Staycation With Boss

Staycation With Boss
Ini yang Pertama



Memacu dan menikmati peraduan untuk kali pertama setelah beberapa saat menikah. Raka merasakan benar-benar meledak sekarang. Kini, pria itu berguling di sisi Adista dan membawa Adista untuk masuk dalam pelukannya. Selimut putih pun dia bentangkan untuk mengcover tubuh keduanya.


"Aku cinta kamu, Sayang," kata Raka dengan mengecup kening istrinya.


Sementara Adista lemah lunglai di dalam Raka. Sekarang seluruh tenaganya terasa habis terkuras. Sendi-sendinya terasa putus, apalagi ada ngilu di pangkal paha yang sekarang dia rasakan. Adista hanya bisa memeluk Raka dengan memejamkan matanya.


Menunggu hingga napas mereka menjadi lebih stabil dan peluh perlahan menghilang, Raka kemudian berbicara lagi kepada istrinya.


"Kamu sudah membuka diri kepadaku, apakah itu artinya kamu sudah mencintaiku?" tanya Raka.


"Aku sudah membereskan masa lalu dan perasaanku, Pak Raka. Kalau untuk mencintai, aku tidak tahu. Semua terasa asing bagiku," jawab Adista.


"Asing apanya? Perasaanmu atau kegiatan kita barusan?" tanya Raka dengan spontan.


"Keduanya. Ada kalanya, aku ingin menolak, tapi semua ini terasa sangat menghanyutkan. Aku bingung," balas Adista dengan jujur.


"Ya sudah, berusaha saja untuk menerima dan mencintaiku. Sekarang, biar aku saja yang mencintaimu terlebih dahulu," balas Raka.


Itu adalah kemauan Raka, dia akan menunjukkan cintanya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah Adista perlahan mulai bisa mencintainya. Sekarang, biarkan semua berjalan apa adanya dulu.


"Aku mau mandi dulu, Pak Raka. Dosa kalau usai berhubungan dan tidak mandi sama sekali," kata Adista.


"Boleh, mandi. Jangan memakai apa-apa yah. Kita begini saja."


Adista membolakan kedua matanya bingung dengan ucapan suaminya barusan. Masak seusai mandi tidak mengenakan busana. Itu memalukan untuk Adista.


"Gantian saja Pak Raka," balas Adista.


"Boleh, aku gendong kamu ke kamar mandi."


Raka akhirnya menggendong Adista ke kamar mandi. Sebab, Raka yakin bahwa Adista susah untuk berjalan sekarang. Bahkan di dalam kamar mandi, ketika pangkal pahanya terkena air, rasanya begitu perih. Adista sampai menangis dan mendesis hingga dua puluh menit kemudian Adista keluar dan hanya mengenakan bathrobe. Sementara Raka tersenyum melihat Adista yang sudah keluar dari kamar mandi.


Pria itu mencuri satu kecupan di pipi Adista, lalu berlalu pergi masuk ke dalam mandi. Raka juga menuntaskan mandinya lebih cepat. Pria itu tersenyum sendiri, biasanya dia harus puas mandi dengan air dingin. Sekarang, Raka bisa mandi dengan air hangat. Beberapa menit kemudian Raka menyelesaikan mandinya, dan menyusul Dista yang bersandar di head board.


"Kenapa bengong?" tanya Raka.


"Perih ... kok sakit," balas Adista dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


Raka menaiki ranjang dan duduk di sisi istrinya itu. "Jelaslah sakit, ini yang pertama," jawab Raka dengan tersenyum aneh.


Sementara Adista menyipitkan kedua matanya. Tidak tahu apa yang dimaksud oleh suaminya. Padahal, jika menghitung dari petaka di Lombok kala itu, bukankah ini adalah pengalaman kedua? Kenapa, rasanya masih sesakit dan seperih ini.


"Yang pertama bagaimana?" tanya Adista.


"Ya, ini malam pertama kita sebagai suami istri. Apa lagi coba?"


"Malam pertama setelah menikah kan, Pak? Yang dulu itu?" tanya Adista.


"Dulu, belum sampai membobol gawang kok," jawab Raka dengan entengnya.


Adista bingung dengan semuanya. Kalau dulu belum sampai masuk, kenapa inti sari tubuhnya sudah sakit. Apakah dulu hanya jebakan semata supaya Raka bisa menikahinya?


"Pak Raka menjebakku? Jahat banget sih, Pak," balas Adista.


"Jangan menangis dulu. Dengarkan ceritaku, semula nyaris terjadi. Kamu mabuk dan semuanya terjadi begitu saja. Mudah untukku menaklukkanmu di ranjang. Kita sudah sepenuhnya polos, kita sama-sama menikmati. Namun, aku hanya menggesekkannya saja. Saat aku hendak mencoba membobol gawang, aku hentikan kala melihatmu menangis dan memanggil nama Bapak dan Ibumu. Mana tega aku melanjutkan semuanya. Akhirnya kita berakhir di ranjang seperti itu. Kenapa, milikmu sakit? Sudah terjadi gesekan dan ada uji coba."


"Kalau ada ketidakjujuranku hanya itu. Selebihnya aku tidak tahu, termasuk hubunganmu dengan Rayyan. Aku sudah menginginkanmu, Dista. Jadi, biar saja. Mendapatkan dan menikahimu itu harga mati," kata Raka lagi.


Adista masih menangis. Tidak mengira dulu adalah jebakan, tapi memang nyaris terjadi. Namun, Raka menghentikannya manakala Adista menangis dan memanggil Bapak dan Ibunya. Sudah sama-sama polos, dan tinggal menuntaskan, tapi Raka memilih mundur.


"Maaf," kata Raka sekarang.


"Jahat banget sih," balas Adista.


"Bukan jahat, hanya menerapkan strategi untuk mendapatkan kamu. Namun, perasaanku tulus, Dista. Aku cinta kamu," kata Raka sekarang.


"Kalau cinta kenapa melakukan itu?"


"Itu lebih baik, daripada aku mengoyak mahkota milikmu, Dista. Walau aku begitu mendamba, aku menahan. Aku lebih memilih mandi dengan air dingin."


Raka menjawab semuanya itu. Memang ada ketidakjujurannya. Akan tetapi, Raka selebihnya berkata jujur. Termasuk ketidaktahuannya bahwa Rayyan, adiknya adalah pacar Adista. Raka tentu saja terpukul, tapi karena dia sudah melihat Adista, nyaris melakukan hubungan malam itu, Raka memilih mengambil risiko.


"Jangan nangis. Kan aku cuma berbicara jujur. Ini yang pertama untuk kita berdua," kata Raka lagi.


"Termasuk Pak Raka baru pertama kali melakukannya?" tanya Adista.


Pria itu menganggukkan kepalanya. "Iya, baru pertama kali dan langsung nagih. Astaga, tiap malam aku mendamba seperti ini. Tengah malam aku mandi air dingin. Sekarang, benar-benar puas."


Raka tersenyum, dia lega bisa berkata jujur. Lalu, Raka bawa Adista masuk dalam pelukannya. Sekarang, semuanya sudah terbuka, sudah ada kejujuran. Raka berharap Adista mulai mencintainya.


"Kalau hatimu sudah beres, sudah bisa melupakan Rayyan, PR selanjutnya belajar mencintai aku," kata Raka. Dia memberikan PR lagi untuk istrinya itu.


"Jangan bohong lagi," balas Adista dengan mengurai rangkulan suaminya.


"Iya, akan selalu jujur. Termasuk yang satu ini," balas Raka.


Spontanitas Raka membawa tangan Adista dan menyentuhkannya ke pusakanya yang lagi-lagi sudah berdiri. Adista kebingungan dan buru-buru menarik tangannya.


"Pak Raka!"


"Lah, kan jujur. Toh, dia milikmu kok. Sudah berstempel resmi, punya Adista."


Sekarang Raka tertawa. Pria itu merasakan semerbak hormon dophamine yang menyebar hingga ke otaknya hingga membuatnya sangat bahagia usai bercinta dengan Adista.


"Apaan sih, Pak," balas Adista.


"Istirahat dulu, nanti lagi sampai pagi yah," pinta Raka sekarang.


"Tulangku bisa remuk semuanya," balas Adista dengan merengek.


"Aa pijitin nanti. Tenang saja, Sayang," balas Raka.


Adista hanya bisa memanyunkan bibirnya. Ada marah, sebal, dan juga gemas dengan suaminya itu. Adista harus lebih beradaptasi menghadapi suaminya yang sedang menaiki drastis dan menggebu-gebu itu.