
Mama Erina dan Papa Zaid memang belum menjenguk Adista lagi. Semua itu, karena keduanya memikirkan solusi untuk segera menyembuhkan Rayyan. Ada pertimbangan tersendiri ketika Adista sekarang sudah hamil, maka Mama Erina dan Papa Zaid ingin rumah tangga Raka adem ayem.
Masa lalu memang pelik. Akan tetapi, Raka menunjukkan dirinya sebagai seorang suami yang mencintai dan bertanggung jawab. Begitu pula Adista yang mengakui bahwa dia sangat mencintai Raka.
"Pa, sebaiknya kita segera memeriksakan Rayyan. Serangkaian terapi harus dilakukan supaya Rayyan cepat sembuh," kata Mama Erina.
"Tidak mengira, dulu sewaktu Raka kecil, Raka yang mengalami amnesia retrograde hingga banyak memorinya yang hilang. Sekarang, justru Rayyan yang mengalami hal seperti ini," kata Papa Zaid.
Kalau dibilang sedih pastilah Papa Zaid sangat sedih. Dulu, sewaktu Raka kecil Rakalah yang mengalami kecelakaan dan bagian kepalanya tertimpa pohon. Kala itu hubungan Papa Zaid dan Mama Erina sedang tertimpa masalah, hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk rujuk dengan serangkaian syarat yang diteken bersama.
"Raka dan Adista saling mencintai, Pa. Terlepas dari masa lalu yang kurang baik dan sesuatu yang terjadi di antara keduanya, tidak benar jika ada pihak ketiga, sekalipun itu adik iparnya sendiri," balas Mama Erina.
Benar-benar kondisi yang tidak baik ketika hadir pihak ketiga. Bahkan adik ipar sendiri pun bisa menjadi orang ketiga. Sebagai orang yang pernah merasakan peliknya kedatangan orang ketiga, Mama Erina tahu bahwa hubungan itu menjadi tak sehat. Terlebih untuk Raka yang menyadari orang ketiga itu adalah adiknya sendiri.
"Sewaktu kita muda dulu, rumah tangga kita juga bermasalah, Ma. Juga karena orang ketiga. Itu saja aku sudah sangat geram. Aku bahkan meminta kamu untuk tidak melibatkan orang ketiga lagi. Sementara Raka harus menekan perasaan dan emosinya karena orang ketiga itu sekarang adalah Rayyan. Sangat pelik, Rayyan menganggap Kakaknya lah orang ketiga itu. Sementara untuk Raka, adiknya lah orang ketiganya," balas Papa Zaid.
"Semoga masalah ini terselesaikan ya, Pa. Mama berharap sembuhnya Rayyan menjadi solusi dari masalah ini," balas Mama Erina.
Setelah itu, Mama Erina dan Papa Zaid mengajak Rayyan ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kondisinya. Kedua orang tua itu berharap bahwa semakin cepat Rayyan sembuh semakin baik. Ada hal lain yang keduanya harapkan yaitu hubungan kakak adik antara Raka dan Rayyan juga pulih.
"Selamat siang, Dokter," sapa Mama Erina dan Papa Zaid.
"Selamat siang. Ketemu lagi sama Pak Zaid ini," sapa Dokter Sony, Dokter yang dulu menangani Raka sewaktu mengalami amnesia retrograde. "Ini Raka?" tanya Dokter Sony lagi.
"Bukan Dokter, ini Rayyan. Adiknya Raka. Raka sudah lebih dewasa, Dokter."
Saling sapa, Dokter Sony semula mengira Rayyan adalah Raka. Sebab, dulu yang pernah ditangani Dokter Sony adalah Raka. Tidak menyangka bahwa sekarang yang datang adalah adiknya Raka.
"Kita lakukan pemeriksaan yah, Ray," kata Dokter Sony.
Mulailah Dokter Sony memeriksa Rayyan. Ada tanya jawab juga antara Dokter dan pasien. Hingga akhirnya, hasil pemeriksaan Rayyan keluar.
"Ada False Memory di sini," kata Dokter Sony.
"False Memory itu apa, Dokter?" tanya Papa Zaid dan Mama Erina.
"Ingatan semu atau false memory adalah kumpulan hal yang terasa nyata di pikiran, padahal sebagian hingga seluruhnya adalah buatan. Menariknya, orang yang mengalami ingatan semu ini bisa merasa benar-benar yakin."
Dokter Sony menjelaskan dengan detail. Tentu ini adalah hal yang baru untuk Mama Erina dan Papa Zaid. Itu artinya bisa ditarik kesimpulan bahwa Rayyan mempercayai masa lalu yang itu sudah tidak terjadi. Sama seperti Rayyan hubungannya dengan Dista sudah berakhir, tapi dia merasa bahwa Dista masih menjadi pacarnya.
"Jangan salah, false memory adalah hal yang terasa begitu nyata bahkan melibatkan emosi intens. Orang yang memilikinya bisa saja teguh pada pendiriannya bahwa suatu hal benar-benar terjadi. Ada kepercayaan diri bahwa hal itu benar-benar terjadi." Dokter Sony menjelaskannya lagi.
"Lalu, bagaimana penanganannya, Dokter?" tanya Papa Zaid.
Agaknya sekarang Mama Erina dan Papa Zaid harus mulai menunjukkan realita yang sebenarnya bahwa Raka dan Adista sudah menikah dan saling mencintai. Bukan menggarami luka di hati Rayyan, tapi itu adalah terapi supaya Rayyan bisa menerima keadaan yang sebenarnya. Rayyan bisa mendapatkan recall memori yang sebelumnya terkubur.
"Berbahaya tidak kalau kami menunjukkan kebenaran?" tanya Papa Zaid lagi.
"Lihat reaksinya dulu yah Pak Zaid. Sama seperti yang Raka alami dulu. Kita tidak boleh gegabah, dicari jalan keluarnya dengan sebaik mungkin."
Menyelesaikan konsultasi hari ini, Rayyan kemudian bertanya kepada Mama dan Papanya. "False memory, bukan berarti Rayyan gila kan, Ma?"
"Tidak, Ray. Kamu tidak gila. Kamu harus sembuh dan menemukan ingatanmu yang terkubur," balas Mama Erina.
"Kalau ingatan itu tidak kembali?" tanya Rayyan.
Mama Erina menatap putranya itu. "Sembulah, Ray. Temukan ingatanmu. Jangan menyerah. Sewaktu kecil dulu, Kakakmu pernah kritis dan akhirnya amnesia, tapi pada akhirnya Kakakmu sembuh. Kamu juga harus sembuh yah," kata Mama Erina.
Mendengarkan ucapan Mamanya, Rayyan hanya terdiam. Kepalanya mendadak agak pening. Inginnya kalau ingatan itu untuk mengenang Tatanya, Rayyan tidak masalah kehilangan ingatannya. Namun, Mamanya sendiri meminta Rayyan harus sembuh. Dengan terapi dan melakukan saran-saran dari Dokter Sony pastilah semua bisa diatasi.
"Semangatlah, Ray. Kamu butuh terapi dan recall memori kamu saja," kata Papa Zaid sekarang.
"Semoga saja, Pa."
Ketiganya meninggalkan Rumah Sakit dengan rasa cemas di dalam hati masing-masing. Walau tak begitu serius tetap saja ada ingatan yang terkubur. Itu yang harus didapatkan lagi.
...🍀🍀🍀...
Sementara itu, di apartemen Raka. Tampak siang hari Raka setelah pulang dari Rumah Sakit, Raka harus ke La Plazza Hotel terlebih dahulu. Sebab, ada meeting dan beberapa laporan yang harus dia cek.
"Sayang, kamu cuti dulu. Kalau sudah enakan baru mulai bekerja. Aku akan ke La Plazza dulu," kata Raka.
"Aku ikut boleh enggak, Mas? Pengen kerja juga," balas Adista.
"Jangan ngeyel, Yang. Kamu di rumah saja. Santai dan nikmati waktu istirahat. Begitu meeting udah selesai, aku akan pulang ke sini," balas Raka lagi.
"Jangan lama-lama," balas Adista dengan sedikit merajuk manja.
Raka yang tengah berganti kemeja pun, menatap istrinya itu. "Iya, Bumil. Aku bekerja dulu sebentar. Maaf, kamu pulang dari Rumah Sakit dan aku langsung kerja. Cuma satu atau dua jam saja, aku akan pulang lagi."
"Lalu, aku cuti berapa hari coba?" tanya Adista.
"Tiga hari. Sembuh dulu. Setelah itu resign, jangan mengambil risiko karena kamu hamil," kata Raka lagi.
Adista menghela napas panjang. Apakah benar harus resign dari pekerjaan secepat ini? Padahal kerjaannya juga hanya duduk di balik meja, tapi suaminya sudah memintanya resign dan fokus dengan kehamilannya.