
Masih dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. Begitu banyak yang diobrolkan Mama Erina dan Adista. Terlihat bahwa Mama Erina begitu sayang kepada Adista. Raka yang mengemudikan mobil saja merasa senang melihat hubungan akrab Mamanya dan istrinya.
Begitu sudah tiba di rumah sakit, Mama Erina yang memilih untuk menggendong Baby Qiana. Dia justru meledek Raka yang menggandeng tangan istrinya dengan nyaman.
"Digandeng terus, Ka. Biar istrinya gak hilang," kata Mama Erina meledek putra sulungnya itu.
"Kan Mama sudah gendongin Qiana, jadi biar Raka gandeng tangan Mamanya Qiana aja," balas Raka.
"Kamu ini. Sok-sokan banget. Pasangan muda memang begitu," balas Mama Erina.
"Mama dan Papa juga kemana-mana bergandengan tangan," balas Raka.
Mama Erina akhirnya malahan tertawa sekarang. "Kamu mau nyebrang jalan, Raka. Gak bisa kalau enggak bergandengan. Sudah menjadi kebiasaan juga dari kami masih muda."
"Kami mau mencontoh Mama dan Papa boleh?" tanya Adista.
"Dicontoh yang baik saja. Kalau yang tidak baik, tidak perlu dicontoh juga, Dista. Mama juga menyadari kami tidak sempurna, banyak kekurangan dan kesalahan juga."
Adista sontak teringat dengan cerita Kak Arsyilla saat Aqiqahan Qiana dulu bahwa setiap pasangan sesungguhnya tidak ada yang sempurna. Masing-masing pasangan suami dan istri memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Sama halnya dua kepala yang sama-sama keras, jika dibenturkan pasti akan menyakiti satu sama lain. Akan tetapi, jika disatukan, sama-sama berpikir dan mencari jalan tengah, hasilnya tentu akan baik adanya.
Sekarang ucapan itu seolah diulangi oleh Mama Erina. Dalam lebih dari dua dekade menikah saja Mama Erina mengakui bahwa dia dan Papa Zaid masih ada kekurangan dan kesalahannya. Oleh karena itu, membuktikan bahwa pentingnya kompromi dan terus menjaga keharmonisan berdua.
"Rumah tangga ideal itu nyaris tidak ada, Dista. Setiap rumah tangga pasti mengalami riak-riak kecil, kerikil tajam, gerimis, bahkan badai. Namun, bagaimana cara kita mencari solusi dan terus berjuang untuk mempertahankannya," kata Mama Erina.
Baru saja Mama Erina mengatakan itu, dari arah berlawanan ada sosok pria yang berhenti dan menyapa Erina. Memang usianya sudah paruh baya, tapi gayanya masih begitu flamboyan dan kelihatan Stylish.
"Erin ... kamu Erina kan?" tanyanya.
Dari panggilan yang diucapkan pria itu, berarti keduanya memiliki hubungan dekat. Mungkin juga usianya yang hampir sebaya. Raka dan Adista berhenti, Raka mengingat bahwa sebelumnya pernah bertemu dengan pria tersebut.
"E ... Erick," balas Mama Erina.
"Ya, aku Erick. Kamu masih mengingatku, Erin."
Benar, pria itu adalah Erick. Kawan lama Mama Erina, sekaligus musuh lama untuk Mama Erina dan Papa Zaid. Sementara, Raka mengenal pria itu sebagai Papa dari Natasha. Sosok wanita yang kala SMA pernah memiliki arti khusus untuk Raka.
"Dunia begitu sempit. Kita bertemu lagi setelah sekian lama. Tentunya, kamu pasti tidak menyangka kan Erin, kalau putra sulungmu itu dulu jatuh hati kepada putriku. Tak ada rahasia antara aku dan putriku, dia menceritakan semuanya kepadaku. Termasuk sosok Raka."
Dengan gamblang Erick mengatakan semua itu. Adista merasa kesal dalam hatinya. Sekarang dia sudah ingat, ya pria itu adalah Papa dari Natasha. Adista juga tahu perasaan tak sampai suaminya kepada Natasha saat SMA dulu. Akan tetapi, rasanya tidaklah bijak mengungkapkan itu semua sekarang.
"Ck, sayang sekali. Kalau Raka bersatu dengan Natasha, kita bisa menjadi besan, Erin."
"Aku lebih bersyukur tidak menjadi besanmu, Erick. Tak ada yang ku syukuri sejak mengenalmu dulu. Silakan lanjutkan urusanmu," balas Mama Erina.
"Tunggu dulu, Erin. Jangan terlalu sombong menjadi orang. Kamu hanya berkedok dan menggunakan topeng agar terlihat bahagia. Padahal rumah tanggamu begitu rapuh. Anak dan menantumu saja yang tidak mengetahuinya," kata Erick.
Raka yang semula diam, akhirnya sekarang berbicara. "Sebaiknya Om Erick pergi dari sini. Tidak perlu berbicara yang macam-macam mengenai kehidupan rumah tangga orang lain," kata Raka.
"Kamu hanya anak bawang, Raka. Kamu bahkan tidak tahu-menahu mengenai perbuatan Mamamu ini di masa lalu. Dulu, dia ...."
"Stop! Hentikan Erick, jangan banyak berbicara!"
Dengan segera, Mama Erina bersuara dan meminta Erick untuk tidak banyak bicara. Kemudian Mama Erick menatap Raka dan Adista, kemudian berbicara. "Ayo Raka dan Adista, kita segera ke poli anak."
Ketiganya kemudian berjalan meninggalkan Erick di sana. Sungguh, perasaan ketiganya menjadi tidak nyaman. Mama Erina dengan bayang masa lalu yang hampir dibongkar oleh Erick, Raka dan Adista dengan keingintahuan mereka mengenai apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu yang dialami oleh Mama Erina dan Papa Zaid.