
Selang beberapa waktu kemudian, Adista mengabarkan kepada suaminya bahwa Desta sudah mendapatkan SMP. Sayangnya perjuangan untuk mendapatkan sekolah di negeri benar-benar tidak mudah. Bahkan memang ada yang membeli kursi lewat belakang. Agaknya, ini memang fenomena yang terjadi di negeri ini. Ketika pemerintah udah mengumumkan sekolah negeri gratis dan dibagi berdasarkan zonasi, tetap saja masuk ke sana tidak mudah. Bahkan ada beberapa oknum yang menjual titik zonasi itu, sehingga yang diprioritaskan memang yang jaraknya terdekat dari sekolah.
"Serius banget, Sayang," kata Raka mengamati wajah istrinya itu.
"Abis whatsapp-an sama Ibu, Mas. Ini Ibu cerita susahnya mendapatkan sekolah negeri untuk Desta," cerita Adista.
Raka melihat raut wajah istrinya. Jujur, hal seperti ini Raka tidak begitu tahu. Dari kecil, Raka sekolah di sekolah Swasta. Terbilang mahal, tapi memang untuk keluarga Syahputra yang notabene kaya tidak masalah menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta. Berbeda dengan keluarga Adista yang tidak berada, mereka harus mengikuti sistem zonasi di sekolah negeri.
"Apa masuk ke sekolah swasta aja, Yang? Biar aku yang sekolahin Desta," kata Raka sekarang.
Adista dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Gak usah, Mas. Setelah perjuangan Bapak, akhirnya Desta bisa masuk kok. Ada saran pengaduan juga, cuma ya itu Bapak sampai pusing. Yah, untuk kami yang tidak berada, pengennya ya sekolah di negeri yang tidak membebani orang tua."
Mendengar cerita Adista, jujur Raka bingung harus menanggapi apa. Sebab, Raka selalu hidup berkecukupan. Mungkin empati seperti ini baru bisa Raka rasakan sejak menikahi istrinya itu.
"Ceritanya rakyat jelata memang beda kan Mas?" tanya Dista dengan melirik suaminya.
"Bukan berbeda. Semua lapisan masyarakat memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Tidak bisa dibandingkan. Cuma, aku baru tahu untuk masyarakat yang mendapatkan sekolah berdasarkan zonasi juga susah. Syukurlah kalau Desta sudah mendapatkan sekolah. Walau perjuangan berat, Bapak dan Ibu tidak keberatan nantinya. Tinggal memikirkan uang sakunya, Yang," balas Raka.
"Iya, Mas. Udah bersyukur banget. Alhamdulillah deh. Desta juga pengennya masuk negeri yang dekat dengan rumah," balas Adista.
Raka menganggukkan kepalanya perlahan. Pria itu kemudian refleks memeluk istrinya. Adista tersenyum merasakan rengkuhan suaminya di tubuhnya. Raka sendiri walau dia diam, sebenarnya dia ingin melakukan sesuatu untuk keluarga istrinya itu. Yang Raka pikirkan bahwa keluarga istrinya juga adalah keluarganya sendiri.
"Nanti akhir pekan ajak Bapak dan Ibu Staycation bersama, Yang. Desta kan pengen nginap di hotel. Biar dia merasakan liburan dulu sebelum mulai masuk sekolah," kata Raka.
"Mau di hotel mana, Mas?" tanya Adista.
"Tenang aja, aku yang atur. Yang pasti bukan di La Plazza kok, biar privasi kita terjaga. Di hotelnya temenku aja Paradise Hotel."
Adista menengadahkan wajahnya dan menatap suaminya. Mendengar nama Paradigma Hotel yang Adista ingat adalah tentang hotel bintang lima yang sangat terkenal di ibukota. Untuk Adista dan keluarganya pasti itu hotel sangat mahal.
"Itu hotel bintang lima, Mas. Mahal banget loh harga semalamnya," balas Adista.
"Tidak masalah. Memberikan yang terbaik untuk keluarga sendiri tidak masalah kok, Yang. Masih di Ibukota juga. Sehingga kita berdua gak perlu cuti. Maaf, cuma bisa mengajak dua malam aja," kata Raka.
"Dua hari udah berharga banget untuk keluargaku, Mas. Makasih banyak," balas Adista.
...🍀🍀🍀...
Akhir Pekan Tiba ....
Sekarang Raka dan Adista menjemput keluarga Pak Gusti untuk diajak Staycation bersama. Seperti keinginan Desta dulu yang ingin menginap di hotel. Sekarang, Raka mewujudkan impian adik iparnya.
"Kami malahan sering merepotkan Nak Raka," kata Bu Ratih.
"Sesama keluarga tidak merepotkan, Bu," balas Raka.
"Makasih Mas Raka," kata Desta yang menunjukkan wajah bahagianya.
"Sama-sama, Des ... di hotel nanti, kamu pengen ngapain?" tanya Raka.
"Mas Raka bisa berenang? Ajarin, Mas."
Raka tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. "Boleh, nanti Mas ajarin berenang. Agak sore saja yah."
Menempuh perjalanan menuju Paradise Hotel, ini pun jadi pengalaman pertama keluarga Gusti menaiki mobil mewah menantunya. Raka juga bersikap sangat baik dan sopan. Tidak serta-merta dia kaya raya lalu bersikap seenaknya, justru Raka sangat baik kepada keluarga istrinya itu. Hingga akhirnya mereka sampai di Paradise Hotel yang adalah salah satu hotel bintang lima di Ibukota.
Baru hendak menuju ke resepsionis, sudah ada seseorang yang menyapa Raka di sana.
"Loe Raka kan?" sapa pemuda tampan itu.
Keduanya memberikan rangkulan sesaat. Senang bertemu dengan sahabat lama. Ya, dia adalah Andreas Saputra yang adalah putra pemilik Paradise Hotel.
"CEO La Plazza ke sini ada apa ini?" tanya Andreas.
"Liburan aja, Ndre. Staycation. Cari suasana baru," balas Raka.
Saat itu juga, Raka mengenalkan keluarga istrinya. Hanya pada Andreas, Raka berani jujur. Walau begitu, Raka meminta Andreas untuk tidak mempublikasikannya kepada yang lain.
"Aman lah, Bro. Tenang aku beri kamar dan view terbaik yah."
Andreas yang mengaturkan semuanya ke resepsionis. Pria itu meminta kamar dan view terbaik untuk Raka dan keluarganya. Usai itu, Andreas berpamitan dan berpesan supaya Raka menikmati short holiday di Paradise Hotel.
"Ayo Bapak, Ibu, dan Desta. Biar Raka antar ke kamar," kata Raka.
Akhirnya mereka berlima menaiki lift menuju ke lantai 11. Untuk orang yang tidak pernah naik lift, Bu Galuh mengenggam tangan suaminya dengan kencang. Desta sendiri berpegangan ke tangan Kakaknya.
"Di lantai sebelas, biar Raka antar," katanya.
Akhirnya mereka mengikuti Raka saja sebagai pemandu mereka. Hingga Raka membukakan pintu kamar hotel untuk keluarga mertuanya. Raka sengaja memesan Family Room dengan satu bed berukuran king size dan satu bed berukuran single. Pikirnya supaya nanti malam Desta bisa tidur sendiri.
"Nah, ini kamarnya. Silakan masuk," kata Raka.
"Bagus banget ...."
Pak Gusti, Bu Galuh, dan Desta kompak mengatakan bahwa kamar hotel itu bagus banget. Raka juga membukakan tirai dan menunjukkan pemandangan yang indah dari jendela yang ada di dalam kamar hotel.
"Ini viewnya. Bagus kan?"
Semuanya menganggukkan kepalanya. Mereka setuju bahwa itu adalah view yang benar-benar indah. Desta juga mencoba duduk di ranjang, dia bereaksi bahwa ranjang itu benar-benar empuk.
"Ranjangnya empuk banget, Mas," kata Desta.
"Desta suka?" tanya Raka.
"Ya, Mas. Suka banget. Empuknya," balas Desta girang.
"Jangan gitu, Des ... nanti rusak loh," kata Bu Galuh.
Raka menggelengkan kepalanya. "Tidak akan rusak kok, Bu. Tidak apa-apa. Bapak, Ibu, dan Desta istirahat siang dulu sebentar nanti agak sore Mas Raka ajak ke kolam renang yah," kata Raka.
"Lalu, kamar kalian di mana Nak Raka?" tanya Pak Gusti.
"Tepat di depan kamar ini, Pak. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan menghubungi Raka atau Dista."
Akhirnya, Raka mengajak Dista keluar. Membiarkan keluarganya istirahat terlebih dahulu. Mereka memasuki kamar yang berada di depan kamar keluarganya.
"Makasih Mas Raka," kata Adista. Begitu sudah memasuki kamar mereka sendiri, Adista refleks memeluk suaminya dengan air mata yang berlinang begitu saja. Ya, buliran air mata membasahi kemeja yang sekarang dikenakan suaminya.
"Kok malahan nangis," tanya Raka dengan memeluk Adista.
"Makasih sudah banyak menghadirkan kebahagiaan untuk keluargaku. Bagi mereka yang kaya, menginap di hotel itu biasa, tapi untuk kami yang tidak punya berbeda cerita. Makasih, aku bisa kebahagiaan penuh di wajah adikku," kata Adista dengan terisak.
"Tidak perlu berterima kasih, aku juga sekarang bagian dari keluargamu loh. Kita sama-sama keluarga. Saat Bapak, Ibu, dan Desta bahagia, aku yang akan lebih berbahagia."
Mendengar jawaban Raka, Adista kian mengeratkan pelukannya. Dulu, dia mengira pria yang dia peluk ini jahat dan arogan. Namun, semakin mengenal Raka, Adista merasa bahwa suaminya itu sosok pria berhati emas. Sosok pria yang menghadirkan kebahagiaan untuk keluarganya juga.