
Usai sarapan pagi, Mama Erina mengajak Adista ke kamarnya sejenak. Tadi Mama Erina melihat tanda merah di leher Adista. Oleh karena itu, Mama Erina membantu menutupi tanda merah yang nyaris sedikit ungu itu di leher menantunya.
"Ikut Mama dulu yah," ajak Mama Erina.
"Baik, Ma," balasnya.
Akhirnya Adista pun mengekori Mama Erina masuk ke dalam kamarnya. Di sana Mama Erina meminta Adista untuk duduk terlebih dahulu. Kemudian Mama Erina mengambil foundation sebagai bagian dari peralatan make up.
"Semalam Raka ngapain kamu?" tanya Mama Erina.
Adista menunduk malu, dia tahu arah pandangan Mama Erina sekarang tertuju ke leher Adista yang merah-merah di sana. Kemudian Mama Erina mengoleskan foundation di sana, sampai noda merah itu tertutupi.
"Kalau Raka terlalu nakal, bilang saja minta dia supaya tidak terlalu nakal. Kasihan kamu," kata Mama Erina lagi.
Adista menganggukkan kepalanya, dia tahu dengan apa yang dimaksud oleh Mamanya walau pun belum tahu sepenuhnya. Kemudian Mama Erina memperhatikan bagian leher yang sudah tercover foundation. Ada jenis make up yang Mama Erina berikan lagi di sana.
"Kalau Raka senakal ini, Mama harap kamu segera hamil yah. Mama dan Papa sudah berharap menginginkan cucu dari kalian berdua," kata Mama Erina.
Adista tersenyum tipis dan mengangguk perlahan. "Ya, Ma," balasnya.
Walau Adista juga tak tahu bagaimana caranya. Toh, faktanya usai semalam di Lombok dulu, Adista juga urung hamil. Selain itu, Adista dan Raka sebenarnya tak bercinta seperti pasangan pengantin pada umumnya. Mereka sekarang tidur saja justru menggunakan guling sebagai pembatas.
"Sabar dengan Raka yah. Putra Mama itu baik dan penyabar kok. Walau dia tenang dan tidak banyak bicara, tapi Mama yakin bersama kamu, Raka terlihat bahagia. Nah, sekarang merahnya sudah tertutup sempurna. Kamu butuh premier dan foundation ini tidak?" tanya Mama Erina.
"Kelihatannya Dista belum punya, Ma," balasnya.
"Ya sudah, ini buat kamu. Sabar kalau Raka sedang nakal yah. Istri yang baik, justru mendapatkan pahala dari Allah," nasihat Mama Erina.
Usai keluar dari kamar Mamanya, sudah ada Rayyan yang berpapasan dengan Adista. Terlihat Rayyan menghalangi jalan Adista dan hendak mengajaknya berbicara.
"Ta, apa semalam, kamu begituan dengan Kak Raka?" tanyanya.
"Hm, begituan apa?" tanya Adista.
Kemudian Rayyan menunjuk leher Adista. Walau Rayyan masih muda, tinggal di luar negeri dan banyak temannya yang satu apartemen dengan pacarnya membuat Rayyan juga tahu bahwa tanda merah itu adalah tanda cinta.
Belum Adista memberikan jawaban, sudah datang Raka yang menunggu Adista untuk berangkat ke La Plaza Hotel.
"Kita berangkat sekarang?" Suara Raka membuat Rayyan menghela napas. Ketika dia sedang bertanya kepada Adista justru Kakaknya datang.
"Ray, kamu ingin berbicara dengan Istriku?" tanya Raka.
"Sebenarnya iya, Kak. Kelihatannya sekarang tidak mungkin, soalnya Kakak datang," jawab Rayyan.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau mau berbicara silakan saja. Aku akan menunggu," balas Raka.
Pada akhirnya Raka memilih menunggu di ruang tamu. Dia memilih memberi waktu jika adiknya ingin berbicara dengan istrinya. Bagaimana juga Raka sudah berjanji bahwa dia akan memberikan waktu bagi keduanya berbicara.
"Kamu harus sabar, Raka. Bagaimana pun keduanya membutuhkan waktu. Kalau perasaanmu tulus, pastilah nanti Adista suatu saat akan mengerti."
Raka bermonolog seorang diri. Dia hanya menekankan dirinya sendiri untuk lebih bersabar. Kalau perasaannya kepada Adista tulus, pasti suatu saat nanti Adista bisa memahami perasaannya.
"Ta, jadi benarkan semalam kamu bersama Kak Raka?" tanya Rayyan lagi sekarang.
"Seperti yang kamu dengar," balas Adista.
Kemarin ketika terjadi ketukan di kamarnya. Pastilah Rayyan mendengarkan bagaimana Adista memanggil nama suaminya. Lebih baik bagi Adista berkata demikian, sehingga Rayyan akan meninggalkannya. Tidak akan mengharapkannya lagi.
"Aku istrinya, Ray. Bagaimana pun, Mas Raka berhak atasku bukan?"
"Namun, aku tidak yakin kamu sudah mencintai Kakak."
"Biarkan saja, Ray. Baiklah, aku akan berangkat bekerja dulu. Mas Raka sudah menungguku."
Memungkiri perasaan sendiri memang menyesakkan. Akan tetapi, Adista memilih melakukan itu supaya Rayyan bisa membencinya. Jika Rayyan sudah membencinya, itu akan lebih baik untuk Dista. Lagipula, Adista sudah berdosa kepada suaminya sendiri. Tidak mungkin dia terus bermain api dengan adik iparnya sendiri.
...🍀🍀🍀...
Sore Harinya ....
Sepulang dari La Plazza Hotel, Raka sengaja menunggu Adista yang pulang. Dia bahkan meminta Adista langsung menuju ke parkiran basement, tempat di mana mobilnya berada. Sudah mendapatkan pesan dari suaminya, Adista pun berjalan menuju ke parkiran basement. Dia mencari mobil milik suaminya itu.
"Sudah selesai bekerja?" tanya Raka.
"Sudah, Pak Raka."
"Ya sudah, masuklah," kata Raka.
Akhirnya Adista memasuki mobil mewah berwarna hitam milik suaminya itu. "Kalau sekuriti tahu dan kita digosipkan bagaimana?" tanya Adista.
"Biar saja. Yang pasti kita memiliki hubungan skandal," balas Raka.
Adista terdiam. Dia hanya ingin bekerja dengan tenang sebenarnya. Akan jauh lebih baik jika tidak ada skandal dengan Bossnya, yang tak lain adalah suaminya. Semua itu karena seluruh karyawan La Plazza belum ada yang mengetahui keduanya telah menikah.
"Kita pulang yah?" tanya Raka dengan melajukan mobilnya keluar dari parkiran vallet khusus CEO.
"Iya," balas Adista.
Hingga Adista merasa arah yang ditempuh Raka sekarang berbeda. Sehingga kemudian Adista bertanya kepada suaminya.
"Ini bukan ke arah rumahnya Mama dan Papa, Pak?" tanya Adista.
"Memang bukan. Kita tinggal sementara di apartemenku," balas Raka.
Adista bingung, sebelumnya Raka mengatakan akan tinggal di rumah Mama dan Papanya beberapa minggu dulu. Akan tetapi, sekarang Raka justru mengajak Adista untuk tinggal di apartemennya terlebih dahulu.
"Kenapa Pak?" tanya Adista.
"Kita berumahtangga membutuhkan privasi, Dista. Sementara jika di rumah orang tuaku, bisa saja Rayyan akan terus mencarimu. Aku bisa menerima, Dista. Akan tetapi, aku juga pria biasa. Kadang aku juga lemah. Berdiri di antara adikku sendiri dan istriku, sangat tidak nyaman," balas Raka.
Dia menyadari bahwa Raka hanya pria biasa. Hatinya kadang lemah. Bukan lantaran menahan hasrat. Akan tetapi, Raka merasa bahwa lebih baik menjauh terlebih dahulu dari Rayyan. Kalau bertemu setiap hari justru hati keduanya tidak akan beres.
Raka memilih untuk mengambil jalan tengah saja. Dengan cara inilah, Raka berusaha untuk menyelamatkan kehidupan rumah tangganya.
"Kamu keberatan?" tanya Raka.
"Tidak, saya ikut suami saja," balas Adista.
Raka kemudian tersenyum karena Adista tidak mengatakan keberatan. Walau juga hati istrinya sendiri tidak ada yang tahu.
"Bagus, mohon memaklumi. Aku kesakitan melihatmu dengan Rayyan. Oleh karena itu, kita ke apartemen saja."
Ini sudah menjadi keputusan Raka. Dengan cara inilah Raka menyelamatkan rumah tangganya. Sekaligus dia memberikan waktu bagi Rayyan juga untuk membereskan hatinya.