Staycation With Boss

Staycation With Boss
Mr. Raka Sudah Menikah?



Beberapa hari kemudian, Raka mengumpulkan seluruh pegawainya untuk melakukan meeting. Terutama untuk satu bulan ke depan akan banyak acara yang digelar di La Plazza Hotel. Raka perlu mengkoordinasi seluruh pegawainya untuk bisa bekerja dengan maksimal dan menyukseskan seluruh acara yang digelar di La Plazza.


Adista pun turut berdiri di sana. Wanita itu tersenyum mana kala Raka dengan sengaja melemparkan senyuman kecil kepada istrinya. Hanya sekian detik, dan kemudian Raka berdiri di hadapan seluruh karyawannya.


"Selamat siang semuanya," sapa Raka.


"Siang, Mr. Raka ...."


Raka menganggukkan kepalanya. Jika sudah berhadapan dengan semua staffnya, Raka akan memasang wajah yang dingin. Pria itu jarang sekali tersenyum. Pembawaan Raka sangat berbeda dengan Papa Zaid yang dinilai lebih hangat dan ramah ke staff. Namun, kalau sudah bersama Adista saja barulah sifat Raka akan mencair, pria itu tak segan untuk tersenyum bahkan tertawa.


"Saya mengumpulkan seluruh staff untuk bersiap dengan banyaknya event yang akan diselenggarakan dalam satu bulan ini. Ada dua kali event pernikahan, event galeri fashion dari Zarina Butik, dan beberapa event dari coorporate. Jika mengalami kesulitan silakan langsung dikomunikasikan di mana letak kesulitannya. Selain itu, selalu utama kepuasan mitra kita," kata Raka.


Seluruh staff pun bersiap dan menganggukkan kepalanya. Mereka juga siap untuk bekerja secara tim. Sebab, dengan banyaknya event berarti tiap tim harus bekerja dengan lebih maksimal. Selain itu, Raka selalu mengatakan untuk memberikan pelayanan yang maksimal dan memberikan kepuasaan untuk mitra mereka.


"Ada yang ingin dilaporkan dari setiap divisi?" tanya Raka.


"Saya, Mr. Raka. Dari divisi marketing juga sudah mulai menjadwalkan untuk event bulan depan. Mengingat sudah ada pesta pernikahan di awal bulan. Sehingga, memang harus dipersiapkan bulan ini juga, Mr. Raka."


"Oke, baiklah. Jadi, minggu terakhir bulan ini sekaligus kita bersiap untuk wedding party yang akan digelar untuk awal bulan depan," balas Raka.


Kala mengatakan itu, tak sengaja Raka mengusap wajahnya dan di jari manisnya melingkar cincin pernikahan. Praktis itu mengundang tanda tanya dari para staff mungkinkah Bossnya itu sudah menikah. Namun, semuanya masih diam. Menyelesaikan meeting terlebih dahulu.


"Dari divisi yang lain ada yang ingin disampaikan juga? Inventaris aman?"


"Aman, Mr. Raka. Semua bisa kerjakan berdasarkan event yang akan digelar nanti," balas Bu Linda lagi.


"Baiklah, untuk mengapresiasi kerja keras kalian selama sebulan ini, saya akan memberikan tips 20% dari gaji untuk kalian semua. Selain itu, yang mengambil lembur tetap akan dihitung. Jaga kesehatan dan sukseskan semua event yang ada."


Mendengar mengenai tips khusus yang diberikan semuanya merasa sangat bahagia. Walau hanya 20% dari gaji mereka, tapi seluruh staff sudah bahagia. Lagipula, setiap staff yang mengambil lembur juga akan dihitung jam lemburnya. Adista yang turut mendengarkan pengumuman itu tersenyum, kala seperti ini suaminya itu baik.


"Ada lagi?" tanya Rak.


"Mr. Raka sudah menikah yah?" tanya Bu Linda dengan tiba-tiba. Ya, Bu Linda yang berdiri tidak jauh dari Raka bisa mengamati cincin pernikahan yang melingkar di jari manis Bossnya itu.


Wajar, pria yang semula tidak pernah mengenakan cincin di jari manis dan sekarang mengenakan cincin. Biasanya Raka hanya mengenakan Arloji mahan dengan logo mahkota saja di pergelangan tangannya. Akan tetapi, sekarang Raka tampak mengenakan cincin.


Semuanya pun tersenyum dan seolah terlihat kepo. Jika benar Bossnya itu sudah menikah pastilah seluruh staff menunggu undangannya. Staff juga ingin memberikan selamat untuk Bossnya.


Usai itu, Raka meninggalkan ruangan meeting terlebih dahulu. Dia tampak santai berjalan. Sementara para staff menikmati makannya dan juga berbicara mengenai Mr. Raka.


"Bu Linda kok mengira Mr. Raka menikah sih?" tanya seorang pegawai.


"Iya, saya cuma mengamati cincin di jari manisnya saja. Mungkin Boss kita sudah sold out," kata Bu Linda.


"Duh, pasti beruntung banget yang jadi istrinya Mr. Raka yah. Cakepnya bukan main, kaya raya, ya ampun ... beruntung pake banget."


"Belum tentu loh, Mr. Raka kan diem gitu. Istrinya pasti ntar enggak diajak bicara. Terlihat mengintimidasi gitu," kata staff yang lain.


Sementara Adista diam saja mendengarkan ucapan beberapa pegawai di sana. Itu hanya persepsi dan tidak perlu untuk dimasukkan ke dalam hati. Justru Adista bersyukur karena suaminya itu tidak memberikan jawaban apa pun.


Sesaat kemudian masuklah beberapa pesan di handphone milik Adista. Baru saja, Adista ingin mengambil buah yang disediakan sebagai makanan untuk para staff, tapi handphonenya berbunyi terlebih dahulu. Oleh karena itu, Adista membaca terlebih dahulu setiap pesan yang masuk.


[Tenang saja, aku bisa mengalihkan jawaban.]


[Silakan dinikmati hidangannya.]


[Kalau sudah, nanti kita pulang bersama.]


[Suamimu❤️😘]


Deretan pesan itu diakhiri dengan emoticon cinta dan ciuman. Adista tersenyum kecil membaca pesan itu, kemudian segera memasukkan handphonenya ke dalam sakunya. Dia turut berbaur dengan pegawai yang lain.


"Gimana liburannya kemarin?" tanya Bu Linda kemudian kepada Adista.


"Baik, Bu Linda. Lumayan, bisa memanfaatkan waktu cuti. Usai ini harus bekerja keras untuk banyaknya event di La Plazza," balas Adista.


"Benar. Kemarin bisa relaksasi dulu yah. Adik kamu sudah sehat kan?" tanya Bu Linda lagi.


"Alhamdulillah, sudah sehat, Bu. Sekarang Desta bisa lebih rajin sekolahnya. Akhir semester ini akan kelulusan dan masuk ke SMP, Bu," balas Dista.


"Oke, semangat yah. Sampaikan salam untuk keluargamu."


Adista menganggukkan kepalanya. Menurut Adista begini jauh lebih baik. Dia juga tidak diistimewakan sebagai staff, selain itu staff yang lain juga tidak sungkan dengannya. Sebab, ketika semua mengetahui pernikahannya nanti pastilah semua staff akan bersikap berbeda kepadanya. Selain itu, Adista masih menginginkan bekerja untuk bisa membantu perekonomian keluarganya. Walau Raka mengatakan bisa bertanggung jawab, tapi Adista tidak mau dan semakin memberatkan suaminya itu.