
Mengurai pelukannya sesaat, sekarang Satria duduk di sofa, kemudian Adista mengambilkan Lemon Tea yang sebelumnya dia buatkan untuk suaminya itu. Sembari membawa secangkir Lemon Tea, Adista menyusul suaminya untuk duduk di sofa. Begitu, Adista sudah duduk, Raka tersenyum lagi. Kalau boleh berbicara jujur, bertemu Adista membuatnya senang dan hatinya sangat lega sekarang. Namun, Raka berniat untuk bercerita terkait dengan Rayyan. Sebab, bagaimana pun sakit yang dialami Rayyan sekarang terkait dengan Adista.
"Aku buatkan Lemon Tea, Mas ... diminum dulu mumpung masih hangat," kata Adista.
Raka mengangguk, kemudian dia mengambil cangkir keramik berwarna putih itu dan perlahan-lahan mulai meminum Lemon Tea yang dibuatkan istrinya. Beberapa seruputan Raka minum, kemudian Raka menaruh kembali cangkir keramik itu di atas meja.
"Selama aku pergi, apa saja yang kamu lakukan?" tanya Raka.
"Hanya bekerja, dan malam pulang ke sini untuk tidur saja. Kembali ke ruangan yang kosong, di mana hanya aku penghuninya," kata Adista.
Sebenarnya yang dikatakan oleh Adista adalah sangat tidak enak untuk pulang ke rumah yang kosong. Terbiasa ada Raka, dan ada teman mengobrol. Lantas harus menempati sendirian. Ada yang berbeda. Selain itu, Adista juga sakit sehingga malam-malam berlalu dengan memendam rindu dan berusaha menyembuhkan diri.
"Selama kamu sakit?" tanya Raka.
"Pagi hingga sore, aku tetap bekerja kok. Tidak mengambil cuti," jawab Adista.
Raka menghela napas panjang. Sedih sebenarnya dia saat mendengarkan bahwa Adista yang sakit pun tetap bekerja.
"Jangan memaksakan diri jika memang sakit. Istirahat saja sampai sembuh," kata Raka.
"Aku bisa bertahan kok, Mr. Raka ...." Adista menjawab dengan tersenyum. Itu justru membuat Raka menggelengkan kepalanya.
"Lain kali, kalau sakit yah di rumah saja. Istirahat sampai sembuh. Ingat, Sayang ... kamu itu istri Direktur Utama La Plazza Hotel, tanpa bekerja keras, aku bisa mencukupimu," kata Raka.
"Aku tahu ... hanya saja, sesuai kesepakatan kita berdua. Aku akan terus bekerja sampai waktunya tiba nanti. Mas Raka tenang saja. Sekarang, aku sudah sembuh kok," balas Adista.
Seketika Adista menatap suaminya itu. Wajah Raka juga tampak begitu serius hingga, Adista mengangguk perlahan. Dia siap mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
"Begini ... Rayyan sebenarnya ikut pulang ke Jakarta. Atas pertimbangan Mama dan Papa, Rayyan mengambil cuti kuliah satu semester dan memfokus penyembuhan di Jakarta atau mungkin nanti ke Singapura. Jadi, Rayyan sekarang di rumah Mama dan Papa. Selain itu, ingatan Rayyan tertukar atau bagaimana aku tidak tahu, yang pasti dia menganggap kamu masih pacarnya. Ketika dia tak sadarkan diri saja, namamu selalu disebutnya," kata Raka.
Adista juga bingung harus menanggapi bagaimana. Namun, jujur ini adalah hal yang tidak begitu baik. Sebab, ingatan Rayyan yang seperti itu bisa saja membuat Rayyan menemuinya dan menganggapnya masih pacarnya. Tentu bukan hal yang dimaui Adista.
"Bisa saja, Rayyan menemui kamu lagi dan menganggap kamu masih pacarnya. Kalau sudah begini bagaimana sikapmu?" tanya Raka.
"Boleh, aku menolaknya? Aku ... sudah tidak mencintai, Rayyan. Semuanya sudah berakhir, Mas."
Sekadar memikirkan saja kepala Adista sudah pening. Wanita itu sampai menitikkan air matanya. Baru saja dia mengecap nektar pernikahan dengan Raka, memulai kehidupan rumah tangga yang manis. Akan tetapi, sekarang Adista harus diperhadapkan dengan sesuatu yang serius lagi.
"Bisakah kita menjaga keharmonisan rumah tangga kita, di tengah kondisi Rayyan yang sepenuhnya tidak stabil ini?" tanya Raka.
"Harus bisa, Mas. Tidak bercerita ke Mama dan Papa?" tanya Adista.
"Aku ingin bercerita, tapi belum. Mama dan Papa masih fokus untuk penyembuhan di London dan membawa Rayyan pulang ke Jakarta. Aku memilih jujur denganmu dulu. Jujur, aku sakit, Sayang. Kamu istrinya, satu-satunya wanitaku, tapi adikku sendiri yang sekarang kondisinya tak stabil justru menganggapmu sebagai kekasihnya. Di satu sisi istriku, dan di sisi lain adik kandungku yang sakit. Sangat tidak mudah menjadi diriku," aku Raka.
Tidak memberikan jawaban, Adista merespons dengan memeluk suaminya. Adista tahu bagaimana sukarnya berada di posisi suaminya sekarang. Namun, ini hanya cobaan dalam rumah tangga. Adista berharap bahwa waktu tidak akan berlarut-larut.
"Egoiskah aku kalau aku tidak mau melonggarkan apa pun? Egoiskah aku kalau aku ingin kamu tetap sepenuhnya menjadi milikku?"
Raka berkata demikian, pria itu memejamkan matanya merasakan pelukan hangat istrinya. Dia ingin egois. Dia ingin Adista hanya miliknya satu-satunya. Namun, jika nantinya Rakanya memilih egois, akankah itu berdampak ke kesehatan Rayyan lagi. Raka hanya bisa membenamkan wajahnya di dada istrinya dan memejamkan matanya. Belum berakhir, masih ada masalah yang satu demi satu harus diselesaikan. Termasuk labirin yang membawa Raka, Adista, dan Rayyan masuk di dalamnya.