
Dari bandara Raka mengemudikan mobilnya menuju ke apartemennya. Sepanjang perjalanan, Raka tidak banyak bertanya kepada istrinya. Dia tahu bahwa Adista juga pastilah sedih. Namun, ini adalah kondisi yang harus dijalani.
Turun dari mobil yang kini telah terparkir di parkiran basement, keduanya berjalan menuju unit mereka. Kali ini, Raka menautkan tangannya dengan menggenggam tangan Adista. Dalam sepekan belakangan, Adista sudah tak lagi menolak ketika suaminya itu menggenggam tangannya atau membuat tanda merah di lehernya. Adista hanya berusaha beradaptasi dan bisa membiasakan diri dengan suaminya.
Begitu sudah masuk ke dalam unit. Raka segera memeluk Adista. Raka tahu bahwa yang patah hati bukan hanya Rayyan, tapi juga istrinya sendiri.
"Pak Raka ...."
"Aku tahu, kamu juga sedih karena Rayyan. Aku hanya berusaha menyembuhkan lukamu," kata Raka.
"Aku perlahan sudah membaik," balas Adista.
Itu adalah pengakuan Adista. Dia merasa sudah membaik. Sudah bisa perlahan menerima takdirnya. Semua itu hadir tidak dengan serta-merta melainkan karena Adista melihat sisi demi sisi sosok Raka yang memang baik.
Dari kebaikan Raka dengan keluarganya, yang sopan kepada Bapak dan Ibunya, serta Raka menunjukkan ketulusan kepada Desta itu menjadi penilaian sendiri untuk Adista. Bahkan, ketika dirinya memang belum siap, Raka juga tidak bertindak melewati batas. Senaik apa pun hasrat di hatinya, tapi Raka tidak berusaha untuk melewati batas.
"Aku hanya memelukmu saja," kata Raka.
Itu adalah perkataan serius dari Raka, dia tidak akan melakukan hal yang lebih. Dia bahkan kini beralih, yang semula mendekap Adista dari belakang, sekarang memeluk Adista dengan posisi saling berhadap-hadapan. Oleh karena itu, Raka seakan memberikan kepastian bahwa Adista tak perlu takut kepada dirinya. Raka juga cukup senang karena Adista membalas pelukannya. Bahkan sekarang, tidak ada air mata yang membasahi wajah Adista.
"Kalau kamu butuh teman untuk bercerita, cerita saja kepadaku. Aku akan mendengarkanmu. Kamu patah hati?" tanya Raka lagi.
"Tidak begitu, aku sejak dari Lombok berusaha melupakan Rayyan. Hanya saja, aku menjadi shock melihat Rayyan yang datang saat pernikahan kita. Aku menjadi butuh waktu lagi, terlebih mengubah hubungan dari yang dulu kini menjadi ipar," balas Adista.
Ada anggukan samar seorang Raka, dia memahami perasaan Adista. Mungkin wanita lain juga akan merasakan apa yang Adista alami. Oleh karena itu, Raka berusaha memahami perasaan istrinya. Mungkin dengan cara inilah, Raka tengah berusaha untuk menyembuhkan luka Adista.
"Kamu sungguh-sungguh?" tanya Raka.
"Iya, aku akan bersungguh-sungguh."
"Syukurlah," balas Raka.
Mengurai sesaat pelukannya, ada senyuman yang tercetak jelas di wajah Raka. Mendengarkan bahwa Adista sudah berusaha melupakan perasaannya saja membuat Raka begitu senang. Selain itu, Raka menunduk sesaat, dia kecup kening dan ujung hidung Adista. Sedikit turun dan dia kecup dagu Adista.
Lagi-lagi Adista tak menolak. Walau begitu, Adista masih membuka di tempatnya. Tidak ada penolakan, tapi Adista terkadang bingung mendeskripsikan perasaan melalui setiap sentuhan dari suaminya itu.
"Kenapa Pak Raka suka menyentuhku?" tanya Adista. Wanita itu berusaha menatap wajah suaminya. Mencari arti dan jawaban yang akan disampaikan suaminya.
"Aku menyukainya. Aku cinta kamu, Dista," aku Raka sekarang.
Jadi, selama ini Raka mencintainya? Sejak kapan, kenapa kala pertama kali bertemu Adista selalu mengira Bossnya itu mesum dan arogan. Terlebih tatap muka pertama dan Bossnya itu mengajak Staycation bersama.
"Cinta?" tanya Adista.
"Iya, kamu tak percaya?" tanya Raka.
Adista mengedikkan bahunya, dia tidak bisa menilai. Hubungan dengan Raka terlalu pelik. Selain itu, berakhir dengan petaka di Lombok membuat Adista merasa mungkin yang dimiliki pria itu hanya sekadar hasrat belaka.
"Aku mencintaimu, Dista. Mungkin caraku salah, tapi selebihnya yang kutunjukkan adalah bukti cinta. Membantumu, operasi Desta, mengangkat menjadi pegawai tetap. Semua itu adalah bukti cintaku. Aku bukan pria yang bisa merangkai kata, karena aku bukan pujangga. Akan tetapi, aku menunjukkannya dengan tindakanku," aku Raka lagi.
"Kenapa tersenyum?" tanya Raka.
"Tidak apa-apa," balas Adista.
"Hatimu masih terluka dan sakit enggak karena Rayyan?" tanya Raka.
"Sudah tidak terlalu. Aku belajar membereskan hatiku," jawab Adista.
Raka merasa lega, penantiannya tidak sia-sia karena Adista benar-benar berusaha dan belajar membereskan hatinya. Oleh karena itu, Raka merasa sinar itu mulai tampak di dalam kehidupan pernikahannya dengan Adista.
"So, ketika kamu siap. Kita Staycation bersama."
"Kalau kita sama-sama cuti bisa menimbulkan kecurigaan staff di hotel Pak Raka," balas Adista.
"Resign saja. Aku istri pemilik hotel itu. Jadi, kamu tidak perlu bekerja lagi bukan?" tanya Raka.
Apa yang Raka sampaikan karena Adista adalah istri Boss Besar. Dia tidak perlu lagi bekerja keras. Toh, Raka akan bertanggung jawab atas Adista. Raka akan menafkahi Adista juga.
"Aku masih butuh bekerja, Pak Raka. Aku masih ingin membantu keluargaku," balas Adista.
"Aku bisa bertanggung jawab atas semuanya," kata Raka.
Adista menggelengkan kepalanya. "Jangan Pak. Itu memberatkan Pak Raka. Aku ingin bisa memberi keluarga dari penghasilanku sendiri. Membantu untuk sekolahnya Desta nanti," kata Adista.
"Tidak berat, Dista. Aku malahan senang ketika kamu melibatkan aku," balas Raka.
"Apa kita akan berdiri seperti ini terus?" tanya Adista.
"Baiklah, kita duduk."
Raka mengajak Adista untuk duduk di sofa. Pria itu masih menempel dengan Adista, merangkul istrinya itu. Ada kalanya satu tangannya mengusapi puncak kepala Adista di sana.
"Jadi, Rayyan sudah sepenuhnya berlalu dari hatimu?" tanya Raka.
"Jika 100% belum. 80% ada. Baru juga beberapa pekan, Pak Raka," balas Adista.
Mendengar jawaban Adista, Raka tersenyum lagi. Jika progressnya sudah sampai 80% itu bagus adanya. Lagipula, baru dua pekan berlalu. Raka kian senang rasanya.
"Tidak harus 100% tidak apa-apa. Kan ubah sisanya menjadi kasih sayang keluarga. Dia adalah adikmu sekarang. Adik ipar, yang penting jangan pernah terpesona kepadanya lagi," kata Raka.
Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, tidak akan terpesona ke adik ipar," balasnya.
"Bagus. Syukurlah, aku bersyukur rasanya. Jadi gimana, mau Staycation denganku?"
Halo Reader,
Staycation jilid 2 enggak ini? Apa cukup di apartemen saja? 😆😁