
Keesokan harinya, Adista memang sangat ingin pergi ke rumah orang tuanya. Akan tetapi, mendengarkan syarat yang diberikan Raka membuat Adista menjadi tidak yakin. Takut malahan, kalau suaminya itu kian bertambah nakal saja. Selain itu, Adista takut kalau dia sampai tidak lagi menahan, hingga goyah sampai akhirnya.
"Jadi ke rumahnya Bapak dan Ibu?" tanya Raka sekarang.
"Sebenarnya jadi dan saya pengen ke sana, tapi ...."
Adista tidak melanjutkan ucapannya. Dia merasa takut dengan syarat yang semalam diminta oleh Raka. Sehingga ucapannya seperti menguar saja di udara.
Raka justru mendekati istrinya yang sebenarnya sudah siap, tinggal mengganti baju saja dan siap berangkat. Akan tetapi, Raka juga tahu bahwa Adista merasa keberatan dengan syarat yang semalam dia minta. Sehingga, Raka diam-diam mengulum senyuman di wajahnya.
"Kan tidak bergumul. Cuma itu saja," balas Raka.
Adista menundukkan wajahnya. Dia bingung sebenarnya. Kangen dengan orang tua, tapi syarat dari suaminya terlalu berat.
"Itu saja, tapi ...."
"Tapi, apa?"
"Enggak, aku di sini," balas Adista kemudian.
Walau kangen dengan orang tua, tapi agaknya syarat itu sangat memberatkan untuk Adista. Adista memilih untuk mengurungkan niatnya. Lebih baik berada di apartemen, walau itu juga tak menjamin Raka tak akan menyentuhnya.
"Kamu takut? Kan aku tidak meminta bercinta," balas Raka.
Adista hanya menggelengkan kepalanya. Wanita itu mengalihkan pandangannya dan diam-diam menyeka air matanya yang berlinang begitu saja. Hingga akhirnya, Raka sudah lebih dekat dengan Adista yang sekarang duduk di sofa.
"Apa sebegitunya kamu tidak ingin ku sentuh?" tanya Raka.
Ya, menurut Raka itu karena istrinya yang tidak ingin dia sentuh. Padahal, Raka sudah berjanji bahwa dia tidak akan sampai berakhir di ranjang.
"Aku mau tidur saja, Pak Raka," balas Adista.
Ketika Adista hendak berdiri dan berjalan menuju ke ranjang. Raka dengan sengaja menyentak tangan Adista, sehingga sekarang Adista seketika jatuh di pangkuan Raka. Wanita itu membelalakkan kedua matanya. Merasa deg-degan dan tidak nyaman sedekat ini dengan Raka. Terlebih Raka membuka sedikit pahanya, dan memangku Adista di sana.
"Kamu takut sama aku?" tanya Raka.
Adista terdiam. Ingin menunduk pun rasanya susah, karena mereka sudah bertemu muka dengan muka. Jarak wajahnya juga hanya sejengkal. Terpaan napas Raka saja sekarang sudah menyapa wajah Adista.
Tak tinggal diam, Raka kemudian membawa kedua tangan Adista untuk melingkari lehernya. Raka tak keberatan jika memangku Adista dan juga berdekatan dengan istrinya sendiri.
"Lihat aku, Dista. Apa iya, kamu takut dengan aku?" tanya Raka lagi.
Menurut Raka sendiri, bukannya dia terlalu percaya diri. Akan tetapi, Raka memiliki wajah yang tampan, hidungnya mancung, kulitnya putih bersih, bibirnya sedikit merah karena pria itu tidak merokok, alis yang tegas dan hitam. Pria itu memang begitu tampan. Hanya saja, Raka memang memiliki karakter tenang dan diam. Sehingga wajahnya terkesan datar. Berbeda dengan Rayyan yang ceria dan ramah. Sementara Raka ketika bertambah dewasa, dia justru menjadi sosok yang serius.
"Jangan hanya membereskan hati, biasakan juga denganku," kata Raka.
PR yang dimiliki Adista itu bukan hanya membereskan perasaannya. Akan tetapi, Adista juga memiliki PR lainnya untuk membiasakan diri dengan Raka. Ada alasan khusus kenapa Raka meminta itu karena Raka mempercayai bahwa cinta bisa datang karena terbiasa.
"Setiap hari aku akan memangku seperti ini. Biar kamu terbiasa denganku," kata Raka.
"Pak Raka tidak sedang modus kan?" tanya Adista sekarang.
Kemudian Raka justru tersenyum. Bagaimana mungkin istrinya itu menyangka bahwa dirinya tengah modus sekarang. Sedikit modus disertai usaha, siapa tahu dia bisa memenangkan Adista.
"Bahkan aku tidak perlu modus, Dista. Kamu sepenuhnya milikku dan hakku. Aku hanya memberikan waktu saja, menunggu kesiapanmu. Harusnya aku sah dan sangat boleh melakukannya. Akan tetapi, aku menunggu karena aku menghargaimu. Oleh karena itu, kalau aku meminta, aku menginginkan, itu sah-sah saja," jawab Raka dengan lugas.
Jawaban yang logis dan sepenuhnya benar. Adista kalau mendengarkan Raka seperti ini membuatnya merasa bersalah lagi. Sehingga Adista kembali tak bisa memberikan jawaban.
"Kamu memilih tidak ku sentuh, dan memendam rindumu kepada Bapak dan Ibu?"
Raka bertanya seperti itu karena perasaan Adista itu tersirat di wajahnya dan bola matanya. Tak banyak berbicara pun, Raka bisa tahu perasaan Adista. Sekarang, Raka mengungkapkan secara terbuka.
"Sedikit saja, buka hatimu untuk suamimu, Dista," kata Raka lagi.
Sekarang Adista kian merasa bersalah jadinya. Ditunjukkan di mana letak kesalahannya membuat Adista merasa tertampar. Ya, memang salahnya yang masih menutup rapat-rapat hatinya.
"Ke rumah Bapak dan Ibu tidak?" tanya Raka.
"Sebenarnya mau," balas Adista sekarang.
Kecupan secara tiba-tiba membuat Adista terkesiap dengan kedua mata yang membola sempurna. Sementara, Raka menunjukkan wajah penuh keseriusan. Tatapan matanya tertuju kepada Adista, seakan memaku Adista dengan kedua sorot matanya.
"Jangan menolak, tetaplah di tempatmu," kata Raka.
Lagi-lagi suara Raka terdengar parau dan dalam. Suara yang membuat Adista membeku seketika. Terlebih ketika Adista merasakan gerakan naik dan turun telapak tangan suaminya di punggungnya. Adista berusaha untuk menghela napas. Tak hanya itu, Raka kian mendekat. Jika tadi pria itu mengecup pipi Adista, sekarang Raka menatap bibir berwarna Pink natural yang berada tepat di depannya. Akan tetapi, ketika bibir Raka hendak menjatuhkan kecupan di bibir Adista, terlihat Adista memalingkan wajahnya dengan tiba-tiba sehingga bibir Raka kembali jatuh di pipi Indi.
Cup!
Raka mengulum senyuman kecil karena dia merasa Adista bisa memprediksi arah ciumannya. Namun, Raka tidak akan berkecil lagi. Kalau dia berani mendekati dan lebih modus, pastilah nanti Raka akan mendapatkan istrinya sepenuhnya.
Raka memejamkan matanya, bibirnya mengecupi pipi istrinya. Terus bergerak turun hingga menyasar ke leher istrinya yang putih, mulus, dan jenjang itu. Semerbak parfum yang manis membangkitkan gelora di dalam hati Raka. Bukan sekadar kecupan, tapi juga usapan dengan lidahnya yang mengeksplorasi leher Adista di sana.
Kala Raka hendak menggigit lehernya, Adista menggelengkan kepalanya, dia mencengkeram bahu suaminya itu.
"Jangan di leher Pak Raka," kata Adista.
Raka menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Raka memilih untuk melanjutkan aksinya, dia kecupan dan usap dalam kesan basah leher istrinya. Terus turun hingga ke tulang selangka dan belikat istrinya. Sementara Raka dengan jarak sedekat ini bisa merasakan napas istrinya yang berat dengan cengkeraman di bahunya yang lebih kuat. Tak hanya itu, Adista juga refleks sedikit mengangkat wajahnya. Adista berusaha menahan diri walau tubuhnya sudah merasakan sengatan arus listrik sekian volt sekarang. Sia-sia sudah dia membentengi diri. Faktanya, Raka memilih berbagai cara untuk bisa menyentuh dan mengecup Adista.
"Pak Raka ...."
Adista mengucapkan nama suaminya dengan memejamkan matanya. Rasanya luar biasa. Semua seakan bercampur menjadi satu. Namun, Adista segera menggigit bibirnya sendiri supaya dia tak lagi mende-sah.
Tangan Raka yang semula memberikan elusan di punggung, kian bergerak dan mengusap bagian tengkuk, telinga, leher, hingga meraba perlahan sembulan dada Adista. Gerakan samar syarat makna yang membuat Adista memekik perlahan.
Benar, Raka menepati ucapannya semalam, dia buka perlahan dua kancing di kemeja istrinya terlihat permukaan epidermis kulit yang putih dan halus di sana. Raka membelainya sesaat. Tak hanya itu, Raka merasa dua kancing yang terlepas masih belum membuatnya puas. Oleh karena itu, kancing ketiga Raka keluarkan dari sarangnya. Sampai Raka bisa melihat wajah penangkup berenda berwarna hitam di sana.
Apakah Raka terbakar? Tentu saja. Bagaimana pun dia adalah pria normal dan sehat. Tersulut dan terbakar tentu saja. Terlebih reaksi yang Adista tunjukkan sangat alamiah, walau sekarang terlihat jelas Adista yang benar-benar menahan dirinya.
"Adista ... Adista ...."
Suara Raka mengalun, dia menunjukkan reaksi alamiah dia sebagai pria dewasa. Sah saja jika Adista melihat reaksi alamiah Raka sebagai suaminya.
Raka bak tak kehabisan akal, mumpung Adista tak menolak, kancing keempat pun dia buka. Terlihat bulatan indah yang ranum masih berada di dalam wadahnya. Itu membuat Raka sangat gelap mata. Namun, Raka masih menahan, tak akan bertindak terlalu jauh. Dia tarik perlahan kemeja yang ada di bahu Adista sehingga terlihat seperti off shoulder di sana. Tali yang menggantung pun perlahan dia singkirkan ke kanan dan kiri. Itu jauh lebih baik dan tidak menghalangi Raka.
Selanjutnya Raka jatuhkan kecupan demi kecupan dalam kesan basah di dada istrinya. Usapan dengan ujung lidahnya yang membuat Adista memejamkan matanya erat. Adista tahu dan masih sadar, dengan semua itu pastilah Raka bisa melihat salah satu bagian sensitif miliknya.
Di area sembulan dada itu, Raka membuka mulutnya, dia gigit kecil, dan hisap dalam-dalam bagian itu. Terdengar pekikan Adista lagi. Namun, Raka tak ingin berhenti. Hisapannya kian dalam, dan itu memunculkan rasa perih dan rasa begitu asing untuk Adista.
"Dis ... ta."
Raka tak bisa berhenti, dia berikan beberapa jejak merah di sana. Bahkan Raka sengaja meraba satu bulatan indah milik Adista, meremasnya perlahan. Raka hilang akal. Dia terlena.
Ketika tangan Raka yang kian nakal hendak mengeluarkan satu bulatan indah dari wadahnya, Adista bergeming. Dia menggelengkan kepalanya, dan dia peluk Raka erat-erat, sehingga bulatan indah itu tak tampak dan mendekat dengan dada Raka.
"Oh, aku kelewatan. Sorry, Dista. Aku tak bisa menahan diri," kata Raka jujur.
Dia balas pelukan Adista di sana. Dia kecupi perlahan puncak kepala Adista. Raka tidak bisa menahan. Hasratnya kembali menaik dengan dratis. Untung Adista yang memegang kendali, dan menghentikannya.
"Maaf," kata Raka.
Adista menangis dengan masih memeluk Raka. Perasaannya seolah terombang-ambing sekarang. Raka menunggu sampai Adista menjadi lebih tenang. Dia pun meminta maaf akan hal itu.
"Aku perbaiki baju kamu yah. Percaya kepadaku. Hanya memperbaiki saja."
Adista berusaha mempercayai suaminya, dia urai pelukannya dengan wajah menunduk. Lalu, Raka benar-benar merapikan baju dan wadah berenda di sana. Jika sedikit menyentuh karena itu diharuskan untuk merapikan. Raka puas, bisa mencetak tanda merah di sana. Tidak hanya satu, tapi ada beberapa jejak merah di sana.
"Sudah," kata Raka dengan kembali memeluk Adista lagi. Tangan Raka juga bergerak dan mengusapi rambut Adista dengan maksud menenangkan istrinya itu.
Tak menolak, Adista juga memeluk Raka di sana. Tangisannya pun menjadi lebih reda. Untung Raka tidak terlalu jauh. Walau Adista yakin, bahwa tangan Raka menyentuh bulatan indah miliknya dan melihat penampakannya.
"Sebaiknya kita siap-siap yah. Kita ke rumah Bapak dan Ibu sekarang," kata Raka.
"Ii ... iya," balas Adista.
"Jangan menangis dulu. Sorry, aku hanya pria yang normal, Dista. Semuanya terjadi begitu saja. Sama seperti waktu di Lombok dulu. Maaf," balas Raka.
Adista terdiam. Dia memilih menenangkan diri dan kemudian mengganti pakaiannya dan bersiap. Walau bagian area dadanya perih, tapi Adista akan menahannya dan berusaha menyesuaikan diri dengan rasa perih dan jejak merah dari suaminya itu.