke rumah sakit. Tidak ada salahnya menjemputnya sekalian.
"Assalamualaikum," sapa Bu Ratih, Pak Gusti, Mama Erina, dan Papa Zaid.
"Waalaikumsalam," balas Adista dan Raka bersamaan.
Adista terlihat senang ketika orang tua dan mertuanya sama-sama datang sekarang. Setelah perjuangan panjang, kini bisa melihat orang yang tua sendiri rasanya luar biasa. Adista terbayang bagaimana ibunya dulu kala melahirkannya.
"Sudah lebih baik?" tanya Bu Ratih dengan menggenggam tangan Adista. "Sebenarnya sejak tadi Ibu dan Bapak ingin ke mari, tapi jaraknya sangat jauh, Dista. Syukurlah, Pak Zaid dan Bu Erina menjemput kami," kata Bu Ratih.
"Tidak apa-apa, Ibu. Ada Mas Raka yang selalu menemani Dista dan tidak meninggalkan Dista sedetik pun," balas Adista.
Papa Zaid tersenyum mendengar ucapan menantunya. Sebelumnya Raka bertanya bagaimana mendampingi istri yang hendak melahirkan kepada Papa Zaid. Rupanya, Raka benar-benar menerapkan tips yang diberikan oleh Papanya itu.
"Kamu berhasil, Raka. Tetap tenang. Soalnya kalau kamu panik, kasihan Adista nanti. Sepanik apa pun di hati, usahakan tenang dan selalu dampingi istrimu," kata Papa Zaid.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Pa. Walau tadi panik setengah mati. Semua hilang kala menatap wajah cantik Baby girl-nya Raka," balasnya.
"Wah, akhirnya Baby girl. Selamat yah," kata Mama Erina.
Papa Zaid, Mama Erina, Pak Gusti, dan Bu Ratih bergantian memberikan pelukan untuk Raka. Mereka sudah tahu bahwa Raka memang menginginkan bayi perempuan. Rupanya itu benar-benar terwujud sekarang.
"Terima kasih semuanya," balas Raka.
"Sesuai Request-nya, Mas Raka," sahut Adista.
"Nanti anak kedua, cowok, Dista. Dijaga jarak kelahiran dulu," kata Mama Erina lagi.
Adista kemudian tertawa. "Masih sakit, Ma. Dista butuh recovery juga dan waktu untuk diri sendiri. Tidak keburu-buru deh, Ma."
Raka menganggukkan kepalanya perlahan. Dia sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Adista. Dia juga tidak terburu-buru untuk menambah momongan. Lebih baik menunggu waktu yang tepat. Selain itu, Adista yang pasca bersalin rasanya juga perlu pulih sepenuhnya.
"Babynya mana?" tanya Pak Gusti.
"Masih diobservasi di ruang inkubator, Pak. Harusnya tidak lama lagi sudah bisa bertemu Babynya sih," balas Adista.
Setelah itu, Bu Ratih memberikan tas kecil yang berisi kotak bekal untuk Raka dan Adista. Sebenarnya Bu Ratih merasa malu, dia tidak bisa memberikan hal yang mewah, hanya bisa memberikan makanan saja untuk Adista dan Raka.
"Bawa apa, Ibu?" tanya Raka.
"Maaf, Nak Raka. Ibu bawakan makan, dan sedikit buah. Maaf, Bapak dan Ibu tidak bisa memberikan apa-apa," kata Bu Ratih.
Terlihat jelas bagaimana Raka yang notabene kaya raya justru bisa menghargai pemberian dari mertuanya. Tidak melihat nilai dan nominal, tapi menghargai ketulusan Bu Ratih yang ingin memberikan untuk anak-anaknya. Mama Erina dan Papa Zaid juga tersenyum. Kalau boleh jujur, Mama Erina dan Papa Zaid justru bangga dengan Raka yang bisa menghargai pemberian dari seseorang. Itu adalah sikap yang baik.
"Dimakan yah Nak Raka," kata Bu Ratih lagi.
Raka kemudian duduk beralih di sofa. Dia membuka kotak bekal sederhana dari mertuanya itu. Rupanya ada nasi putih, Sayuran, dan beberapa lauk. Raka tersenyum melihat kotak bekal itu.
"Bapak dan Ibu, Raka makan yah ...."
"Iya, Nak Raka. Makan dulu," balas Bu Ratih. Setelah itu, Bu Ratih tersenyum. Semula dia merasa malu, tapi sekarang tidak lagi karena Raka adalah menantu yang sangat menghargainya.
"Adista mau makan? Biar Mama yang suapin," kata Mama Erina.
Adista kemudian tersenyum. "Boleh, Ma. Adista juga lapar," balasnya.
Akhirnya Mama Erina membuka satu kotak bekal lainnya dan mulai menyuapi Adista. Terlihat bagaimana baik dan penuh kasih sayangnya Mama Erina ketika menyuapi menantunya yang belum begitu pulih staminanya usai melahirkan.
"Terima kasih banyak Bu Erina," kata Bu Ratih.
Sungguh, Bu Ratih terharu melihatnya. Momen di mana anak perempuannya benar-benar diterima dan disayang oleh keluarga mertuanya. Bagi Bu Ratih mendapatkan mertua yang baik adalah anugerah, sama seperti Adista yang mendapatkan mertua yang juga begitu sangat baik.
"Enak enggak, Nak Raka? Apa masih ada yang kurang?" tanya Bu Ratih.
"Masakan Ibu selalu enak kok. Raka kangen dengan Tumis Kangkungnya itu loh, Bu," kata Raka.
"Lain kali Ibu masakkan yah. Ibu kepikiran membuat Sup yang hangat dan cocok untuk Adis yang usai melahirkan," balas Bu Ratih.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu. Terima kasih."
Kurang lebih setengah jam berlalu, kemudian Raka dan Adista menyelesaikan makan siang. Isi kotak bekal yang sebelumnya terisi penuh sekarang sudah habis tak tersisa. Setelah itu, tak berselang lama ada perawat datang dan mendorong box bayi.
"Bu Adista," sapa perawat di sana.
"Ya, Suster," balas Adista.
"Baby Qiana sudah diobservasi, Ibu. Sekarang, waktunya untuk diberikan ASI dulu yah, Bu," kata perawat itu.
Kemudian Papa Zaid dan Pak Gusti keluar sebentar karena perawat mengajari Adista bagaimana caranya pelekatan pertama untuk bayi. Sebab, kunci sukses memberikan ASI adalah di pelekatan pertama. Oleh karena itu, perawat membantu Adista untuk melakukan tahap-tahap memberikan ASI.