Staycation With Boss

Staycation With Boss
Rekonsiliasi Sebenarnya



Usai berbicara dengan Rayyan, Raka masih berdua dengan Adista di taman yang berada di belakang rumah. Pria itu seperti biasa segera memeluk Adista. Raka melihat air mata yang berlinang di wajah istrinya, tapi sekarang Raka sangat yakin bahwa itu bukan karena patah hati. Sebab, Raka juga sangat percaya bahwa perasaan Adista sudah sepenuhnya tulus dan murni untuk dirinya.


"Kenapa menangis?" tanya Raka kemudian.


"Terharu saja kok ... aku gak ngapa-ngapain loh, Mas. Aku malahan senang karena Rayyan terlihat dewasa," kata Adista dengan jujur.


Mendengar apa yang disampaikan Adista, Raka mengangguk samar. Dia juga percaya bahwa Rayyan tadi terlihat dewasa dan begitu ikhlas. Tidak mudah berdiri sebagai Rayyan, tapi Rayyan sudah membuktikan bahwa ada kalanya cinta memang tidak harus memiliki.


"Iya, aku percaya bahwa perasaanmu sepenuhnya untuk aku kan?" tanya Raka.


"Iya, hanya untuk Mas Raka."


Adista menjawab pun dengan terisak. Dia tidak ingin diragukan. Sejak berhasil membereskan perasaannya dan belajar mencintai suaminya, Adista tak pernah main-main dengan perasaannya. Yang dia cintai hanya Raka, suaminya. Bahkan perlahan-lahan semua perasaan untuk Rayyan juga sirna. Adista bisa menempatkan diri dan menganggap Rayyan hanya sebagai adik iparnya saja.


"Tenangin dulu, sehabis ini kita masuk yah. Menginap semalam di rumah Mama dan Papa dulu yah," kata Raka kemudian.


"Iya, Mas," balas Adista.


Kala Raka memeluk istrinya itu, Rayyan melihat keduanya dari kaca jendela kamarnya yang menghadap ke taman. Bukan berarti rasa sakit itu tidak ada, tapi Rayyan memilih menguatkan dan membesarkan hatinya.


"Ku harap kamu akan selalu bahagia dengan Kak Raka, Ta ... mulai hari ini, kalau ada hubungan di antara kita berdua, itu sepenuhnya hanya hubungan kakak ipar dan adik ipar saja. Aku sudah melepaskan perasaanku. Siapa yang nanti bisa mengisi hatiku, aku percayakan kepada Allah. Aku juga yakin bahwa Kak Raka akan selalu membahagiakanmu."


Pemuda itu tersenyum getir, dengan setitik air mata yang menetes begitu saja. Akan tetapi, Rayyan juga sangat yakin bahwa kakaknya akan selalu bisa membahagiakan Adista. Walau hatinya teriris perih, Rayyan menganggapnya sebagai tahap awal untuk melepaskan cinta dan perasaannya. Berusaha ikhlas dan sabar. Suatu hari nanti pastilah ada cinta yang baru untuknya.


Hampir sepuluh menit Raka dan Adista masih berada di luar. Sekarang, Raka mengajak istrinya itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Adista kemudian tersenyum menatap suaminya.


"Masuk ke kamarmu lagi. Dulu, waktu masih ada guling di antara kita berdua yah, Mas?" tanyanya.


"Iya, hanya beradu punggung, dan tidak beradu pandang," balas Raka.


"Besok pulang ke rumah yah, Mas? Walau kamu dan Rayyan sudah baikan, tapi gak enak di sini berlama-lama."


"Siap ... kita akan pulang ke rumah besok," jawab Raka.


Malam yang panjang dengan banyak acara yang sudah mereka nikmati bersama. Sekarang, waktunya untuk Adista beristirahat. Bagian pinggangnya juga sudah begitu kencang, agaknya Adista bisa tidur lebih cepat kali ini. Esok hari, Adista akan bangun lebih pagi dan membantu Mama Erina menyiapkan sarapan.


...🍀🍀🍀...


Pagi Harinya ....


Hari masih begitu pagi. Adista pun segera mengurai tangan suaminya yang melingkari pinggangnya. Adista tersenyum menatap wajah Raka yang masih tertidur. Pelan-pelan, Adista mengecup bibir dan pipi suaminya itu.


"Aku turun dulu, mau bantuin Mama membuat sarapan," kata Adista dengan lirih.


Sementara Raka yang masih tertidur pun tidak memberikan jawaban. Sebab, pasti dia tidak begitu mendengar. Adista menuju kamar mandi terlebih dahulu, dia mencuci muka, menggosok gigi, dan menguncir rambutnya terlebih dahulu. Setelah itu, dengan pelan-pelan Adista keluar dari kamar suaminya menuju ke dapur.


Rupanya di sana sudah ada Mama Erina yang berada di dapur dibantu oleh Bi Tini. Terlihat Mama Erina yang hendak menyiapkan sarapan.


"Pagi, Mama ...."


"Pagi, Dista. Gimana, menginap di sini lagi bisa tidur?" tanya Mama Erina.


"Bisa, Ma. Asal ada Mas Raka, Adista bisa cepet tidur. Dulu waktu Mas Raka ke London itu, Dista enggak bisa tidur," cerita Adista.


Mama Erina tersenyum. Itu artinya bahwa menantunya itu sudah begitu mencintai Raka. Rasanya ada yang kurang kalau tidak tidur ditemani Raka.


"Kupas beberapa buah ya, Dista. Papamu ingin dibuatkan Salad Buah," kata Mama Erina.


Akhirnya Adista mengupas buah Apel, Melon, Semangka, dan memotong Anggur. Selain itu, Adista menyiapkan saus mayonaise dan thousand island. Salad buah seperti ini bukan hal asing untuk Adista, karena dia dulu sering membuatnya kala training di bagian restoran di La Plazza Hotel.


"Seduhkan kopi sekalian ya, Ta. Sudah menjelang waktunya sarapan. Tolong yah," kata Mama Erina lagi.


Akhirnya Adista memasak air terlebih dahulu, kemudian menyeduh kopi hitam. Aroma kopi begitu harum. Sementara di sisi lain Mama Erina menyeduh teh dengan aroma melati yang aromanya juga begitu harum.


Setelahnya Adista juga membantu Mama Erina menyajikan sarapan di meja makan. Hingga akhirnya, Papa Zaid yang turun terlebih dahulu. Begitu di dapur, Papa Zaid istri dan menantunya, tak lupa Papa Zaid mencium kening Mama Erina. Adista yang melihatnya tersenyum sendiri, walau usia tidak lagi muda, tapi Papa Zaid dan Mama Erina terlihat begitu romantis.


"Kebiasaan Papamu, Dista," kata Mama Erina sembari tersenyum.


"Tidak apa-apa, Ma. Manis kok malahan," balas Adista.


"Raka seperti itu juga enggak?" tanya Mama Erina.


Adista tersenyum dan menunduk. Raka mah tidak hanya mengecup keningnya. Kadang kala pria itu juga mendekapnya erat-erat. Adista juga sampai bingung, Raka itu tipe pria yang tak bermulut manis, tapi selalu suka melakukan kontak fisik entah itu memeluk atau mencium.


Hingga setelahnya Raka turun bersamaan dengan Rayyan. Dari menuruni anak tangga, kakak beradik itu sudah terlihat hangat. Pemandangan bagus bagi ini, setelah beberapa bulan terjadi perang dingin.


"Pagi semuanya," sapa Rayyan.


"Pagi ...."


Sementara Raka juga turut menyapa keluarganya, "Pagi Mama dan Papa," sapanya.


"Pagi, istrimu tidak disapa?" tanya Papa Zaid.


Raka menatap Adista sejenak, wanita itu sudah tersenyum malu. Namun, kalau tidak disapa ya tidak apa-apa. Ada hati yang masih dijaga.


"Sapa aja, Kak ... Santuy," kata Rayyan.


Raka kemudian tersenyum tipis, seperti tengah jaga image. "Pagi, Sayang," sapa Raka.


"Pagi, Mas ...."


"Kalau kita waktu muda yah, Pa," kata Mama Erina.


"Boleh nanti Rayyan kalau segera berjodoh dipanggil Mas juga," celetuk Rayyan.


"Sudah ada jodohnya, Ray?" tanya Raka tanpa basa-basi.


"Belum ada, Kak. Doain yah."


"Pasti didoain. Mendapat pasangan hidup yang mengerti satu sama lain," kata Raka.


Papa Zaid kemudian tersenyum. "Ucapanmu kayak Papa, Ka ... dewasa. Iya kan Ray?"


Rayyan kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Pa. Kakak itu kan dominan seperti Papa."


Mama Erina dalam hati tersenyum. Kedua putranya sudah berekonsiliasi. Sudah membaik. Selain itu, tidak ada perang dingin lagi di antara keduanya.