
Selang beberapa hari kemudian, event di La Plazza Hotel mulai berjalan. Rupanya ada salah satu perusahaan konstruksi besar yang menggunakan salah satu ruangan di La Plazza Hotel untuk melakukan rapat. Jaya Corp yang menggelar meeting dengan Agastya Properti di La Plazza Hotel. Sehingga, saat itu Raka bertemu dengan kedua temannya. Memang bukan teman dekat, tapi keduanya kenal karena pernah bekerja sama sebelumnya. La Plazza ini dibangun dan didirikan berkat kerja sama tiga perusahaan besar yaitu Perusahaan Papa Zaid, Jaya Corp, dan Agastya Properti. Sehingga, Raka juga mengenal generasi kedua atau anak Direktur Utama Jaya Corp dan Agastya Properti yaitu Aksara sebagai putra sulung Direktur Utama Jaya Corp, dan Evan Agastya yang adalah putra sulung Agastya Properti.
"Bagaimana kabarnya Pak Raka?"
Aksara, yang sebenarnya lebih tua dari Raka menyapa rekannya itu. Lantaran dalam koridor bisnis, sehingga Aksara memanggil Raka dengan panggilan Bapak.
"Gak usah memanggil Pak. Biasa saja, malu," balas Raka.
"Kenapa malu, kan benar masak ya memanggil Direktur Utama seorang CEO La Plazza dengan sebutan Bro," balas Aksara.
"Kan secara usia, kamu yang lebih senior," balas Raka.
Aksara akhirnya tersenyum. Dia menunggu rekannya yang lain untuk sekadar menyapa Raka. Bagaimana pun ketika mengadakan meeting bersama, mereka akan menyempatkan untuk saling menyapa.
"Kabarnya Princess gimana, Bro?" tanya Raka kemudian.
"Sedang aktif-aktifnya, sedang lucu-lucunya. Sama-sama ceriwis, tapi seneng banget pulang ke rumah ada dua malaikat kecil yang menyambut tiap sore," cerita Aksara.
Memang Aksara yang terlebih dahulu menikah di antara rekannya. Dia bahkan memiliki dua putri kecil yang diberi nama Aurora dan Anna. Dua nama yang diambil dari nama-nama Princess. Oleh karena itu, rekan Aksara sering kali menyebut kedua buah hatinya dengan sebutan Princess.
"Lucu yah ... kalau ceriwis gitu gimana? Gak kebayang deh jadinya," balas Raka.
"Ya, diakomodasi kebutuhannya. Dia tanya apa, kita menjawab dan menjelaskan. Mereka minta dibacakan buku, ya kita bacain buku. Seru kok. Salah satu keindahan berumahtangga justru ketika sudah memiliki anak," balas Aksara.
Raka yang mendengarkan cerita dari temannya itu rasanya juga segera menginginkan untuk memiliki anak. Dia diam-diam membayangkan rasanya pulang ke rumah ada tangan kecil yang memeluk lehernya. Ada suara kecil yang memanggilnya Papa. Apalagi kalau anak perempuan yang sedikit manja dan manis, pastilah sangat mengemaskan.
"Udah, gak usah membayangkan yang macam-macam. Married dulu, Mr. Raka," sahut Evan yang adalah Wakil Direktur Agastya Properti.
Pria tampan itu menyahut dan menegaskan supaya Raka tak membayangkan yang aneh-aneh. Lebih baik segera menikah dulu. Semua itu juga karena Aksara dan Evan juga sama-sama belum tahu bahwa Raka sebenarnya sudah sold out. Sudah melepas masa lajangnya.
"Apaan," balas Raka singkat.
"Bentar lagi, Bro Evan yang memiliki baby," kata Aksara kemudian.
"Aamiin, doakan saja. Istri masih semangat ngerjain skripsi. Bro, istriku mahasiswinya Bro Aksara loh. Istrinya itu Dosennya Istriku," cerita Evan dengan tertawa.
Raka yang mendengarkan cerita Evan pun tertawa. Kenapa dunia seakan begitu sempit. Istri Evan adalah mahasiswi istrinya Aksara. Hubungan yang aneh.
"Dosen di usia berapa emangnya?" tanya Raka. Mengingat Aksara hanya beberapa tahun di atasanya saja. Maklum, image dosen biasanya sudah berumur.
"Se kamu mungkin. 28 tahun, dia menjadi dosen sejak lulus S1 kok, semula kan menjadi Asisten Dosen dulu. Masih muda," balas Aksara.
Aksara tersenyum tipis. "Ya, begitulah. Kadang kala juga istri kok lebih dewasa. Pernikahan kan begitu, saling melengkapi satu sama lain. Ada kalanya yang satu menjadi childish dan kekanak-kanakan. Ada kalanya yang satu harus menjadi sosok dewasa. Balance, Bro."
Raka dan Evan sama-sama menganggukkan kepalanya. Kalau Aksara sudah berbicara seputar pernikahan rasanya seperti mendengarkan konselor pernikahan yang berbicara. Lagipula, secara usia memang Aksara yang lebih tua, sehingga yang muda mencari pengalaman dari yang lebih tua.
Sembari mengobrol dan menikmati Americano Panas, hingga Evan dan Aksara tak sengaja melihat cincin melingkar di tangan Raka. Dalam diam, keduanya mengingat sebelumnya Raka tak pernah mengenakan cincin di jari manisnya. Akan tetapi, sekarang ada cincin emas melingkar di sana.
"Your ring ... tunangan atau Married, Bos?" tanya Evan kepada Raka.
Raka hanya tersenyum tipis. Pria itu kemudian mengangkat tangannya kian dekat ke wajahnya, menggerakkan cincin di jari manisnya perlahan, kemudian Raka kembali tersenyum. Jujur, jika bersama kedua sahabatnya ini Raka ingin berbagi cerita. Namun, ada hal yang masih ingin Raka jaga. Janjinya kepada Adista untuk merahasiakannya sementara waktu.
"Nanti kalian berdua juga pasti tahu," balas Raka.
"Wah, Mr. Raka sekarang pake rahasiaan ke kita. Pertanda apakah ini?"
Aksara menyahut dan kemudian ketiga pria itu sama-sama tertawa. Biasanya, Raka cukup terbuka jika dengan Aksara dan Evan. Akan tetapi, sekarang ada rahasia yang harus Raka jaga terlebih dahulu.
"Ajak Princess ke sini dong," kata Raka. Mungkin Raka sekarang sedang mengalihkan pembicaraan.
"Nginep ke sini, harga sahabat boleh enggak?" tanya Aksara, tentu dia sekadar bercanda.
"Gratis semalam deh, penting ajak Duo Princess. Apalagi bulan depan, aku akan membuat Playground di sini, supaya La Plazza menjadi pilihan orang tua milenials untuk menginap dengan anak-anaknya," kata Raka.
Aksara menganggukkan kepalanya. "Ide brilian, Bos. Memang kadang orang tua itu mencari loh hotel yang kids friendly, sehingga mereka nyaman ketika diajak menginap di hotel. Nanti kalau ada fasilitas playground atau mini zoo, pasti ini jadi pilihan orang tua milenials dan anak-anak sih," balas Aksara.
"Benar, nanti aku bisa kasih tahu adikku untuk nginap di sini mengajak anak-anaknya," balas Evan.
Sekarang tampak Raka yang mengernyitkan keningnya. "Adikmu justru udah punya anak?" tanyanya.
Evan kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, aku sudah memiliki dua keponakan. Cewek dan cowok sekaligus, anaknya Adikku," balas Evan.
"Berarti Adik yang menikah duluan? Yang mana, Eiffel yah?" tanya Raka.
"Bukan, Elkan. Dia dulu kuliah di Sydney. Sekarang sudah memiliki dua anak kembar. Cewek dan cowok, fraternal kembarnya," balas Evan.
"Makin lucu yah. Sekali melahirkan langsung punya baby cowok dan cewek," balas Raka.
"Iya, memang lucu. Jadi bagaimana Mr. Raka, sebenarnya udah menikah belum sih? Kenapa tiba-tiba Mr. Raka ini tertarik dengan anak-anak. Saya jadi curiga," balas Evan.
Lagi-lagi tak ada jawaban. Raka hanya tertawa dan mengangguk beberapa kali saja. Nanti kalau tiba waktunya semua juga akan tahu statusnya yang sebenarnya. Sekarang biarkan saja orang berasumsi terkait dengan cincin yang melingkar di jari manisnya.