Staycation With Boss

Staycation With Boss
Di Tepi Pantai



Menjelang sore hari, supaya tidak mengurung Adista di dalam kamar, Raka mengajak istrinya itu untuk berjalan-jalan di tepi pantai. Lagipula, pantai itu berada di depan mata. Tak membutuhkan perjalanan jauh sehingga Raka mengajak Adista untuk berjalan-jalan sore di tepi pantai.


"Kita nikmati kegiatan Staycation kita, jalan-jalan di tepi pantai," kata Raka.


Dengan tanpa mengenakan alas kaki, keduanya menapaki pasir di sana. Telapak kaki mereka bisa merasakan pasir, dan ombak yang menyapa. Adista tersenyum mana kala merasakan ombak yang tenang menyapa kakinya.


"Senang?" tanya Raka.


"Iya, daripada dikurung Mas Raka di kamar terus," balas Adista.


"Bukan mengurungmu, kan kegiatan honeymoon gak akan jauh-jauh dari ranjang. Biasa, pengantin baru," jawab Raka.


Lagi-lagi jawaban terkesan frontal dari Raka membuat Adista geleng kepala dengan suaminya itu. Namun, Adista juga akan membiasakan diri dengan karakter mau pun cara berbicara suaminya. Dalam pernikahan, tidak mudah menyatukan dua karakter. Akan tetapi, dengan saling memahami satu sama lain pastilah bisa menyesuaikan diri. Proses adaptasi terlama dalam hidup manusia adalah beradaptasi dengan pasangannya. Oleh karena itu, ketika Adista memutuskan untuk menerima Raka, maka Adista juga bersedia untuk beradaptasi dengan karakter suaminya itu.


"Cara bicara kamu memang seperti itu ya Mas?" tanya Adista.


"Ya memang seperti ini. Kamu tidak suka yah? Kamu suka pria seperti Rayyan?" balas Raka.


Adista menggelengkan kepalanya. Namun, jika memperbandingkan Papa Zaid itu lebih lembut, Rayyan juga biasa saja, sementara Raka terkesan spontanitas dan to the point. Ya, benar-benar tanpa basa-basi ketika berbicara.


"Aku kan hanya bertanya, bukan bermaksud meminta kamu seperti Rayyan. Seudzon banget sih," balas Adista.


Usai itu, Adista memilih duduk di tepian pantai. Namun, barusan Adista berkata jujur bahwa dia tidak meminta Raka seperti Rayyan. Adista bisa melihat dan menerima Raka adalah Raka, bukan Rayyan.


Raka kemudian menyusul istrinya yang duduk di bawah pohon kelapa, sedikit menjauh dengan bibir pantai. Kemudian Raka mendekati Adista. Kalau tidak segera diselesaikan bisa terjadi salah paham.


"Marah?" tanya Raka.


"Enggak, sebal aja," balas Adista.


"Aku memang seperti ini. Berbeda dengan Rayyan," kata Raka kemudian.


Adista menunduk sesaat. Dia menghela napas beberapa kali, setelahnya Adista berbicara kepada suaminya itu. "Kamu itu kalau berbicara tanpa basa-basi, tergolong langsung gitu. Gak kayak orang Indonesia kebanyakan. Maksudku itu. Bukan memperbandingkan kamu dan Rayyan. Toh, aku juga tidak pernah berharap kamu akan seperti Rayyan. Bukankah kalau mencintai itu akan menerima apa adanya? Tidak memaksakan diri menjadi seperti orang lain?"


Sekarang Adista pun berusaha menyampaikan isi hatinya. Dia hanya menilai cara berbicara Raka yang spontan dan tanpa basa-basi berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Adista juga mengatakan bahwa ketika mencintai seseorang harus menerima apa adanya. Tidak perlu memaksakan untuk menjadi seperti orang lain. Itulah yang Adista maksud.


"Oh, begitu ... aku pikir kamu menginginkan aku seperti Rayyan," balas Raka.


"Enggak, jadilah seperti Pak Raka seperti biasanya. Aku tidak mengharapkan kamu menjadi seperti Rayyan, Papa Zaid, atau yang lainnya. Aku akan beradaptasi dengan Pak Raka itu, dengan karakter dan sifatnya juga," balas Adista.


Hilang sudah salah paham. Raka sekarang tersenyum. Hatinya menjadi hangat mana kala mendengar Adista yang mau beradaptasi dengan sifat dan karakternya. Raka juga merasa bahwa dia tidak harus menjadi orang lain untuk bisa dicintai Adista.


"Sorry, aku salah paham. Aku pikir, kamu memintaku untuk menjadi seperti Rayyan," balas Raka.


"Aku tidak akan pernah meminta demikian," balas Adista.


"Maaf yah," kata Raka sekarang dengan lebih lembut.


"Iya, tidak apa-apa."


"Kamu menerimaku apa adanya? Termasuk bisa menerima masa laluku?" tanya Raka kemudian.


Adista menatap sesaat suaminya itu. Jujur, Adista tak tahu seperti apa masa lalu suaminya. Yang Adista tahu bahwa suaminya itu adalah orang kaya dan dulunya menempuh pendidikan di Amerika. Selebihnya, tidak banyak yang Adista ketahui mengenai masa lalu suaminya itu.


"Masa lalu Mas Raka seperti apa?" tanya Adista.


"Ya, cerita saja. Kalau memang mau saling menerima ya jujur dari sekarang. Sama sepertiku yang sejak awal jujur bahwa aku memiliki pacar. Tidak menyangka ternyata pacarku itu adikmu," balas Adista.


"Tidak ada. Aku seperti ini adanya," balas Raka.


"Baiklah, kalau memang ada yang ingin diceritakan ya diceritakan saja. Aku akan berusaha untuk menerimanya, selama aku bisa," kata Adista sekarang.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. Itu artinya memang Adista sungguh-sungguh dengannya. Raka menjadi lega karena istrinya itu terlihat sangat bersungguh-sungguh.


"Makasih, Sayang. Lain kali kalau mendengarkan sesuatu tentang aku jangan langsung percaya yah. Tanyakan semuanya kepadaku terlebih dahulu," kata Raka.


"Iya, Mas. Mungkinkah ada masa lalu yang sengaja ditutupi?" tanya Adista.


"Tidak ada sama sekali. Tidak ada yang menarik dari hidupku. Jadi, ya tidak ada yang sedang aku tutupi."


Raka menegaskan demikian. Dia merasa bahwa kehidupannya sama sekali tidak menarik. Oleh karena itu, Raka juga merasa tidak menutupi apa pun dari Adista.


Setelah itu Adista menganggukkan kepalanya. Dia akan mengingat-ingat pesan dari suaminya. Suatu saat jika dia mendengar kabar yang kurang baik, Adista akan menanyakannya terlebih dahulu kepada suaminya. Mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Sementara itu di satu sisi Adista juga berharap bahwa suaminya akan bisa selalu berkata jujur dengannya.


"Mas, di sini sembari menunggu senja mau?" tanya Adista.


"Mau-mau saja kok," balas Raka.


Adista tersenyum sekarang memang dia ingin melihat Senja di pesisir pantai. Terlebih di Lombok memiliki beberapa spot untuk melihat senja yang indah. Oleh karena itu, Adista juga ingin melihat senja itu.


"Kita jalan-jalan lagi yuk," ajak Raka.


Pria itu mengulurkan tangannya kepada Adista. Dia ingin mengajak Adista ber jalan-jalan di pesisir pantai. Bergulung-gulung di pantai pun Raka tak keberatan sebenarnya, tapi Adista pastilah yang keberatan.


Menyisir pesisir pantai, Raka tampak merangkul pinggang Adista. Sementara Adista sendiri merasa suaminya itu jika tengah memeluk atau merangkulnya terlihat begitu posesif.


"Kamu suka menikmati senja?" tanya Raka.


"Suka, tapi ini kali pertama aku menikmati senja di pesisir pantai," balas Adista.


"Aku akan sering-sering mengajakmu Staycation bersama supaya kamu bisa menikmati senja yang indah," kata Raka sekarang.


"Tidak usah, Mas. Utamakan bekerja. Toh, bagaimana pun senja terlihat indah di mana saja. Bersama orang yang tepat, senja terlihat indah," balas Adista.


"Kamu berbicara manis sekali," balas Raka.


"Tidak juga, aku hanya berusaha menjadi diriku sendiri," balas Adista.


Raka memeluk Adista dengan begitu erat, setelah itu Raka menundukkan wajahnya dan dia jatuhkan beberapa kecupan di bibir Adista.


"Makasih Dista sudah hadir di hidupku. Makasih sudah menunjukkan kesungguhan untuk membina rumah tangga bersamaku."


"Sama-sama, Mas. PR-ku masih banyak, aku akan melakukannya perlahan-lahan, tolong sabar denganku," balas Adista.


"Pasti akan bersabar. Belajar mencintaiku yah," pinta Raka.


"Iya, Mas. Aku akan berusaha."


Adista tersenyum dan mencerukkan wajahnya ke dada suaminya. Sekarang Adista akan belajar untuk mencintai suaminya. Adista yakin perlahan-lahan perasaan itu juga akan tumbuh. Dia hanya perlu waktu dan kian terbiasa dengan suaminya saja.