
Hari ini akan menjadi hari yang berbahagia untuk Raka dan Adista. Setelah tiga bulan menikah secara resmi dan menunaikan akad, barulah sekarang pernikahan itu benar-benar diumumkan. Pesta pernikahan mewah pun siap digelar dan sekaligus publikasi resmi bahwa putra sulung keluarga Syahputra sudah menikah.
Lantaran sudah memiliki hotel sendiri, Wedding Reception siang ini juga digelar di La Plazza Hotel. Ballroom untuk resepsi sudah dihiasi dengan aneka bunga dan lampu. Tema rustic yang megah tampak menghiasi area ballroom. Bunga-bunga yang dipadukan warna putih dan biru, selain itu lampu-lampu indah menggantung dengan kilauan cahayanya.
Sementara di salah satu kamar, Adista dan Raka tengah bersiap. Hampir sejak dua jam sebelumnya Adista sudah dirias dengan wedding gown berwarna putih. Wedding Gown ini adalah desain dari Mama Erina khusus untuk menantunya.
"Cantik banget kamu, Dista," kata Mama Erina mengamati gaun pengantin yang mencetak indah tubuh Adista.
"Bagian dadanya agak kebuka enggak, Ma? Adista malu," balasnya.
Mama Erina kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak, cantik kok. Kamu mengingatkan Mama dengan Mama dulu waktu melaksanakan resepsi dengan Papamu dulu."
Bu Ratih yang mendengarkan cerita besannya juga tersenyum, dia merasa senang dan lega karena putrinya diterima dan disayang oleh keluarga suaminya.
"Terima kasih Bu Erina, sudah sayang kepada Dista," kata Bu Ratih.
"Pasti, Bu. Dista itu sudah seperti anak sendiri. Sama seperti Raline. Tidak membedakan anak kandung dan anak menantu," balas Mama Erina.
Adista tersenyum, dia memiliki Mama mertua yang baik dan seorang Ibu yang juga sangat baik. Bagi seorang menantu, ketika keluarga mertua sangat sayang itu adalah anugerah.
Setelah itu, ada ketukan di pintu. Rupanya itu adalah Raka yang sudah bersiap dengan setelan jas berwarna hitam. Pria itu datang dengan hand buket Mawar yang nantinya akan digenggam sang mempelai wanita. Tampak Raka begitu tampan, seperti biasanya, pria itu memang tampan.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Raka.
"Iya, Mas."
Raka mengulurkan tangannya. Waktunya untuk menuju pelaminan. Dengan tangannya sendiri, Raka akan menggandeng istrinya, berjalan bersama menapaki karpet merah yang akan mereka lalui bersama. Raka dan Adista di depan, lalu diikuti Bu Ratih dan Pak Gusti, lalu dilanjutkan Mama Erina dan Papa Zaid.
Keputusan resepsi ini juga membuat Papa Zaid dan Mama Erina bahagia. Keduanya pengen mengabarkan juga bahwa sudah memiliki menantu dan sekarang adalah saat yang tepat untuk melaksanakan resepsi sebelum usia kandungan Adista kian bertambah besar.
Lagu dengan tema cinta mengalun indah dari gesekan biola secara langsung. Semua undangan pun tampak antusias menyambut kedua mempelai, terlebih para staff dan pegawai La Plazza yang semua diundang begitu kagum dengan pesta siang itu. Sekarang, mereka bisa melihat sendiri bahwa Bossnya sudah menikah, lebih kaget karena yang digandeng si Boss benar-benar Adista.
"Tidak menyangka Boss benar-benar menikahi Adista," kata beberapa staff di sana.
Sebelumnya juga rekaman video sudah diputar kala Raka mengucapkan Akad dengan Adista, tertera tiga bulan yang lalu. Artinya memang Bossnya itu sudah menikah dan memilih tidak mempublikasikannya sama sekali. Begitu juga Adista yang tidak bersikap berlebihan walau sejak tiga bulan yang lalu dia sudah menjadi istri Boss.
Setelah di pelaminan, ada beberapa prosesi yang dilangsungkan. Bahkan ada ala-ala memotong kue juga. Adista malahan malu jadinya.
"Malu loh, Mas."
"Sama, tapi biar aja. Sekali seumur hidup," balas Raka.
"Baru kali ini lihat Mr. Raka tersenyum, ternyata bisa tersenyum sama istrinya sendiri."
Lalu, terdengan suara MC yang mengatakan prosesi selanjutnya adalah Wedding Kiss. Sebenarnya, Adista menolak, dia terlalu malu dengan resepsi seperti ini. Akan tetapi, Raka faktanya tak menolak sama sekali.
Suasana di Ballroom pun menjadi hening, hanya lampu yang terfokus kepada Raka dan Adista. Sementara Adista tampak malu-malu di sana. Kalau dicium suaminya hanya berdua saja, Adista tak keberatan, tapi kalau dalam suasana seperti ini sangat malu.
Raka mendekat, kedua tangannya melingkari pinggang istrinya. Setelah itu, Raka menundukkan wajahnya dan mengecup bibir istrinya. Untuk beberapa detik bibir itu masih menempel satu sama lain. Hingga Raka mengurai wajahnya.
"I Love U," katanya.
"I Love U, too Mas Raka."
Raka menambahkan satu kecupan di kening untuk istrinya itu. Raka benar-benar bahagia. Memang inilah yang dia mau, bahwa orang-orang tidak akan berspekulasi negatif lagi, melainkan melihat Adista sebagai satu-satunya yang dia cintai.
Walau di antara tamu undangan di sana ada yang teriris perih hatinya. Wanita cantik yang menunduk lesu. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa Raka menambatkan hatinya kepada wanita biasa saja, bahkan dari kalangan yang tidak selevel dengan Raka, yaitu Adista.
"Kamu sengaja melukai aku, Ka," gumamnya dengan rasa sakit di hatinya.
Sementara seorang pemuda yang kala itu mengenakan setelan jas juga tampak kesal melihat kakaknya sendiri yang terlihat jelas sebahagia ini. Ya, dia adalah Rayyan. Pemuda itu kesal kala Wedding Kiss dilakukan.
"Tak seharusnya seperti ini, Kak," katanya dengan lirih.
Rayyan kembali menatap luruh ke depan. Hatinya bagai dicabik-cabik melihat wanita yang dia cintai, benar-benar sudah menjadi milik kakaknya sendiri. Seakan semesta tak merestui dan juga menutup peluang untuknya.
"Kamu juga justru menggarami luka di hatiku yang masih menganga, Ta. Sangat sukar rasanya melihat kamu bahagia seperti ini," aku Rayyan.
Setelah beberapa saat berlalu, mulailah para undangan berfoto bersama dan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Sementara, Rayyan memilih menjauh. Hatinya belum bisa menerima, dalam angannya dia masih ingin memiliki Adista. Akan tetapi, bagaimana lagi kalau Adista sudah menjadi istri kakaknya. Yang pasti Raka pun juga tidak akan melepaskan Adista.
"Sakit, Ray?" tanya Natasha yang kini Rayyan yang berdiri di sisinya.
"Sama sepertimu kan, Kak Nat?" balas Rayyan.
"Kupikir Raka adalah pria yang tidak mudah jatuh cinta. Aku datang dari Paris untuk memenangkan kembali hati Raka. Sayangnya, aku terlambat. Dia sudah menemukan cinta yang baru, dia sudah berbahagia dengannya," kata Natasha.
"Aku juga tidak tahu jika kakakku nyatanya justru menikahi kekasihku sendiri. Ingin marah, meluapkannya saja tidak bisa. Terlebih Dista sudah mengakui dia mencintai Kak Raka."
Jika ada dua orang yang tak berbahagia di Wedding Reception itu adalah Natasha dan Rayyan. Keduanya seolah-olah terluka dengan kebahagiaan Raka dan Adista. Hati yang belum bisa menerima, dan ada rasa tidak bisa mengikhlaskan untuk semua yang terjadi.