Staycation With Boss

Staycation With Boss
Rumah yang Kian Sempurna



Cukup menginap di Rumah Sakit satu hari satu malam, sekarang Adista sudah diperkenankan untuk pulang. Walau begitu, minggu depan dia harus datang lagi ke Rumah Sakit untuk kontrol pasca bersalin. Oleh karena itu, sekarang Raka menyelesaikan biaya persalinan istrinya terlebih dahulu dan juga memgambil obat. Sebab, masih ada obat yang harus dikonsumsi oleh Adista.


"Nanti memakai babysitter enggak, Dis?" tanya Mama Erina kepada menantunya itu.


Dengan cepat Adista menggelengkan kepalanya. "Enggak deh, Ma. Adista akan mengasuh Baby Qiana sendiri aja deh, Ma. Kan di rumah sudah ada ART yang membersihkan rumah, biar Baby Q sama Mamanya saja," balas Adista.


Mama Erina kemudian tertawa. Seakan Adista mengingatkan pada Mama Erina sewaktu muda dulu. Ya, dulu ketika memiliki anak-anak, juga Mama Erina tidak menggunakan babysitter. Dari Raka, Raline, dan Rayyan, semua dipegang sendiri oleh Mama Erina. Para ART di rumah bisa membersihkan rumah dan memasak, tapi anak-anak dipegang sendiri. Itulah prinsip Mama Erina.


"Bagus, Dista. Kayak Mama dulu. Semuanya Mama sendiri yang mengasuhnya. Waktu Bayinya Raka dulu Mama banyak mengasuhnya sendiri, Papamu mengembangkan bisnis. Mama kepayahan apalagi waktu itu Mama masih sangat muda dan belum banyak pengalamannya. Baru setelah memiliki Raline dan Rayyan, Mama sudah memiliki pengalaman, bisa mengasuh anak. Namanya juga hidup, Dis ... banya belajarnya, kadang juga tak sempurna."


Adista mendengarkan cerita dari Mama Erina. Adista merasa sangat setuju dengan apa yang Mama Erina sampaikan, hidup adalah belajar. Kadang juga tak sempurna, kadang jatuh dan bangun. Namun, yang baik adalah memaknai semua proses itu. Berproses setiap harinya hingga menunjukkan hasil. Itu adalah petuah baik yang Mama Erina ajarkan.


"Makasih nasihatnya, Ma. Dista nanti juga gak tahu bakalan gimana. Dista dan Mas Raka masih pendatang baru juga di kehidupan berumahtangga, menjadi orang tua. Belum profesional. Akan tetapi, pada intinya sih kami berdua mau kok belajar untuk Baby Qiana," balas Adista.


"Iya, belajar aja. Mama nanti juga akan sering main ke rumah kalian. Sedikit-sedikit Mama bantuin yah nanti," kata Mama Erina.


"Makasih banget yah, Ma. Adista seneng kalau ada yang bantuin."


Tidak berselang lama, kemudian Raka mulai datang dengan membawa kantong plastik berisikan obat-obat milik Adista. Ada hadiah juga yang diberikan pihak Rumah Sakit untuk Baby Qiana.


"Dapat hadiah dari Rumah Sakitnya untuk Baby Qiana nih, Sayang," kata Raka.


"Wah, Qiana udah dapat kado new born dari Rumah Sakit nih," kata Adista.


"Iya, aku berkemas dulu yah. Masih ada obat-obat ini yang harus diminum sampai habis," kata Raka lagi.


"Iya, Mas. Kalau minum obat sejak hamil Qiana juga aku enggak pernah bolos kok. Selalu rajin minum obat. Sudah sembilan bulan loh aku minum obat, dan masih berlanjut lagi," kata Adista.


Mama Erina lagi-lagi tertawa mendengar ucapan Adista. "Fase minum obat terlama yah, Dis. Hampir sepuluh bulan yah nanti."


"Iya, Ma. Yang penting enggak genap dua belas bulan aja, Ma."


Sekarang Adista dan Mama Erina tertawa bersama. Hanya candaan receh, sementara Raka tersenyum tipis. Seperti biasanya, Raka irit bicara. Senyum pun hanya di sudut bibirnya. Jarang sekali pria itu tertawa lepas. Melihat istri dan mamanya tertawa bersama, Raka juga hanya tersenyum tipis saja.


"Sudah semuanya, Sayang. Kita pulang sekarang?" ajak Raka.


"Iya, Mas ... sudah kangen rumah," balas Adista.


"Sini, biar Mama yang gendongin Qiana. Cucunya Oma ... cantiknya kamu, Sayang."


Mama Erina terlihat begitu menyayangi Qiana dan juga dia menjadi Oma diusia yang masih di atas kepala lima. Energi dan semangatnya masih luar biasa. Senang sekali memiliki cucu pertama.


"Ka, Mama ikut ke rumah kamu dulu yah. Nanti Papa jemput Mama sore hari," kata Mama Erina.


Akhirnya mereka keluar dari kamar. Tak lupa berpamitan dengan suster yang berjaga. Menuju ke lobby, ada Dokter Rinta yang baru saja tiba di Rumah Sakit. Dokter Rinta pun menyapa Adista dan keluarga.


"Sudah mau pulang Bu Adista?" sapa Dokter Rinta.


"Iya, Dokter. Baru mau pulang. Boleh enggak kami foto bersama dengan Dokter dulu?" tanya Adista.


Dokter Rinta kemudian tertawa dan menganggukkan kepalanya. "Tentu boleh, sini Baby Qiana digendong Dokter dulu yah," kata Dokter Rinta.


Akhirnya Mama Erina menyerahkan Baby Qiana kepada Dokter Rinta. Kemudian meminta tolong perawat di sana untuk mengambilkan foto.


"Sekali lagi selamat yah Bu Adista. Nanti kalau mau promil lagi sama saya yah. Senang bisa menjadi Dokter Spesialis Kandungan untuk Bu Adista," kata Dokter Rinta.


"Saya juga berterima kasih banyak, Dokter. Sudah dilayani dan mendapatkan perawatan yang terbaik. Minggu depan masih bertemu untuk periksa pasca bersalin," kata Adista.


"Oh, iya. Sampai bertemu minggu depan yah Bu Adista. Sampai jumpa lagi," balas Dokter Rinta.


Setelahnya mereka berpamitan. Mama Erina juga senang bertemu Dokter yang ramah dan perhatian dengan pasiennya. Usai itu, Raka mengambil mobil terlebih dahulu. Setelahnya, Raka membantu Adista untuk masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati duduknya, di punggung di kasih bantal yah," kata Raka.


Mama Erina justru yang tersenyum. "Kamu kalau sama Adista bisa sweet gitu sih, Ka. Kamu itu mirip banget sama Papa kamu deh," kata Mama Erina.


"Papa juga sweet yah, Ma?" tanya Adista.


"Sweet banget. Pendiam dan tenang gitu, tapi kalau udah sama Mama jadi sweet banget Papanya," cerita Mama Erina.


Raka hanya tersenyum saja. Dia segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya sembari berharap lalu lintas ibukota tidak padat, sehingga mereka tak terjebak macet. Sekarang ada Baby Qiana yang Raka khawatirkan. Dia tidak ingin babynya bermacet-macet ria di jalan.


Menempuh perjalanan lebih dari setengah jam, akhirnya mereka tiba di rumah. Sementara itu, di rumah Raka ada Papa Zaid, kedua orang tua Erina, dan Desta. Mereka seolah menyambut kedatangan Raka, Adista, dan Baby Qiana.


"Welcome Home," sambut mereka bersamaan.


"Makasih semuanya," balas Raka dan Adista dengan kompak.


Desta kemudian maju satu langkah, dia menyerahkan boneka kecil kepada Adista. "Mbak Adis, selamat sudah resmi menjadi Ibu. Babynya secantik Mbak Adis. Hadiah kecil untuk keponakan kecil," kata Desta.


Adista tersenyum dan memeluk adiknya itu. "Makasih ya, Ta. Nanti pasti Baby Qiana akan main dengan boneka ini," balas Adista.


"Enggak seberapa, Mbak ..., tapi Desta nabung sendiri dari uang sakunya Desta. Selamat yah Mas Raka dan Mbak Adis."


Raka kemudian merangkul adik iparnya itu. Menghargai pemberian dari Desta. Bukan melihat nilai atau harganya, tapi kesungguhan Desta ingin menyambut dan memberikan hadiah spesial untuk keponakan kecilnya. Seisi rumah pun bahagia sekali rasanya. 💕