
Adista memilih membersihkan dirinya di bawah guyuran shower usai tindakan spontanitas dan nakal suaminya. Ketika dia melihat area dadanya, terlihat lebih dari lima tanda merah di sana. Adista memejamkan matanya, seakan mengingat bagaimana Raka membawa lidah dan bibirnya mengeksplorasi bagian dadanya.
Setelah itu, Adista buru-buru mengeringkan tubuhnya yang basah. Lalu, mengenakan baju yang semula sudah dia siapkan terlebih dahulu. Setelah, Adista keluar dari kamar mandi kemudian Raka yang masuk ke dalam kamar mandi dan memilih mandi air dingin. Jika tadi Adista membayangkan bagaimana suaminya berhasil mengeksplorasi hingga dadanya, Raka juga membayangkan hal yang sama.
Raka yakin pelan-pelan tapi pasti dia akan mendapatkan Adista. Cukup bersabar terlebih dahulu, lagipula satu bulan kalau benar-benar dijalani tidak akan begitu lama. Raka pun justru tersenyum sembari menyabuni tubuhnya sendiri.
"Waktu satu bulan sudah dimulai, Dista. Tidak akan lama lagi, aku akan bisa mendapatkan semuanya," gumam Raka seorang diri.
Usai itu, Raka keluar dari kamar mandi. Dia memilih menyelesaikan untuk bersiap karena Adista sudah menunggunya. Sekadar ke rumah mertua, Raka memilih mengenakan celana panjang jeans dan polo shirt. Penampilan yang jauh berbeda ketika Raka bekerja.
"Sudah siap?" tanya Raka.
"Iya, sudah," balas Adista.
"Baiklah, kita berangkat sekarang," ajak Raka.
Adista kemudian berjalan mengekori suaminya itu keluar dari apartemen dan menuju ke parkiran basement. Hari sudah siang ketika keduanya hendak menuju ke kediaman orang tua Adista. Hingga akhirnya, di jalan Raka berbicara kepada istrinya itu.
"Belikan buah atau kue untuk Bapak dan Ibu," kata Raka.
"Iya, Pak Raka," balas Adista.
Setelah itu, Raka menghentikan mobilnya di toko kue terlebih dahulu. Dia meminta Adista memilihkan aneka kue kesukaan Bapak, Ibu, dan juga Desta. Raka sembari memperhatikan roti apa saja yang disukai keluarga mertuanya.
"Desta tidak suka kue seperti itu?" tanya Raka dengan menunjuk sebuah kue.
"Suka, Pak ..., tapi dulu waktu sakit, dia tidak boleh memakan itu lagi. Sejak saat itu, Desta juga menjaga makanannya," cerita Dista.
Mengingat bagaimana Desta sakit dulu rasanya kembali sedih. Harus rutin cuci darah. Hingga terkadang pembuluh darah di area tangan Desta terlihat lebih menonjol ke permukaan. Jika, terlambat cuci darah, beberapa bagian di tubuhnya akan membiru.
"Makasih Pak Raka, Desta bisa sembuh karena Pak Raka," balas Adista sekarang.
"Sama-sama," jawab Raka.
Setelah itu, Raka juga memilih satu kue dan memesan Es Kopi yang mungkin menemaninya sembari menyetir mobil. Dia juga memesankan untuk Adista juga. Setelah itu, dia membayar semuanya.
"Sudah, kita lanjutkan lagi ke rumah mertua," kata Raka.
Di dalam mobil, sebelum mengemudi, Raka memilih sedikit meminum es kopi terlebih dahulu. Kemudian memberikan satu gelas untuk Adista.
"Buat kamu," kata Raka.
"Makasih, Pak Raka," balas Adista.
"Tidak gratis," sahut Raka dengan tiba-tiba.
Adista kemudian menghela napas panjang. Apakah yang hendak diminta suaminya itu adalah hal-hal yang mesum lagi. Adista sampai ragu hendak meminum es kopi latte itu.
"Minum saja. Bayarannya murah, bereskan hatimu dan terbiasalah denganku," kata Raka sekarang.
"Iya, kan butuh proses, Pak. Gak bisa instan, Pak," balas Adista.
"Iya, sebulan kan. Aku akan menunggu kok."
Usai itu Raka melanjutkan menyetir mobilnya, satu tangannya sembari menggigit roti yang dia pegang dan sambil memakannya. Sementara Adista hanya meminum kopi latte yang diberikan suaminya itu.
"Minta tolong satu tissue," pinta Raka.
Adista kemudian mengambilkan satu helai tissue dan memberikannya untuk Raka. Pria itu kini mengelap mulutnya sendiri. Akan tetapi, masih ada sisa remah roti di sudut bibirnya.
"Masih ada itu Pak Raka," kata Adista dengan menunjuk bibir suaminya.
Adista masih menunjuk bagian bibir itu. Hingga ketika mobil terhenti di lampu merah, Raka meminta tolong kepada istrinya.
"Tolong, tidak kelihatan," kata Raka.
Adista beringsut dan mengusap perlahan sudut bibir suaminya itu. Jika Adista takut dan deg-degan, sementara Raka tersenyum dalam hati. Mungkin dia harus lebih sering meminta tolong seperti ini supaya Adista bisa menunjukkan perhatiannya.
"Sudah," kata Adista.
"Thanks yah," balas Raka.
Melanjutkan perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Adista. Melihat ada mobil yang terparkir di bahu jalan di depan rumah, Desta tampak keluar dari rumah terlebih dahulu. Cowok berusia yang masih duduk di bangku SMP ini sangat senang melihat kakak dan kakak iparnya datang.
"Mbak ... Kak Raka," sapa Desta dengan keluar dari rumah.
"Dek, jangan lari-lari. Mbak takut kalau kamu ...."
Desta kemudian tersenyum mendengar ucapan Kakaknya itu. "Desta sudah baik dan sehat kok, Kak. Desta juga bisa sekolah setiap hari, gak banyak bolos. Semuanya berkat Kak Raka. Makasih banyak Kak Raka," kata Desta.
Raka tersenyum dan merangkul adik iparnya yang masih kecil itu. "Sehat-sehat ya, Desta. Kakak senang kalau kamu tambah sehat," kata Raka.
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Ada Bapak Gusti dan Bu Ratih yang menyambut mereka bertiga.
"Assalamualaikum, Bapak dan Ibu," sapa Raka.
"Waalaikumsalam Nak Raka ... mari silakan duduk. Maaf, seadanya," kata Bu Ratih yang terlihat sungkan.
Bagaimana pun menantunya itu kaya raya, sedangkan keluarganya bisa dibilang sangat tidak mampu. Terpaut strata sosial yang jauh. Sehingga membuat Bu Ratih dan Pak Gusti merasa sungkan.
"Tidak apa-apa, Bu. Santai saja," balas Raka.
Kemudian Adista memberikan buah tangan berupa kue yang tadi mereka beli dalam perjalanan. "Kue, Bu ... ada kesukaan Ibu dan Bapak," katanya.
"Kesukaanku gak ada Mbak Adis?" tanya Raka.
Adista kemudian menunjukkan sebuah kue dan memberikannya untuk adiknya itu. "Ini kue kesukaan kamu kan?" tanyanya.
"Iya, Mbak. Aku suka ini banget," jawab Desta.
"Tadi Kak Raka yang belikan. Bilang terima kasih ke Kak Raka yah," balas Adista.
Desta pun menganggukkan kepalanya. "Makasih Kak Raka," katanya.
"Sama-sama, Des," balas Raka.
Setelah itu ada obrolan yang terjadi. Tidak lupa Raka menanyakan bagaimana kondisi Desta dan Pak Gusti usai pencangkokan ginjal. Sebab, sekarang Pak Gusti hanya memiliki satu ginjal saja.
"Bapak baik kok, Nak Raka. Dokter bilang cuma harus jaga pola makan supaya tidak Darah Tinggi. Sebab, hanya memiliki satu ginjal dan dia harus bekerja ekstra untuk menyaring dan menyerap racun. Diminta jangan sampai hipertensi," kata Pak Gusti.
"Semoga sehat selalu yah, Pak," balas Raka.
"Doakan yah, Nak. Bapak sih sudah bahagia ... dulu, kesembuhan Desta rasanya tidak mungkin. Sekarang, Desta menjadi sehat. Seakan impian kami menjadi nyata," kata Pak Gusti lagi.
Raka kemudian mengangguk perlahan. "Sama-sama, Bapak. Semua kesembuhan dari Tuhan pastinya. Raka hanya menolong sebisanya saja," balasnya.
"Berkat kamu juga, Nak. Kalau tidak ada kamu, Bapak gak tahu harus bagaimana. Jaga Dista juga yah," balas Pak Gusti.
Raka kembali menganggukkan kepalanya. Kalau untuk menjaga istrinya, sudah pasti Raka akan melakukannya. Di dalam hatinya Raka senang bisa melakukan sesuatu untuk keluarga istrinya itu. Menghadirkan kebahagiaan untuk orang lain itu membuat Raka juga merasa bahagia.