Staycation With Boss

Staycation With Boss
Kembali ke Jakarta



Sementara itu di London ....


Jika ada satu kata yang bisa mengungkapkan perasaan Mama Erina dan Papa Zaid sekarang ini adalah ketenangan. Di London ini, suasana kota dan stabilitas keamanan jauh lebih kondusif. Sehingga, ada rasa tenang ketika Raline memilih melanjutkan kuliah di London. Semua urusan studi Raline sudah selesai. Oleh karena itu, Mama Erina dan Papa Zaid berpikir untuk bergegas kembali ke Jakarta. Keduanya memikirkan untuk menggelar Tasyukuran untuk kehamilan Adista.


Bahkan sekarang Raline dan Eiffel sudah masuk kuliah. Sehingga Mama Erina dan Papa Zaid lebih santai di apartemen. Sedangkan Rayyan tengah izin keluar sebentar. Saat itu, terdengar ketukan di pintu unit Raline, ketika Mama Erina membukanya ternyata adalah Mama Sara dan Papa Belva yang datang.


"Baru ngapain?" tanya Mama Sara.


"Nyantai saja, Jeng. Mau ngapain juga. Anak-anak baru kuliah," balas Mama Erina.


"Kita ke kedai kopi yang di bawah itu yuk?" ajak Mama Sara.


Akhirnya dua pasangan paruh baya itu keluar dari unit dan bersama-sama menuju ke kedai kopi yang berada di seberang unit ini. Menikmati kopi dan English Breakfast di kedai kopi itu.


"Rayyan gak ikutan?" tanya Papa Belva.


"Dia baru jogging katanya. Mau olahraga, sejak di Paris enggak olahraga," balas Papa Zaid.


"Paris kondisinya baru seperti itu, tidak memungkinkan untuk work out. Aku saja khawatir waktu anak-anak keluar ke mini market," aku Papa Zaid sekarang.


Papa Belva kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, benar. Aku dulu sampai ngobrol nih sama Istri, ketenangan dan keromantisan Paris seakan hilang. Sekarang sampah di mana-mana, juga aksi demonstrasi yang terjadi. Dulu, kami berjalan santai menyusuri Sungai Rheine. Akan tetapi, sekarang sebatas keluar rumah saja merasa tidak nyaman."


Itu adalah perasaan yang jujur. Sebab, Papa Belva memang merasakan demikian. Papa Zaid dan Mama Erina juga menyetujui hal itu. Ketika berada di Paris dulu rasanya tidak nyaman. Sekarang berada di London rasanya lebih kondusif.


"Kami akan segera kembali ke Jakarta. Paling tidak lusa," kata Papa Zaid kemudian kepada kawannya itu.


"Cepat sekali? Bukankah bisnis perhotelan sudah dikerjakan Raka?" tanya Papa Belva.


"Memang Raka sudah menghandle La Plazza dengan sangat baik, tapi menantu kami sedang hamil sekarang. Kami berpikir untuk pulang dan menyiapkan Tasyukuran untuk menantu kami," kata Papa Zaid lagi.


"Oh, istrinya Raka sedang hamil sekarang?" tanya Papa Belva lagi.


"Iya, nanti kalau sudah di Jakarta, datang yah. Biar mengenal Raka dan istrinya," kata Papa Zaid.


Mama Sara dan Papa Belva kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh, ditunggu undangannya. Kami mungkin menghabiskan sepekan di London. Ingin jalan-jalan dan belanja untuk cucu," kata Mama Sara.


"Bulan madu kedua, Jeng," balas Mama Erina.


"Malu sama anak dan menantu kalau Mama dan Papanya yang bulan madu terus," balas Mama Sara dengan bijak.


"Tidak apa-apa, Jeng. Anak-anak itu akan belajar mengenai keharmonisan pasangan suami dan istri dari orang tuanya sendiri. Itu yang aku harapkan ke Raka yah. Apalagi Raka itu pendiam gitu, ternyata dia sangat sayang ke istrinya. Raka itu copy-annya Papanya waktu muda," cerita Mama Erina.


Seolah ada curhatan dari Mama Erina bahwa putra sulungnya yaitu Raka adalah sosok yang pendiam dan tidak banyak menunjukkan ekspresi. Namun, Raka sendiri berhasil menjadi suami yang begitu menyayangi istrinya. Karakter Raka itu mengingatkan Mama Erina pada Papa Zaid waktu muda dulu.


"Senang yah kalau anak-anak kita memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia," balas Mama Sara.


Kedua pasangan itu sama-sama menganggukkan kepalanya. Setelah menjadi orang tua, rasanya kehidupan pernikahan anak-anak bahagia saja sudah menentramkan hati orang tua. Seakan memperpanjang usia kedua orang tua.


...🍀🍀🍀...


Lusa Kemudian ....


Sekarang Papa Zaid dan Mama Erina benar-benar akan kembali ke Jakarta. Ada Raline yang turut mengantarkan kedua orang tuanya ke bandara. Selain itu banyak nasihat yang Mama Erina berikan kepada putri tunggalnya itu.


"Selesaikan kuliahmu yah, Line. Hati-hati selama tinggal di London. Jaga diri baik-baik," pesan Mama Erina.


"Iya, siap, Ma. Raline juga tenang karena ada Eiffel di sini, sahabatnya Raline. Juga, kondisi London yang lebih aman," balas Raline.


"Walau aman, tetap hati-hati, Line. London tidak sama dengan Jakarta. Di mana pun berada selalu menjaga diri," imbuh Papa Zaid.


"Siap Papa. Raline akan selalu menjaga diri. Kan dua bulan lagi Rayyan juga menyusul ke London. Raline punya bodyguard kan?" balasnya dengan tertawa.


Yang disampaikan oleh Raline benar bahwa dua bulan lagi Rayyan akan menyusul ke London. Tinggal menyelesaikan beberapa kali pemeriksaan saja di Jakarta, dan setelahnya Rayyan akan kembali ke London lagi. Rayyan sudah memutuskan hal itu dan berharap di London, Rayyan akan semakin membaik.


"Masih dua bulan, Kak," balas Rayyan.


"Tidak apa-apa. Kakak tunggu. Tenang saja, kalau semisal bisa lebih cepat juga jauh lebih baik, Ray."


Raline mengatakan itu karena sesungguhnya Raline mendukung saja kalau Rayyan akan membuka hatinya dan mendekati sahabatnya, Eiffel. Menurut Raline juga bahwa London akan jauh lebih baik untuk menyembuhkan luka di dalam hati Rayyan. Sudah sangatnya untuk move on, terlebih Rayyan juga tidak lama akan menjadi Om juga kalau anak Kak Raka dan Adista lahir.


"Siap, Kak. Nanti kalau hasil pemeriksaan dari Rumah Sakit dan advice dari Dokter Sonny sudah semuanya baik, aku akan segera ke London," balas Rayyan


Mama Erina dan Papa Zaid tersenyum. Keduanya sangat senang sekali ketika anak-anaknya bisa saling mendukung seperti ini. Semoga saja Rayyan benar-benar membaik dan bisa segera melanjutkan studinya yang tertunda di London.