Staycation With Boss

Staycation With Boss
Tanda-Tanda Persalinan



Tidak terasa kurang lebih tiga sudah berlalu. Dalam tiga pekan juga Raka seakan tak keluar dari rumah. Dia benar-benar siaga dan tidak jauh-jauh dari Adista. Bahkan perhatian Raka kian bertambah saja setiap harinya.


"Ada yang kamu perlukan enggak, Yang?" tanya Raka kepada istrinya sekarang.


"Butuh apa, Mas. Semuanya sudah ada di rumah kok. Ada kamu juga yang selalu berada di rumah. Udah tenang rasanya," jawab Adista.


Menurut Adista sendiri dia tidak membutuhkan apa pun. Tinggal di rumah mewah, fasilitas juga terpenuhi, selain itu ada Suaminya yang selalu ada di sisinya selama 24 jam. Secara mental, Adista merasa tenang. Seandainya sewaktu-waktu bersalin pun ada Raka yang siap mengantarkannya ke Rumah Sakit.


"Yakin?" tanya Raka lagi.


"Yakin banget. Asal ada Mas Raka, hati tenang kok. Tinggal menunggu sinyal dari si baby aja, Mas," balas Dista.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Sinyalnya bagaimana, Yang?"


Pertanyaan wajar dari Raka karena ini adalah pengalaman pertama untuknya. Banyak hal terkait persalinan dan sebagainya yang Raka masih begitu awam.


"Aku juga kurang tahu sih, Mas. Hanya tahu dari bacaan aja. Rasanya gimana nanti juga belum tahu," balas Adista.


"Yang pasti sakit yah?" tanya Raka.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Sakit lah, Mas. Makanya ingat sakitnya istri saat melahirkan, biar enggak selingkuh dan main perempuan di luar sana," kata Adista.


"Siapa juga yang mau selingkuh, Yang. Memiliki kamu aja aku udah seneng banget," balas Raka.


Adista tersenyum sendiri mendengar ucapan Raka. Apakah benar bahwa Raka sudah begitu bahagia walau hanya memilikinya. Namun, apa yang Raka ucapkan sangat menghangatkan hati Adista.


"Ini minggu terakhir, Mas. Semakin deg-degan rasanya, tapi aku yakin karena ada kamu semua akan berjalan dengan lancar," kata Adista.


"Iya, Yang. Tas bersalin yang nanti dibawa ke Rumah Sakit sudah siap kan? Jangan dadakan, nanti kamu panik jadinya," kata Raka.


"Aman kok, Mas. Sudah aku siapkan semuanya. Tinggal dimasukkan ke dalam mobil aja. Makin deg-degan yah nanti baby kita cewek atau cowok. Gak sabar," kata Adista dengan mengelus perutnya yang sudah begitu membesar.


Ngobrol beberapa saat, akhirnya Adista merasa begitu mengantuk. Oleh karena itu, dia berkata kepada Raka untuk istirahat sebentar. Sementara Raka menganggukkan kepalanya. Dia mengusapi puncak kepala Adista, intinya Raka juga tidak jauh-jauh dari istrinya itu. Selalu lengket dengan istrinya. Bahkan tangan Raka sekarang juga turut mengusapi perut istrinya yang sudah begitu besar. Kala telapak tangan Raka mengusapi perut itu, terasa tendangan bayinya yang begitu kencang.


"Tendangan kamu kencang banget, Baby ... ditendang sekuat ini membuat Mama kamu kesakitan enggak? Kadang Papa khawatir kalau Mamamu kesakitan," kata Raka.


Beberapa saat kemudian perut Adista seperti terguncang, gerakan bayinya sangat aktif. Raka sampai mengamati perut istrinya yang bergerak-gerak itu. Bahkan Raka merasa bahwa kali ini gerakannya begitu banyak.


"Kamu kenapa, Baby? Mama baru istirahat sebentar. Katanya memang hamil besar itu membuat Mama kamu lebih sering capek, ada Papa di sini," kata Raka lirih.


Raka kasihan dengan istrinya itu. Membayangkan dengan tendangan yang begitu kencang pastilah sakit. Terlebih bayi ketika kian bertambah usianya, juga kian sempit ruang geraknya di dalam rahim mamanya. Belum juga tekanan di panggul. Semuanya pasti membuat rasa tidak nyaman di badan Adista. Namun, sejauh ini Adista juga tak pernah mengeluh. Ketika kecapekan, Adista hanya memilih untuk tidur saja.


"Kok udah bangun? Tumben banget. Biasanya kamu boboknya lama," tanya Raka.


"Perutku kok sakit yah, Mas," kata Adista dengan mengubah posisi tidurnya dan kini menjadi bersandar di headboard.


"Mungkin karena babynya tadi gerakannya banyak banget, Yang," kata Raka. Jawaban Raka juga berdasarkan apa yang dia lihat barusan memang perut Adista tampak berguncang, tendangan bayinya juga terasa begitu kencang. Jadi, Raka mengiranya perut Adista sakit karena gerakan bayinya yang memang benar-benar kencang.


"Aku ke toilet dulu yah, Mas," pamit Adista sekarang.


Raka menganggukkan kepalanya. "Iya, hati-hati, Yang. Mau diantar ke kamar mandi?"


"Enggak, aku bisa sendiri kok," balas Adista.


Raka memilih mempercayai istrinya, walau dia tetap memperhatikan Adista yang berjalan dengan memegangi pinggangnya. Mungkin juga tekanan di perut hingga pinggang lebih kuat dan berat sekarang. Apalagi terakhir kali memeriksakan kandungannya, berat bayinya sudah mencapai tiga kilogram.


Beberapa menit di dalam kamar mandi, Adista keluar dengan wajah seolah menahan rasa sakit. "Mas, kok keluar darahnya yah ... sebaiknya aku telepon Dokter Rinta dulu yah, Mas," kata Adista.


Raka menganggukkan kepalanya lagi, walau begitu Raka terlihat panik. Raka yang semula tiduran, langsung membantu Adista untuk duduk. Tangan Raka juga mengusapi perut istrinya itu.


Menunggu sesaat sampai Adista selesai menelpon Dokter Rinta terlebih dahulu. Di sana, Adista tampak mendengarkan penjelasan dari Dokter Rinta kemudian menganggukkan kepalanya, beberapa menit menelpon, sekarang Adista menatap suaminya.


"Disuruh ke Rumah Sakit sekarang, Mas. Kalau keluar darah mungkin saja tanda-tanda bersalin. Jadi, antar aku yah Mas?"


"Yuk, aku ganti baju dulu. Kamu juga yah. Kopernya di mana? Biar aku masukkan ke dalam mobil dulu," kata Raka.


Raka berusaha tenang walau sebenarnya sangat panik. Akan tetapi, Raka menarik napas dalam-dalam dan berusaha tenang dan mengerjakan semuanya satu per satu. Pria itu memasukkan koper ke dalam bagasi mobilnya dulu, setelah itu berganti baju, sembari menunggu Adista, Raka pamit dengan ART nya yang berada di rumah bahwa dia akan ke Rumah Sakit. Tidak lupa Raka menghubungi Mama Erina dan Papa Zaid, serta menghubungi orang tua Adista saja, sebatas memberitahu bahwa mungkin persalinan akan sebentar lagi.


Melalui sambungan telepon, Papa Zaid meminta Raka tidak panik. Bahkan sepanik apa pun, jangan menunjukkannya kepada Adista. Biarkan Adista tenang dan Raka bisa mendampingi dulu. Raka mendengarkan tips dari Papanya itu. Tentu Raka juga akan melakukannya. Setelah itu, dia menggandeng tangan Adista, mengajaknya untuk turun dari kamar dengan menggunakan lift, supaya Adista tak perlu menuruni anak tangga kemudian segera menuju ke Rumah Sakit.


"Tahan dulu yah," kata Raka.


"Iya, Mas," jawab Adista.


"Rasanya gimana?"


"Sakit dan perih, enggak enak lah di pinggang," balas Adista.


Raka mengetahui mungkin rasa sakit itu sudah mulai datang dan juga akan bertambah setiap jamnya. Raka hanya berharap bahwa Adista bisa menahannya terlebih dahulu, selain itu apa pun yang terjadi Raka sangat berharap bahwa persalinan kali ini akan lancar.