Staycation With Boss

Staycation With Boss
Sosok K



Raka dan Adista masih berdiri di bibir pantai, keduanya menatap surya yang kembali ke peraduannya dengan saling memeluk satu sama lain. Semburat jingga di angkasa menjadi begitu indah dan berkilauan di mata mereka. Tidak ada kebisingan. Hanya gemerisik angin, buaian ombak, dan beberapa burung saja yang berkicauan.


"Senja terindah," kata Adista dengan lirih.


"Sebab, melihatnya denganku?" tanya Raka dengan penuh percaya diri.


Adista menengadahkan wajahnya menatap paras pria yang memiliki postur lebih tinggi darinya itu. Sesaat kemudian Adista tersenyum. Kepercayaan diri terlihat begitu besar.


"Kamu terlalu percaya diri," balas Adista.


"Harus percaya diri dong. Ini juga terindah untukku, karena pertama kali aku menikmati senja bersama seseorang yanh dekat di hatiku," kata Raka.


Ucapan Raka kala itu terasa begitu hangat. Sehangat senja dan sinarnya yang sekarang mereka nikmati berdua. Raka mencapit dagu Adista, pria itu menunduk lagi dan mengecup bibir Adista. Sorot mata yang menembus ke manik mata Adista, pun dengan bibir yang seakan tak puas jika hanya melabuhkan sebuah kecupan. Maka, Raka beraksi lebih dari itu, dia pagut kedua belah lipatan bibir Adista dengan begitu lembut. Tak menyangka, Adista membalas pagutan suaminya dengan melakukan yang sama. Sorot mata menjadi meredup dengan lingkaran tangan Adista di pinggang Raka kian mengerat.


Keduanya saling mencium satu sama lain. Memberikan sapaan dalam kesan hangat dan basah. Menikmati senja dengan perasaan yang luapan. Terlebih Raka benar-benar mencecap setiap rasa manis yang disuguhkan oleh bibir Adista. Menautkan dua bibir, mengusap dengan dua lidah, hingga saling mengusap. Satu tangan Raka pun merambat naik dan membelai sisi wajah Adista. Tak hanya lembut, itu juga adalah ciuman yang dalam. Ciuman bermandikan pesona senja.


Beberapa menit kedua bibir beradu. Keduanya tak segan untuk bertukar saliva, saling membagi napas, dan akhirnya Raka menarik wajahnya. Pria itu perlahan membuka mata dan tersenyum melihat wajah memerah istrinya dengan mata yang terpejam.


"Aku cinta kamu," kata Raka lagi.


Perlahan kelopak mata Adista tersenyum. Wanita itu juga tersenyum dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya. Perasannya memang belum jelas, masih bias. Namun, Adista tak menampik bahwa sentuhan, ciuman, dan semua yang Raka lakukan membuatnya terlena.


"Makasih sudah mencintaiku terlebih dahulu," kata Adista.


"Iya, supaya akhirnya kamu juga belajar mencintaiku."


"Iya, aku akan belajar dan mengerjakan PR ku. Jangan mengecewakan aku yah, Mas," pinta Adista.


"Tidak akan. Mau melanjutkan ke kamar?" ajak Raka.


Adista menggelengkan kepalanya. "Kan libur sehari."


"Aku sampai lupa. Kenapa melihat kamu saja, begitu mudahnya membuatku menggelora," kata Raka dengan jujur.


"Bisa aja," balas Adista.


"Jujur, aku juga tidak tahu. Dengan wanita lain tak pernah aku seperti ini. Kenapa denganmu, aku bisa dengan mudahnya menggelora," kata Raka.


Mendengar apa yang disampaikan suaminya, Adista hanya tersenyum saja. Dia juga tidak tahu apa artinya. Apakah semua itu karena masih pengantin baru, Raka masih ingin berpetualang dengannya. Mengeksplorasi hal-hal yang bisa dilakukan suami dan istri.


"Entahlah, aku juga tidak tahu, Mas. Kamu pria pertama yang menyentuhku, sebelumnya tak pernah ada," balas Adista.


Adista pun berkata jujur bahwa dia juga tak tahu. Pria pertama yang menyentuhnya adalah Raka. Sebelumnya tidak pernah ada pria yang menyentuhnya.


"Jadikan aku satu-satunya pria yang hanya boleh menyentuhmu," kata Raka.


"Dan, yang boleh menyentuh kamu hanya aku?" tanya Adista.


"Ya, tentu."


Hingga petang mereka masih berdiri di bibir pantai. Sampai pada akhirnya, keduanya kembali ke kamar mereka untuk menikmati makan malam yang sudah disajikan. Malam ini hanya akan menjadi istirahat saja untuk keduanya. Masih ada beberapa hari, Raka tentu akan memanfaatkan hari-hari selanjutnya. Dia tidak akan memberikan waktu beristirahat terlalu lama untuk istrinya itu.


...🍀🍀🍀...


Keesokan Harinya ....


"Kita sarapan dulu yah," ajak Raka.


"Iya," balas Adista.


Wanita itu berjalan di sisi suaminya menuju ke restoran. Menikmati sarapan dengan pemandangan pantai, sama seperti di dalam kamar mereka tentunya. Hingga baru saja duduk di restoran dan menikmati kopi panas, ada seseorang cewek berambut pirang yang mendatangi keduanya.


"Hi, how are you. I think, you are Rakka?" tanya wanita yang tampak seperti wisatawan asing itu.


Raka tampak mencoba mengingat-ingat, kemudian Raka tersenyum tipis. Yah, dia mengenali sosok itu.


"Hai, K," balas Raka.


Adista sudah menunjukkan wajah bingung di sana. K? Siapa yang dimaksud dengan K. Sebab, setelahnya suaminya dan wanita yang dipanggil K itu berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris.


"She is my wife," kata Raka dengan memperkenalkan Adista.


Sementara Adista memberikan anggukan kecil. Matanya mengawasi sosok K yang menatapnya dan tangan si K yang beberapa menyentuh lengan suaminya.


Hingga akhirnya, Adista melihat wanita bernama K itu berpamitan dan mencium satu pipi Raka. Untuk mereka yang tinggal di luar negeri, biasa memberikan salam dan sapaan berupa ciuman di pipi. Namun, itu berbeda untuk Adista. Dia tidak bisa menerimanya.


Setelah wanita bernama K itu pergi, Raka kembali duduk berhadapan dengan Adista. Tampak Raka menanyai istrinya itu.


"Menungguku untuk makan?" tanya Raka.


"Enggak, aku mau makan kok."


Usai itu, Adista berdiri dengan hati yang kesal dia kemudian mengambil menu sarapan. Tak ada yang Adista perbincangkan. Katanya kemarin hanya dia yang boleh menyentuh suaminya, tapi sekarang ada wanita lain yang terang-terangan mencium pipi suaminya.


"Mau nambah? Aku ambilkan," tawar Raka.


"Enggak."


Adista memilih segera menyelesaikan sarapannya. Lebih baik segera kembali ke kamar. Namun, walau begitu dia masih menunggu sampai Raka selesai makan. Tidak sopan kalau mendahului ke kamar.


Hingga sudah tiba di dalam kamar, ketika Raka hendak mendekap Adista, terlihat Adista yang menolak. Hatinya masih kesal, sehingga enggan didekap atau dipeluk suaminya.


"Kan mau peluk," kata Raka.


"Gak mau," balas Dista ketus.


"Kok tiba-tiba. Sebelumnya saja kamu tidak ada penolakan kok," balas Raka.


Adista diam, dia memutar bola matanya dengan malas. Adista memilih duduk di sofa dan bermain dengan handphone. Masih kesal saja. Hingga Raka menyusul duduk di sofa.


"Kenapa?" tanyanya.


"Gak apa-apa," balas Dista.


"Pasti kenapa-napa, gak mungkin kamu berubah seperti ini," balas Raka.


Adista memilih diam. Masih kesal apakah memang pria tidak peka seperti ini. Walau Adista mengakui masih belajar mencintai, tapi dia merasa tidak suka melihat interaksi suaminya dan wanita bernama K itu.