
Selang beberapa hari kemudian, Adista sudah diperbolehkan untuk kembali bekerja. Tentu saja Bu Linda dan beberapa orang di bagian office bertanya-tanya apa yang membuat Adista sampai sakit dan mengambil cuti hingga dua hari. Sebab, biasanya Adista jarang sakit. Kalau cuti, pastilah karena Adista menunggu adiknya sendiri yang dulu sering cuci darah.
"Kamu sakit apa, Dista? Tumben, biasanya sehat dan bugar banget. Bulan lalu, kamu juga pingsan loh di hotel," kata Bu Linda.
"Sama seperti kemarin, Bu. Makanya istirahat terlebih dahulu," balas Adista.
"Oke. Bekerjanya tidak usah capek-capek. Jaga kesehatan," kata Bu Linda.
Setelah itu, Adista fokus untuk bekerja menyelesaikan bagian pekerjaannya yang dua hari tidak dikerjakan karena dia cuti. Rasanya baru saja duduk, tapi Adista sudah menyelesaikan setengah hari untuk bekerja. Kala hendak keluar untuk makan siang, Adista yang hendak keluar dari Lobby justru berpapasan dengan Rayyan di sana.
Melihat Adista, Rayyan pun bergegas mengejar Adista dan mengajaknya berbicara.
"Tata," panggil Rayyan.
Praktis beberapa staf di sana melihat Rayyan dan Adista. Bahkan muncul spekulasi bahwa mungkin saja Adista teman atau mungkin pacar dari putra bungsu pemilik La Plazza Hotel. Tatapan beberapa staf yang lain membuat Adista merasa tidak nyaman.
"Ray, untuk apa kamu ke sini?" tanya Adista.
Segelincir staff yang mendengar bahwa Adista berbicara tak formal pun menjadi perbincangan tersendiri. Hingga akhirnya ada beberapa staff yang berbicara dengan Adista.
"Dista, kalau begitu kami makan duluan yah."
Adista menganggukkan kepalanya. Kemudian Adista menatap Rayyan yang kini berada di hadapannya. Rayyan kemudian mengajak Adista ke kafe yang jaraknya beberapa meter dari La Plazza, tujuannya adalah untuk mengajak Adista berbicara. Walau Adista sudah menolak, tapi Rayyan mengiba dan meminta waktu sepuluh hingga lima belas menit saja.
"Kenapa Ray?" tanya Adista yang kini duduk berhadap-hadapan dengan Rayyan.
"Ta, seingatku ... dulu kita pernah memiliki janji satu sama lain. Kamu akan menungguku sampai aku menyelesaikan kuliahku di London. Namun, kenapa kamu justru ingkar janji, Ta? Aku mulai menemukan memori-memori lama. Walau tidak semuanya," tanya Rayyan.
"Sekarang, aku tidak memiliki alasan apa pun, Ray. Jawabannya hanya satu, aku mencintai Mas Ra ...."
Belum sepenuhnya ucapan Adista lengkap, Rayyan sudah memotongnya terlebih dahulu.
"Setahuku, kakakku tak akan pernah mencintaimu, Ta. Kamu hanya sebagai pelariannya saja. Tanyakan kepada Kakaku, siapa Natasha itu," kata Rayyan sekarang.
Adista mengernyitkan keningnya. Jujur saja dia merasa bingung. Siapa Natasha itu? Sebab, sebelumnya Raka tak pernah membicarakan perihal mantannya kepadanya. Namun, di saat bersamaan Adista teringat dengan ucapan Raka di Lombok dulu.
Kalau kamu mendengarkan sesuatu tentang masa laluku, jangan langsung mempercayainya. Tanyakan terlebih dahulu kepadaku.
Mengambil napas dalam-dalam, Adista kemudian menundukkan wajahnya sejenak. Dia harus percaya kepada suaminya sendiri. Walau nanti tentulah Adista akan bertanya kepada Raka.
"Kamu tidak tahu semuanya kan? Masa lalunya? Sayang sekali, Ta. Kamu hanya menjadi pelarian untuk Kakakku itu."
"Aku memang tak tahu apa pun, Ray. Akan tetapi, aku selalu memiliki keyakinan kepada Suamiku."
Usai mengatakan itu, Adista memilih berdiri dan pergi. Bohong kalau dia tidak terpengaruh apa pun. Akan tetapi, Adista berusaha tenang dan tidak stress. Dia harus menjaga buah hati yang sekarang ada di dalam rahimnya.
...🍀🍀🍀...
Ketika Malam tiba ....
Raka sekarang mengecek tablet miliknya. Sementara Adista memilih gabut sendiri di sofa. Sebab, Raka kalau sedang bekerja dia akan diam dan fokus. Adista memilih tenang juga, tidak mengganggu suaminya itu.
Hingga akhirnya, Raka menyelesaikan pekerjaannya dan menyusul Adista yang sekarang duduk di sofa.
"Kamu ngapain?" tanya Raka.
"Gak ngapa-ngapain," balas Adista dengan menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Kamu tadi bertemu Rayyan yah waktu jelang makan siang?" tanya Raka lagi.
"Iya, aku bertemu dengan Rayyan."
"Kamu berbeda, Yang. Ada apa?" tanya Raka.
Adista melirik sekilas suaminya itu. Bukan berbeda. Akan tetapi, ada sesuatu yang perlu Adista tanyanya ke suaminya sekarang.
"Mas, boleh bertanya?" tanya Adista.
"Boleh, tentu saja boleh."
"Siapa itu Natasha, Mas?" tanya Adista sekarang.
Mendengar nama Natasha, Raka menghela napas panjang. Akhirnya, nama itu disebutkan kembali. Nama seseorang yang dulunya pernah mewarnai hidup Raka.
"Dari Rayyan?" tanya Raka.
"Iya, Rayyan yang mengatakannya," jawab Adista.
"Dia hanyalah masa lalu, Yang. Seseorang yang pernah mengisi hariku. Sampai akhirnya, aku pergi ke Luar Negeri dan tidak pernah bertemu lagi dengannya."
"Mas Raka mencintainya?" tanya Adista.
Jujur, hatinya Adista merasa sesak kali menanyakan hal ini kepada Raka. Sebab, memang sejauh ini Adista tak pernah mendengar sosok wanita di dalam hidup suaminya. Sementara Adista juga jujur bahwa dulu dia memiliki hubungan dengan Rayyan dulu.
"Dulu, sejak ketemu kamu, tidak lagi."
"Ceritakan siapa dia, Mas," pinta Adista.
Dengan berat hati Raka kemudian menceritakan hal itu. Daripada nanti istrinya justru ngambek dengannya.
"Dia gadis yang kucintai di masa SMA dulu. Gadis yang pintar, kerja keras, dan cantik. Namun, setelah kelulusan SMA, aku mendengar dia bertunangan dengan putra pengusaha. Sementara aku ke luar negeri, ke Amerika. Hanya kisah cinta yang lara," cerita Raka.
"Lalu, apakah aku hanya sebagai pelampiasan?" tanya Adista.
Dengan cepat Raka menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ada kata menjadikan kamu pelampiasan. Kamu yang aku suka," balas Raka.
"Benarkah?"
"Benar. Aku berkata jujur. Aku tak pernah main-main dengan cintaku."
"Kalau suatu saat ketemu Natasha lagi?" tanya Adista.
"Biasa saja. Kamu takut?" tanya Raka.
Adista terdiam. Ada kalanya sikap Raka seperti ini yang membuat Adista merasa suaminya bagaimana gitu. Raka mengangkat dagu istrinya, dia membawa arah pandang Adista hanya tertuju kepadanya.
"Sejak aku jatuh hati ke kamu, tidak pernah ada nama lain. Tidak pernah ada wanita lain. Percayai aku," kata Raka.
"Mas, bisa kupercaya?" tanya Adista.
"Tentu, sangat bisa. Jangan takut, hati, cinta, bahkan tubuhku hanya milik kamu. Tidak ada lagi Natasha. Kamu bukan pelampiasan, tapi kamu tempatku berlabuh untuk selamanya," kata Raka dengan sungguh-sungguh.
Adista menatap manik mata suaminya. Apa yang diucapkan suaminya itu begitu sungguh-sungguh. Adista akan sangat senang mengetahui kalau memang dia bukan pelampiasan untuk. suami. Semua wanita ingin dicintai, dan Adista ingin mendapatkan sepenuh cinta dan sepenuh hati dari suaminya.
"Promise, i just love you, Adista," kata Raka.
"Aku akan berusaha mempercayai kamu," balas Adista.
"Makasih, aku akan buktikan."
Raka sendiri juga sangat bersungguh-sungguh. Dia sudah mengakui bahwa hanya Adista dan tidak pernah akan ada yang lain. Sepenuh hati dan cintanya hanya untuk Adista seorang.