
"Bisakah kita membuka lembaran baru bersama?"
Raka bertanya itu dengan nada yang terdengar lembut. Andai Raka bisa jujur, dia akan mengatakan bahwa dia menaruh hati kepada Adista ketika melihat Adista bekerja di La Plaza Hotel. Mungkin caranya mendekati salah, bahkan mungkin terkesan arogan. Akan tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya, dia menyukai Adista. Hanya saja Raka belum bisa mengungkapkan semuanya.
Tidak ada jawaban dari Adista. Sejak awal Adista sudah mengatakan tidak mudah baginya membina ikatan tanpa cinta. Terlebih Adista mencintai Rayyan. Walau begitu, usai dari Lombok memang Adista memutuskan hubungannya dengan Rayyan.
Raka kemudian meraih tangan Adista. Mungkin sekarang Raka belum bisa berbicara banyak, tapi Raka sangat serius dengan Adista.
"Kalau kamu belum bisa menjawab tidak apa-apa. Kamu butuh waktu kan? Aku akan memberikannya. Aku juga tidak akan memaksa kamu atau memaksakan kehendakku," kata Raka lagi.
Lagi-lagi Adista hanya bisa diam dan berurai air mata. Dia merasa bersalah juga, seharusnya dia bisa melupakan semua. Namun, namanya manusia juga membutuhkan proses. Terlebih usah bertatap muka dengan Rayyan. Itu seketika menggores hatinya.
Sementara Raka terlihat lebih dewasa. Dia bisa menerima Adista. Dia mau memberikan waktu kepada Adista. Ya, Raka akan menunggu istrinya itu. Raka juga tahu tidak mudah untuk menata hati. Oleh karena itulah, Raka akan menunggu.
Sementara itu, melewati malam pertama sebagai pasangan suami istri, Adista masih ada keengganan untuk berbaring di sisi suaminya. Ini memang bukan kali pertama baginya untuk seranjang dengan Raka. Sebelumnya di Lombok, dia pernah seranjang juga dengan pria itu.
"Tidurlah saja, aku tidak akan mengganggumu," kata Raka.
"Kenapa Pak Raka menganggap semuanya enteng?" tanya Adista sekarang.
"Enteng apa, Dista? Aku gak menganggap enteng semuanya. Aku sudah meminta maaf. Aku bertanggung jawab untuk apa yang aku lakukan. Selain itu, aku meminta maaf kepada Adikku. Kurang apa lagi?" tanya Raka sekarang.
Mungkin sikap dan pembawaan Raka terkesan mengentengkan segala sesuatu. Akan tetapi, jauh dari semua yang Dista tahu, Raka sudah berusaha berbicara dengan adiknya.
"Kamu ingin apa sekarang? Aku sudah berikan semuanya, tapi kalau aku harus melepasmu dari pernikahan ini tidak bisa," kata Raka menegaskan.
"Kenapa tidak bisa Pak Raka?"
"Pernikahan kita bukan permainan, Dista. Kamu menganggap semua ini hanya permainan?" tanya Raka sekarang.
Jujur, Raka mulai kesal. Akan tetapi, Raka masih berusaha menahan emosinya. Dia tahu, kalau memperlakukan wanita harus dengan baik. Oleh karena itu, Raka berusaha berbicara dengan nada yang tidak berapi-api.
Sekarang lagi-lagi Adista menangis. Dia juga bingung. Raka sudah tidak mau menahan lagi, dia kemudian berjalan ke arah Adista. Tidak ada suara yang Raka katakan, tapi ada gerakan yang Raka lakukan. Yah, dia memeluk Adista di sana. Memang tanpa meminta izin terlebih dahulu. Sebab, Raka menilai bahwa Adista sudah menjadi haknya secara penuh. Jika hanya sekadar memeluk pun tidak menjadi persoalan.
Raka menghela napas beberapa kali, dan mengusapi rambut hingga punggung istrinya itu. Raka tahu, Adista masih butuh waktu. Oleh karena itu, Raka yang akan menunggu. Tidak apa-apa jika memang waktu yang diperlukan Adista begitu lama.
Sementara kedua tangan Adista yang luruh, Raka bawa dan tempatkan untuk melingkari pinggangnya. Setidaknya, dengan cara ini Raka menunjukkan kehadirannya bukan hanya sebagai seorang suami, tapi juga sebagai seorang yang ada dan perhatian kepada Adista.
Adista masih terisak-isak. Air matanya tentu saja membasahi kemeja suaminya itu. Namun, Adista juga tidak menjawab apa pun perkataan suaminya itu.
"Bereskan perasaanmu dulu, aku yang akan menunggu. Tidak apa-apa. Sepulang dari Lembang, jika kamu perlu waktu berbicara dengan Rayyan lakukanlah. Aku tunggu," kata Raka.
Mungkin masih ada yang perlu dijelaskan dan diluruskan antara Adista dan Rayyan. Raka juga tidak keberatan untuk memberikan waktu bagi keduanya untuk berbicara. Asalkan usai semuanya, semua bisa berdiri masing-masing di posisinya.
"Kamu meminta apa pun akan ku berikan, tapi jangan meminta pembatalan pernikahan ini. Aku tidak bisa," kata Raka yang menegaskan maksudnya.
"Sudah lebih dari satu bulan sejak kita pulang dari Lombok. Toh, aku baik-baik saja. Tidak ada yang berbeda dengan tubuhku. Aku juga tidak hamil," balas Adista sekarang.
"Lalu, apa menurutmu walau kamu tidak hamil, aku tidak bertanggung jawab? Aku bukan pria seperti itu, Dista. Untuk apa yang aku lakukan, aku akan bertanggung jawab. Untuk salahku, aku saja mengakuinya langsung. Tidak menyembunyikan apa pun," balas Raka.
Dista kemudian mengurai pelukannya di tubuh pria itu. Dia memilih untuk beranjak ke ranjang. Hari sudah begitu malam. Sudah waktunya istirahat, toh Dista juga merasa lelah karena terlalu banyak menangis.
"Kamu mau ngapain?" tanya Raka.
"Istirahat, Pak," balasnya.
"Tidak mengajak suamimu?" tanya Raka.
Adista terdiam. Dia memilih duduk di tepian ranjang. Masih galau juga. Sekarang, kalau mau menaruh guling sebagai pembatas sebagai pembatas antara dirinya dan suaminya apakah dibenarkan? Pasti tidak dibenarkan bukan?
Raka kemudian turut menaiki ranjang, dan berbaring di tempatnya. Kemudian dia menarik tangan Adista untuk turut berbaring di sisinya.
"Sini, jangan hanya duduk di situ," kata Raka.
"Tidak menaruh guling di sini?" tanya Adista.
"Untuk apa? Kita sudah sah untuk satu sama lain kok. Tidak perlu ada pembatas juga," balas Raka.
Adista menghela napas. Jujur, bagaimana pun dia merasa belum siap harus banyak melakukan kontak fisik dengan suaminya. Perkara menata hati saja belum selesai. Masih shock juga dengan pertemuan dengan Rayyan secara tiba-tiba.
"Kalau hari ini semuanya masih abu-abu biarkan saja. Namun, ku harap pernikahan kita tidak selamanya kelabu. Akan menjadi hitam atau putih, bahkan aneka warna pelangi tidak masalah. Sudah, istirahatlah. Aku tidak akan meminta hakku malam ini. Aku menganggap semalam di Lombok dulu sebagai malam pertama kita. Sebagai gantinya, bereskan hatimu dulu."
Terlihat bagaimana Raka yang bisa bersikap baik, tenang, dan penuh pertimbangan. Dia tidak memaksakan kehendaknya kepada Dista walau wanita itu sekarang sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Alih-alih memaksa, Raka lebih meminta kepada Adista untuk membereskan hatinya terlebih dahulu. Semakin cepat dibereskan akan lebih baik. Jika sudah beres nanti hanya menunggu waktu untuk membiasakan diri. Siapa tahu cinta dan perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu.